70% Warga AS Khawatir Krisis Ukraina Picu Perang Nuklir

0
299

Washington, LiputanIslam.com   Hampir 70% warga negara Amerika Serikat (AS) khawatir krisis Rusia-Ukraina dapat memicu perang nuklir, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA).

Survei ini dilakukan di tengah merebaknya kekhawatiran global atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan yang berpotensi memicu perang global antara AS dan China, karena Beijing telah memperingatkan bahwa kunjungan ini akan mendapat tanggapan tegas.

Media China memperkirakan bahwa tanggapannya akan berupa aksi militer, sementara militer AS bersiap untuk mengirim pasukan untuk mengawal kunjungan yang akan dilakukan Pelosi ke Taiwan.

Kemarahan China atas dukungan AS kepada Taiwan bukan sesuatu yang baru bagi AS, namun pekan lalu peringatan China atas rencana kunjungan Pelosi ke Taipei tampaknya telah menimbulkan kekhawatiran di Washington.

Menyusul laporan rencana kunjungan Pelosi tersebut, Kementerian Luar Negeri China Selasa lalu berjanji akan mengambil “langkah tegas dan kuat” jika perjalanan dilanjutkan. Sejak itu, serangkaian komentar dari pejabat AS justru meningkatkan kekhawatiran.

Rabu lalu Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada wartawan bahwa militer AS menganggap kunjungan Pelosi ke Taiwan “bukan ide yang baik saat ini.” Sehari kemudian, Pelosi mengatakan penting untuk menunjukkan dukungan untuk Taiwan, namun enggan menyinggung rencana kunjungan itu dengan alasan keamanan.

“Saya kira, apa yang dikatakan Presiden mungkin militer takut pesawat saya ditembak jatuh atau semacamnya. Saya tidak tahu persisnya,” ujar Pelosi.

Ahad lalu, mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menawarkan untuk bergabung dengan Pelosi dalam kunjungan ke Taiwan..

“Nancy, aku akan pergi denganmu. Aku dilarang di Cina, tetapi bukan Taiwan yang mencintai kebebasan. Sampai jumpa di sana!” cuit Pompeo di Twitter. (mm/raialyoum/cnn)

Baca juga:

Makin Sangar, Rusia Kini Mengaku Bermaksud Gulingkan Rezim di Kyiv

Ini Senjata Andalan Putin di Ukraina

DISKUSI: