Tawaran Perdamaian Saudi Tak Ada Artinya Bagi Yaman

0
1582

LiputanIslam.com-Menlu Saudi Faisal bin Farhan mengabarkan tawaran Riyadh untuk mengakhiri perang di Yaman. Tawaran ini tentu saja diapresiasi oleh AS dan para sekutu regional Saudi.

Ansharullah sendiri menegaskan, tak ada hal baru dalam proposal gencatan senjata yang diajukan Saudi. Bahwa Ansharullah menyatakan “tak ada hal baru dalam proposal Saudi,” ini bukanlah sebuah kesimpulan terburu-buru. Proposal ini secara jelas memberi hak kepada Saudi untuk mengontrol penerbangan dan tujuan penerbangan di bandara Sanaa, juga mengawasi aktivitas di pelabuhan Hudaydah.

Dengan kata lain, nadi kehidupan rakyat Yaman akan ada di tangan Saudi dan Riyadh akan memaksakan kehendaknya atas mereka. Ini sama saja dengan mempertahankan blokade atas Yaman. Namun kali ini dalam dikemas dalam ‘UU AS.’

Proposal ini hanya mengesankan Saudi sebagai negara yang (1) menghendaki perdamaian di Yaman, (2) lebih unggul atas Yaman di medan tempur, (3) yang menawarkan gencatan senjata dari ‘niat baik,’ bukan karena terdesak.

Padahal fakta di lapangan berbicara lain. Pertama, Ansharullah di Ma’rib telah mencekik erat leher Saudi. Dengan membebaskan Ma’rib, utara Yaman akan dibersihkan dari keberadaan Saui dan Pasukan Mansour Hadi.

Kedua, selatan Yaman sama sekali tak berminat terhadap keberadaan Pemerintahan Hadi. Hal ini bisa dilihat dari serangan penduduk Aden ke istana Maaashiq, yang membuat PM dan para menteri Pemerintahan Hadi kabur tunggang langgang.

Ketiga, Saudi di saat ini sudah sendirian. Bahkan Bin Zayed, sisa terakhir dalam Koalisi Agresor tidak pernah lagi secara resmi menyatakan keberpihakan kepada Bin Salman di Yaman.

Yang terakhir, argumen Saudi bahwa agresinya ke Yaman demi mendukung Pemerintahan Hadi sudah lama tidak dihiraukan dan tak ada yang menyimaknya lagi di tempat mana pun.

Di saat Saudi sebenarnya tidak memiliki pilihan selain menerima kekalahan dalam 6 tahun perang di Yaman, ia masih saja berusaha meninggalkan medan perang secara ‘bermartabat’ dan meraih hasil, seminimal apa pun itu. Tawaran untuk mengurangi tekanan di bandara Sanaa dan pelabuhan Hudaydah diajukan untuk mendudukkan Ansharullah di meja perundingan. Namun tujuan sebenarnya adalah memberi kesempatan kepada Pasukan Saudi untuk mengambil nafas dan memperbarui kekuatan.

Namun Ansharullah secara tegas memandang Saudi sebagai musuh asing, yang tugasnya hanya meninggalkan Yaman, menghentikan agresi, dan menyerahkan urusan domestik kepada rakyat Yaman.

Beberapa hari lagi, perang Yaman akan memasuki tahun ke-7; perang yang menurut klaim Bin Salman hanya akan berlangsung selama 3 pekan dengan kemenangan di pihak Saudi. (af/alalam)

Baca Juga:

[Infografis] Perjanjian Gencatan Senjata Antara Houthi dan Koalisi Saudi yang Menemui Buntu

Iran: Ansarullah Yaman Menang, Penguasa Saudi Kebingungan

DISKUSI: