Siapa yang Harus Memenuhi Komitmennya di JCPOA, Iran atau AS?

0
436

LiputanIslam.com-Orang pilihan Joe Biden untuk menempati pos Menlu AS, Anthony Blinken di depan Senat AS mengatakan, Pemerintahan Biden siap kembali ke JCPOA, asal “Teheran juga kembali memenuhi komitmennya dalam kesepakatan nuklir itu.”

“Kami menjadikan hal ini sebagai titik mula. Dengan bantuan para sekutu kita, yang akan kembali berada di sisi AS, kita akan mengerahkan usaha untuk meraih kesepakatan yang lebih kuat dan langgeng,”ujar Blinken.

Ia mengklaim, perundingan ini akan mencakup program rudal balistik dan aktivitas regional Iran. Blinken menyatakan, AS akan menyertakan negara-negara Arab di Teluk Persia dan Israel dalam perundingan nuklir Iran.

Perlu dicamkan bahwa saat Blinken bicara soal kebijakan Pemerintah baru AS terhadap Iran, ia telah memutar balik fakta secara terang-terangan. Dengan syarat “Iran harus kembali menjalankan komitmennya agar AS bergabung lagi dengan JCPOA.” Blinken telah mengubah posisi korban menjadi algojo.

Dia lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Iran-lah yang mesti menentukan syarat untuk pihak lain. AS-lah yang keluar dari JCPOA, menjatuhkan sanksi-sanksi atas Iran, dan memprovokasi anggota-anggota JCPOA lain untuk melanggar serta keluar dari kesepakatan ini.

Blinken juga mengabaikan poin bahwa setelah AS keluar dari JCPOA, Iran masih memberi tenggat waktu setahun kepada para anggota lain untuk menunjukkan komitmen mereka dan tidak menyerah terhadap tekanan-tekanan AS.

Bukti atas komitmen Iran dalam JCPOA adalah 15 laporan IAEA, yang semuanya menunjukkan Teheran tidak melanggar kesepakatan.

Setelah berakhirnya tenggat waktu di atas dan tidak adanya bukti komitmen para anggota, Iran memutuskan untuk mengurangi komitmennya secara bertahap. Teheran mengumumkan, jika anggota lain melaksanakan komitmen mereka, Iran pun akan segera kembali kepada komitmennya.

Dengan menentukan syarat untuk Iran, tampaknya Blinken masih terpengaruh kebijakan tak tahu diri Trump. JCPOA masih bernyawa hingga saat ini karena Iran. Jika tidak, Trump sudah menguburkannya sejak dahulu.

Selain itu, rencana pelibatan negara-negara Arab dan Israel dalam perundingan nuklir lebih mirip lelucon. Blinken tidak sadar bahwa Saudi dan Israel adalah musuh JCPOA, yang akan menggunakan segala cara untuk melenyapkannya.

Semestinya Blinken tidak lupa bagaimana Netanyahu saat berpidato di depan Kongres AS telah menghina Obama lantaran menjalin kesepakatan nuklir dengan Iran. Seharusnya ia juga masih ingat bahwa mantan Menlu Saudi Saud al-Faisal menolak berpidato di PBB sebagai bentuk protes terhadap JCPOA.

Sebagaimana Iran tak akan berunding lagi terkait JCPOA, ia juga tak akan berunding dengan Israel dan Saudi.

Sebab itu, Blinken hanya punya dua opsi. Dia harus berkomitmen dengan apa yang diteken AS di JCPOA agar Iran kembali kepada komitmennya, atau ia mengikuti kebijakan bodoh Trump. Jika opsi kedua ini dilakukan, maka tak ada pihak yang bersalah kecuali AS. (af/alalam)

Baca Juga:

Zarif: Jangan Harap Isu Rudal dan Regional Jadi Bagian dari Perjanjian Nuklir Iran

Kandidat Menlu AS Ungkap Perkembangan Nuklir Iran

DISKUSI: