Akibat COVID-19, PBMA Tunda Muktamar

0
280

Sumber: Mathla’ul Anwar

LiputanIslam.com — Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) memutuskan untuk menunda pelaksanaan Muktamar Ke-20 Mathla’ul Anwar yang sedianya akan diselenggarakan pada awal Juni 2020 di Jakarta, mengingat belum meredanya pandemi COVID-19.

“Sebelumnya Mathla’ul Anwar mengagendakan Muktamar ke-20 pada 19-21 Juni 2020 di Pondok Gede, Jakarta. Namun karena adanya pandemi COVID-19, muktamar diundur ke September atau Desember 2020,” kata Ketua Umum PBMA KH Ahmad Sadeli Karim kepada pers, di Jakarta, Senin (20/4).

Menurut KH Sadeli, keputusan penundaan muktamar itu diambil dalam rapat pleno virtual PBMA pada 19 April 2020 yang diikuti oleh Pengurus Harian, Majelis Amanah, dan Badan Otonom Mathla’ul Anwar.

Ia mengemukakan, penundaan Muktamar Ke-20 Matla’ul Anwar dilakukan sambil menunggu perkembangan membaiknya situasi pandemi COVID-19, kemungkinan hingga September atau paling lambat Desember 2020 yang merupakan akhir dari kepengurusan PBMA periode 2015-2020.

Upaya tersebut dilakukan sesuai dengan kebijakan Pemerintah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah.

Sementara itu, terkait masuknya bulan suci Ramadhan dalam waktu dekat, Mathla’ul Anwar mengeluarkan Surat Edaran Nomor: A.317/SE/PBMA/IV/2020 tanggal 9 April 2020 yang berisi Tuntunan Ibadah di Tengah Kondisi Wabah COVID- 19.

Tuntunan ibadah tersebut berisi sembilan poin. Pertama, bahwa pelaksanaan Shalat Jumat, karena wabah COVID-19 yang bersifat pandemik dan meluas, maka boleh diganti dengan Shalat Dzuhur di rumah masing-masing.

Penggantian Shalat Jumat dengan Shalat Dzuhur itu berlaku bagi daerah dengan penyebaran COVID-19 kategori zona merah, dan jika suatu daerah masih dianggap zona hijau, maka kewajiban melaksanakan Shalat Jumat tetap dijalankan dengan tetap memperhatikan prosedur social/physical distancing.

Kedua, pelaksanaan shalat lima waktu yang biasa dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushala, khusus untuk daerah zona merah sementara wajib dilaksanakan di rumah masing-masing.

Adapun untuk daerah yang dianggap zona hijau tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid atau mushala dengan keharusan menjaga jarak dalam shafnya dengan menerapkan physical distancing.

Ketiga, bagi yang merasa sudah terpapar COVID-19 atau memiliki gejala-gejala COVID-19, maka wajib baginya menghindari shalat berjamaah di masjid dan tetap shalat di rumah sampai betul-betul dinyatakan sembuh, agar virus tidak menular kepada orang lain.

Keempat, bagi daerah zona merah yang masjidnya ditutup, adzan dianjurkan tetap dikumandangkan sebagai pertanda masuknya waktu shalat dengan mengubah redaksi seruan hayya ‘alasshalah dengan shallu fi rihalikum atau shallu fi buyutikum (shalatlah di rumah masing-masing) sesuai Hadis Riwayat Bukhori-Muslim.

Kelima, jika dalam kondisi saat masuk Ramadhan wabah COVID-19 belum mereda, maka Shalat Tarawih dan kegiatan yang terkait dengan upaya memuliakan Ramadhan seperti iktikaf dan tadarus diminta dilakukan di rumah masing-masing, namun jika sudah mereda, kegiatan takmir masjid dilakukan seperti biasa.

Keenam, khusus dalam upaya menjaga kekebalan tubuh menghadapi paparan virus, para tenaga medis yang bertugas bisa meninggalkan puasa Ramadhan dan menggantinya di lain hari sesuai tuntunan syariat yang ada.

Ketujuh, jika di awal bulan Syawal wabah COVID-19 belum juga mereda, maka Shalat Idul Fitri dan rangkaian kegiatan lainnya dilaksanakan di rumah masing-masing.

Baca juga: PPP Usul Alokasi Dana Parpol untuk Tangani COVID-19

Kedelapan, mengimbau perlunya optimalisasi penyaluran zakat, infak, dan sedekah untuk para mustahik, terutama yang terkena dampak wabah COVID-19.

Kesembilan, mengimbau perlunya sikap berbuat baik dan saling menolong di antara masyarakat, terutama kepada kelompok rentan, misalnya dengan membagikan masker atau hand sanitizer, atau mencukupi kebutuhan pokok dari keluarga yang terdampak serta tidak melakukan panic buying. (Ay/Antara)

DISKUSI: