[Video]: Sumpah Nasrallah dan Kekonyolan Militer Israel yang Terekam Kamera

0
376

LiputanIslam.com –  Tampilan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah (SHN) di layar televisi dari waktu ke waktu selalu menjadi jendela yang efektif untuk melihat perkembangan arus politik di kawasan Timteng di tengah ketiadaan pemimpin Arab lain yang bangsawan dan kharismatik serta mengguritanya serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang mendominasi kanal media melalui sejumlah sekutu Arabnya.

Pidato SHN pada momen peringatan Hari Asyura atau kesyahidan Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra menampilkan pendirian dan sorotan terhadap sejumlah perkembangan di tingkat lokal Libanon maupun regional Arab. Karena itu, pidatonya menyita perhatian banyak pengamat dan kalangan, baik di pihak kawan maupun lawannya, terutama Israel.

Nada vokal mendominasi banyak bagian pidato SHN sehingga praktis memperlihatkan kesolidan pendiriannya dalam bertahan pada opsi resistensi terhadap fenomena pendudukan, baik di Libanon maupun negara-negara regional, terlebih Palestina, kendati mendapat tekanan politik dan pencemaran reputasi melalui media penebar konten-konten yang digoreng di sejumlah negara Arab.

Ada beberapa pesan moral yang dapat dipetik dari pidatonya sebagai berikut;

Pertama, tertuju kepada rezim pendudukan Israel, yang intinya ialah bahwa ketika satu orang pejuang Hizbullah terbunuh maka harus terbalas dengan terbunuhnya satu tentara Israel. Perimbangan demikian akan selalu dipertahankan oleh Hizbullah dengan segala cara.

Kedua, Israel mengharapkan reaksi segera dari Hizbullah, sementara Hizbullah masih membiarkan keadaan tetap mencekam bagi pasukan Zionis. Hizbullah bersumpah bahwa balasan pasti akan datang. Berlanjutnya kondisi mencekam semakin menyakitkan bagi Israel.

Ketiga, Israel mudah sekali melecehkan Arab, terlebih pihak-pihak yang jutsru pro-normalisasi hubungan dengan Israel sendiri. Israel bahkan tak sudi menjaga wibawa pejabat Uni Emirat Arab (UEA) ketika rezim Zionis itu membantah kesediaannya mengurungkan rencana aneksasi Tepi Barat dan Lembah Yordania serta menentang suplai UEA dengan jet tempur siluman F-35. Israel tidak menghendaki perdamaian, melainkan ketercundangan Arab.

Keempat, penolakan pengakuan atas rezim pendudukan dan normalisasi hubungan dengannya, meskipun semua negara Arab atau bahkan dunia mengakuinya. Hizbullah bersumpah untuk berpihak kepada siapapun yang berjuang melawan pendudukan, baik di Palestina dan Libanon maupun di negara Arab lain yang diduduki oleh pihak asing.

Hizbullah sengaja tidak segera melancarkan serangan balasan atas anggota seniornya yang terbunuh oleh serangan Israel ke Damaskus. Penangguhan ini juga terkait dengan situasi politik Libanon di mana Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan datang lagi ke Beirut Senin (31/8/2020), nama perdana menteri baru Libanon akan segera diumumkan, dan sidang parlemen akan digelar.

Hizbullah bersumpah akan membalas, namun membiarkan kondisi kubu internal Libanon memulih dulu setelah perdana menteri sebelumnya mundur pasca tragedi ledakan Pelabuhan Beirut. Dan Hizbullah selama ini terbukti bukan kelompok militan yang hanya pandai menggertak tanpa tindakan nyata.

Rekaman Video Kekonyolan Militer Israel

Kelompok pejuang Hizbullah tampak tidak ingin terjerumus pada jebakan Israel untuk berperang di saat situasi tidak kondusif. Penjebakan itu nyata-nyata dilakukan Israel bahkan dengan cara mengoperasikan robot atau boneka berbentuk tentara di wilayah perbatasan Libanon-Israel.

Israel berharap boneka itu ditembak oleh pejuang Hizbullah dan kemudian Hizbullah puas dan lega karena mengira sudah berhasil membalas tentara Israel. Nyatanya, cara itu justru membongkar kekonyolan militer Israel dan ciutnya nyali mereka dalam berurusan dengan Hizbullah, setelah Hizbullah merekam pengoperasian boneka robot itu kemudian memublikasi videonya, seperti terlihat di link berikut:

Semua ini bukan saja memperlihatkan betapa Hizbullah tak semudah itu dikecoh oleh lawannya yang selama ini dikesankan sebagai salah pasukan terhebat di dunia, melainkan juga membuktikan betapa kubu resistensi di Libanon masih tetap menjadi batu sandungan bagi Israel dan negara-negara Arab pro-normalisasi.

Kedudukan Hizbullah juga diperlihatkan dalam pidato SHN yang menyebutkan bahwa Hizbullah pernah mendapat tawaran dana dari AS melalui perantara agar Hizbullah menyudahi visi dan misinya melawan Israel. Menurutnya, selain ditawari dana dalam jumlah besar, Hizbullah juga dijanjikan proses pengembangan sistem politik yang menguntungkan Hizbullah.

Kampanye media anti kubu resistensi memang sangat berbahaya karena berlangsung begitu masif, terutama melalui media sosial, dan didukung dengan pasukan cyber kuat yang didanai miliaran dolar. Hanya saja, publik Arab masih dewasa menghadapi serangan itu, dan media Poros Resistensi adalah ujung tombak yang efektif menghadapinya. Media poros ini, meski kecil namun menghasilkan gebrakan-gebrakan yang mematikan propaganda kotor media lawan.(mm/raialyoum)

Baca juga:

Nasrallah: Gerakan Asing Anti-Hizbullah Kali Ini Terparah Dalam 50 Tahun Terakhir

Iran Diduga Kerahkan Sistem Pertahanan Udaranya di Dekat Perbatasan Suriah-Lebanon

 

DISKUSI: