Denny Siregar dan Benih Radikalisme dalam Tubuh Telkomsel

0
702

Potret Denny Siregar. Sumber foto: CNN Indonesia

LiputanIslam.com—Terpublikasinya identitas pribadi Denny Siregar yang digunakan untuk registrasi kartu perdana—seharusnya dijaga ketat oleh pihak telkomsel sendiri—telah membuat publik khawatir. Apakah data pribadi nasabah lainnya juga akan atau telah digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab? Apa yang menimpa Denny dikhawatirkan juga menimpa mereka. Ketidakmampuan telkomsel untuk menjaga data pribadi konsumennya telah menggerus integritas telkomsel itu sendiri, apapun motifnya.

Kenapa telkomsel membiarkan identitas pribadi Denny bocor ke publik? Setau saya, Denny adalah seorang seleb medsos yang semua postingannya mendapatkan respon yang begitu luas. Satu postingan Denny di facebook misalnya bisa direspon oleh ribuan pengguna medsos lainnya. Gagasan-gagasannya sedikit banyak terbilang berpengaruh. Terutama ketika dia secara getol menolak kehadiran kelompok-kelompok ekstrem di negeri ini.

Denny pernah mengkritisi kiprah organisasi terlarang HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang menurutnya banyak menyusupi institusi-institusi pemerintah, termasuk juga militer. Menurut Denny, HTI telah menyisipkan ideologinya di antara personil militer RI. Waktu pemerintah Jokowi memutuskan untuk membubarkan HTI dan menyatakan organisasi itu sebagai ilegal, Denny adalah salah satu pendukung utamanya. Denny punya peran untuk meyakinkan para followernya bahwa HTI adalah organisasi berbahaya dan pemerintah telah menempuh jalan yang benar.

Tentu saja, orang-orang eks-HTI yang terdesak dan kini kehilangan bendera itu membenci Denny dan mencari cara untuk menghancurkan integritas serta menerornya. Bocornya identitas “rahasia” Denny ke publik ada kaitannya dengan balas dendam dan upaya teror tersebut.

Kedekatan Telkom dengan HTI

Kecurigaan bahwa Telkom telah berkontribusi dalam proses tumbuh kembangnya HTI di Indonesia telah muncul sejak tahun lalu, sejak spanduk kajian islam yang diisi oleh Felix Siauw terpampang di Gedung Telkomsel.

Seperti yang kita tahu, Felix Siauw adalah seorang tokoh HTI. Dalam wawancara dan ceramah-ceramahnya ia rajin mengumandangkan perlunya pembentukan khilafah di Indonesia dan tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

Saat itu, tagar #TelkomProRadikalis berdengung keras. Sebagian memutuskan langganan dengan IndiHome, penyedia jasa internet milik telkom. Ini cara mereka memprotes langkah Telkom yang terus mengundang ulama-ulama radikal untuk mengisi ceramah di Masjid Al-Muta’arof, di Menara Multimedia Telkom, Jakarta.

Telkom sebagai salah satu BUMN yang 52,09% sahamnya dimiliki oleh pemerintah justru mengundang para pendakwah HTI yang telah dilarang oleh pemerintah. Seharusnya, langkah-langkah yang ditempuh telkom harus seirama dengan pemerintah dan bergerak di bawah payung hukum dan konstitusi NKRI.

Meski tidak hanya mendatangkan Felix Siauw, sejumlah penceramah lain yang diundang oleh telkom tergolong sebagai para penceramah garis keras. Sebut saja Tengku Zulkarnain, Haikal Hassan, dan Weemar Aditya.

Di Telkom ada perkumpulan bernama Majlis Taklim Telkom (MTT). Mengutip Seword, MTT diketuai oleh Wawan Budi Setiawan. Berdasarkan hasil munas, Wawan adalah Ketua Umum MTT periode 2017-2020. Rekam jejak medsos Wawan menunjukkan bahwa dirinya adalah tokoh Islam garis keras dan sekaligus pendukung HTI.

Kedekatan yang terjalin erat antara HTI dengan telkom adalah alasan dibalik mudahnya data pribadi Denny Siregar yang terekam oleh Telkom tersebar di publik. Sekali lagi, telkom seharusnya menjaga ketat data pribadi nasabahnya. Kebocoran data seperti yang dialami oleh Denny sugguh adalah tindakan yang tidak profesional dan seharusnya tidak terjadi. Tapi, ada persoalan yang lebih serius dari itu, yaitu masalah radikalisme yang bersarang dalam tubuh telkom. (HA/LiputanIslam.com)

DISKUSI: