Makin Menegangkan, Tanggapi NATO, Pasukan Nuklir Rusia Bersiaga Tinggi

0
319

Moskow, LiputanIslam.com –   Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan pasukan deterensi nuklirnya dalam  status”siaga tinggi menyusul adanya pernyataan agresif dari Eropa dan negara anggota terkemuka NATO.

“Pejabat tinggi negara-negara NATO terkemuka memanjakan diri dalam membuat pernyataan agresif tentang negara kita. Karena itu, saya memerintahkan menteri pertahanan dan kepala staf umum untuk menempatkan pasukan pencegahan tentara Rusia ke dalam mode tugas tempur khusus,” kata Putin dalam sebuah briefing, Ahad (27/2).

Sehari sebelumnya, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya mengaku akan mempercepat persenjataan dan bantuan militer lainnya untuk membantu Ukraina melawan invasi pasukan Rusia.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss menyatakan bahwa jika operasi militer Rusia di Ukraina tidak “dihentikan” maka dapat menyulut konflik dengan NATO.

“Jika kita tidak menghentikan Putin di Ukraina, kita akan melihat negara-negara lain berada di bawah ancaman: Baltik, Polandia, Moldova. Dan itu bisa berakhir dalam konflik dengan NATO,” kata Truss, Ahad.

NATO telah meningkatkan perang verbal terhadap Rusia sejak Kamis, ketika Putin mengumumkan “operasi militer khusus” dengan dalih untuk “demiliterisasi” Republik Donetsk dan Lugansk di Ukraina timur.

Dua wilayah itu memisahkan diri dari Ukraina pada tahun 2014 setelah menolak  mengakui pemerintah Ukraina pro-Barat yang telah menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bersahabat dengan Rusia dan dipilih secara demokratis.

Lebih dari 14.000 orang tewas sejauh ini di seluruh wilayah itu akibat dari konflik yang terjadi antara militer Ukraina dan separatis pro-Rusia.

Mengumumkan operasi tersebut, Putin mengatakan misi itu bertujuan “membela orang-orang yang selama delapan tahun terdera penganiayaan dan genosida oleh rezim Kiev.” (mm/presstv)

Baca juga:

Presiden Ukraina Tolak Berunding, Tentara Rusia Gempur dari Semua Arah Dekati Kiev

Seperti Diduga, Rusia Veto Draft Resolusi terkait Krisis Ukraina

DISKUSI: