Taliban: Kami Tak Seperti ISIS dan Tak Pula Memusuhi Syiah

0
2244

Teheran, LiputanIslam.com –  Kelompok militan Taliban yang sudah hampir tiga dekade eksis di Afghanistan dan belakangan ini tampak makin menguat meski sempat sekian lama diperangi oleh AS dan sekutunya (NATO) memberikan pengakuan terbaru ihwal jatidirinya.

Maulawi Khairullah Khairkhah tokoh dan anggota senior tim perunding Taliban dalam kunjungan ke Teheran, ibu kota Iran, untuk berpartisipasti dalam perundingan  antar-elemen Afganistan beberapa waktu lalu diwawancara oleh jaringan berita Press TV milik Iran.

Dalam wawancara yang dimuat di situs berita Fars, Rabu (21/7), ini dia menjawab pertanyaan mengenai berbagai isu penting seperti ISIS, hak asasi wanita, hak kaum Syiah di Afghanistan, hubungan dengan negara-negara jiran dan kebijakan Taliban secara umum jika kelompok Islamis ini berkuasa dan memerintah di Afghanistan. Dia juga menepis keaslian video-video yang disebut-sebut sebagai rekaman kebrutalan Taliban.

 Liputan Islam merangkum beberapa pernyataan Khairkhah dalam tema-tema sebagai berikut:

Berbeda dengan ISIS

Taliban berkonfrontasi dengan ISIS hingga banyak anggotanya yang gugur. ISIS jauh berbeda dengan Emirat Islam Afghanistan (Islamic Emirate of Afghanistan/IEA yang didirikan pada tahun 1996 ketika Taliban mulai memerintah Afganistan dan berakhir dengan kejatuhan mereka dari kekuasaan pada tahun 2001 – red.). Tak ada satupun kelompok Afghan, termasuk IEA, memiliki pandangan, tatacara dan akidah ISIS yang menghalalkan jiwa dan harta sesama Muslim.

Akidah kami jelas bagi semua orang, dan selama 20 tahun berjihad di berbagai kawasan Afghanistan penduduk melihat dengan jelas perilaku, akidah dan interaksi IEA, dan perilaku (ISIS) itu tak terlihat pada kami. Keyakinan mereka (ISIS) menyimpang, dan syariat Islam kita tidak memperkenankan kita meyakini sikap demikian.

Tak Punya Hubungan dengan Saudi

Sejauh pengetahuan saya, ketika IEA jatuh dan AS datang dan menduduki Afghanistan, ada komunikasi-komunikasi dengan Arab Saudi, tapi sebagaimana dahulu kami tak menjalin hubungan dengannya. Dari jumlah kunjungan kami Anda dapat menebak bahwa sebagaimana dahulu hubungan kami tak banyak atau bahkan tidak ada, dan kami tak mengadakan kunjungan-kunjungan terbuka ke Saudi.

Menyantuni Tentara Yang Menyerah

Rakyat mengetahui bahwa pemerintah (Afghanistan sekarang) tak akan bertahan lama. Mereka akan jatuh. Kami tak menyerang kota-kota besar adalah demi kehati-hatian dan menghindari jatuhnya banyak korban sipil, naudzu billah. Kami mampu membebaskan kota-kota besar, tapi sejauh ini para petinggi kami tak menginstruksikannya.

Mengenai kota-kota besar, kami ingin mencapai kesefahaman politik dengan penduduknya, dan setelah itu baru kami mengambil keputusan, supaya tak terjadi kerusakan besar di kota-kota.

Adapun kota-kota kecil, kami merebutnya dengan kerjasama dan kehendak penduduk setempat. Ketika kami merebut suatu daerah kami melepaskan tentara (yang menyerah) dan memfungsikan para pegawai pemerintah.

Kami menyita senjata tentara yang menyerah kepada mujahidin, memberi mereka uang transportasi pulang pergi, kembali mempekerjakan para pegawai pemerintah dan mengobati korban luka mereka. Kami bahkan membantu dan membebaskan orang-orang yang semula memerangi kami lalu menyerah. Siapapun, di dalam maupun di luar Afghanistan, tak dapat menyembunyikan bentuk perilaku kami ini.

Siapa yang dapat membuktikan bahwa pelaku (aksi-aksi penembakan terhadap tentara yang menyerah) adalah Taliban? Itu adalah propaganda untuk menyudutkan kami.

Menghormati Kaum Muslim Syiah

Sebelum IEA berdiripun kami sudah biasa berkunjung ke masjid-masjid Syiah, beramah tamah di sana, dan menjalin hubungan persaudaraan Islam dengan Syiah. Musuh-musuh kami menyalah gunakan isu Sunni-Syiah, dan ini bukanlah sesuatu yang spesial. Kami mengakui kredibilitas orang-orang Syiah. Mereka adalah bagian dari Afghanistan, dan kami dengan tegas memaklumkan bahwa isu kedaerahan, mazhab, ras dan bahasa sama sekali tidak ada pada kami.

Kami tak bersedia mengkafirkan orang-orang yang mengucapkan kalimat “la ilaha illa Allah” dan mendirikan shalat, dan inilah yang justru mendorong kami berperang dengan ISIS, yang menganggap mereka sebagai kafir dan menghalalkan darah mereka.

Fitnah Pembantaian Muslim Syiah

Tragedi (pembantaian kaum Muslim Syiah di) Mazar Sharif terjadi di tengah situasi perang, dan bertujuan menebar perselisihan dan fitnah. Masyarakat tak boleh percaya kepada isu-isu seperti ini, dan harus menjauhinya. Persoalan harus diselesaikan dengan dialog dan saling pengertian.

Mujahidin IEA tidak memasuki daerah-daerah berpenduduk Syiah adalah supaya tidak terjadi kesalah fahaman. Selagi ada dialog antara IEA dan Syiah, saya kira tak dapat dibenarkan aksi menyulut pertikaian dan membangkitkan sensitivitas masyarakat. Masyarakat tak seharusnya memperhatikan provokasi pihak-pihak lain. Tragedi itu terjadi akibat provokasi.

Saya ingin menyebutkan satu hal; semua kawasan di Qandahar dan daerah-daerah Pashtu telah jatuh dan dikuasai (Taliban). Tapi kami tak memasuki daerah-daerah berpenduduk Syiah. Kami tak memasukinya adalah karena berharap terjadi kesefahaman melalui dialog. Kami tak bergerak maju ke kawasan-kawasan suku Hazara/Hezareh (yang bermazhab Syiah) karena sejauh ini belum ada kesefahaman antara kami dan mereka. Tapi kami menginginkan persoalan diselesaikan melalui jalur dialog. (mm/fna)

Baca juga:

Rusia Ajak Iran dan India Bergabung dengan Perundingan Damai Afghanistan

Karzai Sebut Kehadiran AS Perkuat Terorisme di Afghanistan

DISKUSI: