Trump Terjebak dalam Segitiga Corona, Unjuk Rasa, dan Insiden Kapal Induk AS

0
112

LiputanIslam.com-Di saat Donald Trump masih berkutat dengan dampak pandemi Corona, unjuk rasa antirasisme, dan kemerosotan ekonomi, insiden kebakaran atau ledakan di kapal induk USS Bonhomme Richard kian menambah kepelikan masalah yang dihadapinya, serta membuat masa depan politiknya dalam kekaburan.

Pemerintah AS, juga Trump sendiri, masih memilih bungkam terkait insiden di USS Bonhomme. Namun yang pasti, insiden ini adalah semacam peringatan terhadap Trump, bahwa “orang yang tinggal di rumah kaca seyogianya tidak melempari orang lain dengan batu.”

Dalam pandangan Trump, pertahanan terbaik adalah menuding dan mengkambing hitamkan pihak lain. Namun dalam kasus insiden kebakaran Bonhomme, Trump menghadapi dilema besar.

Dalam situasi sekarang, jika Trump menghubungkan pelaku pembakaran atau peledakan Bonhomme ke pihak mancanegara, berarti praktis dia mengakui kelemahan dan ringkihnya keamanan ‘negara terkuat di dunia.’ Bila dia menyebut pelakunya adalah pihak domestik, ini berarti bahwa rapor kerjanya untuk rakyat AS selama 4 tahun terakhir adalah nol besar.

Di waktu bersamaan, Trump masih harus menghadapi pilpres yang akan dilaksanakan 4 bulan mendatang. Ia mesti bergulat melawan rival dari Demokrat, yang hasil sejumlah jajak pendapat terbaru menunjukkan keunggulan atas dirinya.

Pandemi Corona telah membuat kelayakan manajemen Trump dipertanyakan. Perilaku ala Abad Tengahnya dalam menangani gelombang unjuk rasa juga menjadikannya sasaran hujatan. Dua hal ini, ditambah insiden kebakaran USS Bonhomme, telah membentuk Segitiga Ketidakbecusan Trump.

Trump dan timnya selalu bersikeras untuk mengesankan bahwa Poros Perlawanan adalah faktor ketidakamanan, setidaknya di Timteng. Kini, dalam situasi sekarang, apakah Trump siap mengumumkan secara resmi, bahwa klaim-klaim dia sebelum ini hanyalah dalih untuk kabur dari slogan-slogan kampanyenya terkait keluarnya AS dari Timteng? Apakah Trump bersedia mengorbankan prinsipnya untuk “mengedepankan ekonomi atas keamanan?” Jika dalang insiden di USS Bonhomme bisa diungkap, dengan bahasa apa Trump akan mengakui bahwa Tentara AS begitu ringkih dan mudah disusupi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, juga pertanyaan-pertanyaan lain, bukan hanya masalah yang dihadapi Gedung Putih saat ini, tapi juga mengungkap terjalnya jalan yang harus dilalui Trump dalam hari-hari mendatang hingga pilpres nanti. Tampaknya, dalam bulan-bulan mendatang, Trump harus menyiapkan diri untuk menghadapi serangan-serangan yang lebih keras. (af/alalam)

Baca Juga:

Bolton: Trump Bukan Republik, Bukan Demokrat, Bukan Apa-apa

Komandan Pasukan Quds IRGC Sebut AS Sedang Jalani Azab Tuhan

DISKUSI: