Lanjutan Perseteruan Denny Siregar vs Telkomsel: Melacak Bantuan MTT ke Suriah

0
135

sumber: www.wartabuana.com

LiputanIslam.com–Penggiat media sosial Denny Siregar menghadapi kasus kebocoroan data yang menyeret nama Telkomsel. Kasus ini bermula dari akun @Opposite6891 yang membeberkan data pribadi Denny Siregar secara terbuka. Tak tanggung-tanggung, data yang dibocorkan dari nama, alamat, NIK, KK, IMEI, OS, hingga jenis perangkat. Denny pun menuntut tanggung jawab dari Telkomsel. Dalam kicauannya di Twitter yang telah di-retweet ribuan kali, ia memperingatkan netizen jika pembocoran data ini bisa terjadi pada siapa saja.

Kasus pembocoran data ini menarik karena Denny terkenal atas kritikannya terhadap radikalisme. Apalagi, ketika isu ini banyak dibicarakan publik, ada nama lembaga yang terseret yaitu Majelis Ta’lim Telkomsel (MTT). Ditengarai bahwa MTT terkait dengan radikalisme karena sering mengundang ustad-ustad pendukung HTI, Felix Siaw. (Baca: Denny Siregar dan Benih Radikalisme dalam Tubuh Telkomsel).

Hal menarik yang perlu dicatat adalah para ustad radikal, termasuk Felix Siaw, selama ini mendukung perang (jihad) di Suriah. LI pun melakuan pelacakan mencari kaitan MTT dengan Suriah. Silakan menyimak!

Kerjasama dengan ACT

Dari laporan yang dirilis Dakwatuna.com pada tahun 2016 silam, MTT pernah bekerjasama dengan Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam kegiatan penyumbangan dana bantuan ke Suriah. MTT menyerahkan dana 170 juta rupiah kepada ACT di Masjid Tarqiyah Taqwa, Gedung Telkomsel Smart Office (TSO), Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan (30/06). Mereka mengaku, dana bantuan itu dipakai untuk penyaluran 100 paket pangan dan pendirian 2 unit shelter untuk korban perang Suriah di kamp kota Rayhanli, Provinsi Hatay, Turki Selatan.

Penyerahan bantuan untuk pengungsi suriah dari Majlis Taklim Telkomsel melalui ACT. (Neneng Fitri Fitriyah/MTT)

Namun, masalahnya, ada yang mencurigakan dari kota Rayhanli. Apakah itu?

Dilansir dari laporan eksklusif Tempo (31/03/15), paling tidak ada tiga perbatasan yang dibuka pemerintah Turki bagi orang-orang yang mau keluar-masuk Suriah. Ketiganya adalah Kota Reyhanli di Provinsi Hatay, Kota Kilis di Provinsi Kilis, dan Kota Akcakale di Provinsi Sanliurfa.

Kota Akcakale adalah tempat favorit para pendukung ISIS. “Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan kota di Suriah yang dikuasai ISIS,” kata seorang sumber kepada Tempo.

Sementara itu, Reyhanli merupakan kota yang dipilih oleh orang-orang yang ingin bergabung dengan kelompok teroris Jabhat Al-Nusra yang terafiliasi dengan Al-Qaeda. Bahkan, ada mujahidin Indonesia yang bergabung dengan Al-Nusra, yaitu Ridwan Abdul Hayyie, putra Abu Jibril. Ia tewas di Idlib pada Maret 2015.

Di kota Reyhanli, para mujahidin bergabung dengan Al-Nusra yang menguasai sebagian wilayah Idlib dan Aleppo.

Sumbangan lebih besar juga pernah diberikan MTT dalam bentuk ambulans. Tak tanggung-tanggung, MTT mengucurkan dana 300 juta rupiah untuk pengadaan ambulans ke Suriah. Menurut informasi dari situs MTT sendiri, dana  tersebut dihimpun dari donasi karyawan Telkomsel selama bulan Ramadhan.

Ambulans ini didatangkan dari Heilbron-Germany untuk kemudian akan menempuh rute perjalanan ke pintu perbatasan Edirne-Bulgaria, lalu lagi-lagi menuju pintu perbatasan keluar Turki ke Suriah,  Reyhanli.

 

Jejak Suram Donasi ACT ke Suriah

LI pernah mengungkap kecurigaan terhadap donasi-donasi ACT yang disalurkan ke Suriah. ACT sendiri merupakan lembaga yang didirikan tahun 2005 di Jkt. Lembaga ini pada 2014 dilaporkan berhasil  mengumpulkan dana 7,5 milyar perbulan (90 Milyar setahun) dari sumbangan masyarakat.

Dalam situsnya, Direktur ACT, Ahyudin, memuji-muji Turki, Erdogan, dan IHH (Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi/ Yayasan untuk Hak Azasi Manusia, Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan), sebuah LSM terbesar di Turki.

“IHH juga mengelola puluhan kamp pengungsi Suriah lengkap dengan shelternya, selain membangun perkampungan yatim terbesar di dunia dengan fasilitas lengkap seperti rumah, sekolah, fasilitas olahraga, juga taman rekreasi. IHH, wajah ideal lembaga kemanusiaan kelas dunia dengan kemampuan menggerakkan filantropi multisegmen, menyasar seluruh stakeholders dunia,” demikian tutur Direktur ACT.

Baca Selengkapnya: Donasi ACT dan DT Dipertanyakan

Namun berbagai laporan menunjukkan bahwa IHH memiliki “kerja sampingan”, yaitu menyuplai senjata kepada “mujahidin”.

Pada tanggal 3 Januari 2014, harian Turki Hurriyet melaporkan bahwa polisi Turki memergoki truk-truk bantuan atas nama IHH ternyata juga berisi amunisi dan senjata yang akan dikirim kepada pasukan-pasukan “jihad” Suriah. Truk itu bahkan didampingi oleh pejabat dari Organisasi Intelijen Nasional (MIT) Turki. Beberapa hari sebelumnya, pemerintah Suriah secara resmi mengirim surat protes kepada PBB atas tindakan Turki yang secara sistematis menyuplai senjata kepada para militan yang ingin menggulingkan pemerintah Suriah. Menurut Dubes Suriah untuk PBB, “Mereka [para teroris] dilatih di perbatasan Turki-Suriah, dan setelah itu otoritas Turki membantu mereka untuk masuk ke wilayah Suriah.”

Baca Selengkapnya: Melacak Aliran Dana untuk Suriah dari 10 Lembaga Amal Indonesia

Dalam laporan Indopress.id yang melakukan wawancara langsung dengan staf ACT, mereka menyatakan bahwa pemerintah Suriah “mengebomi warganya sendiri”. Pernyataan ini menunjukkan keberpihakan ACT pada para pemberontak alias milisi teror yang berperang selam 8 tahun melawan pemerintah yang sah di Suriah.

Hasil pelacakan ini memunculkan pertanyaan, benarkah sumbangan yang diberikan oleh MTT sampai ke tangan yang tepat, yaitu pengungsi korban perang Suriah, ataukah jatuh ke tangan para teroris? (ra)

DISKUSI: