Sepak Terjang AS di Tengah Gempita Perang Ma’rib di Yaman

0
1802

LiputanIslam.com – AS selaku sekutu koalisi Arab Saudi-UEA sedang mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencegah jatuhnya provinsi Ma’rib ke tangan kubu Sanaa, Ansarullah (Houthi), sementara koalisi itu juga mati-matian berperang hingga mengerahkan seluruh pasukan dan perlengkapannya dari tiga kawasan militer ke sana.

Kubu Sanaa mendapatkan pesan-pesan Washington melalui perantara berupa desakan agar Ansarullah menghentikan pergerakannya ke kota Ma’rib, namun Ansarullah tetap bersikukuh untuk melanjutkan operasi militernya sampai semua daerah di Ma’rib terbebaskan. AS bahkan dilaporkan berunding langsung dengan Ansarullah, namun Ansarullah membantahnya dengan menyatakan bahwa komunikasi antara keduanya dilakukan melalui perantara Oman.

Perkembangan dramatis akan terjadi jika provinsi Ma’rib jatuh sepenuhnya ke tangan Ansarullah. Beberapa kajian di Barat belakangan ini meneropong Ma’rib sebagai kawasan yang akan menentukan jalannya perang Yaman, mengingat posisi geografisnya yang vital, keistimewaannya secara militer dan ekonomi, dan pengaruhnya yang besar bagi geopolitik Yaman.

Kajian-kajian itu sepakat bahwa kubu presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang mereka sebut sebagai “pemerintahan yang sah” akan menderita kerugian yang sangat besar jika sampai terdepak dari Ma’rib, sementara kubu Sanaa akan dapat menerapkan persyaratannya dalam perundingan di masa mendatang, di samping akan mendapat berbagai kelebihan lain.

The Jamestown Foundation yang berbasis di AS menilai pertempuran Ma’rib akan menentukan masa depan Yaman di semua bidangnya dalam beberapa tahun, dan jika Ansarullah berhasil merebutnya secara penuh maka kubu Mansour Hadi akan mendapat pukulan telak dengan luka yang tak akan pernah tersembuhkan. Dan ini akan menimbulkan perubahan mendasar dalam konstalasi politik Yaman manakala situasi regional juga mengalami berbagai transformasi penting lain.

Karena itu, koalisi dan para sekutu lokalnya sangat mementingkan perang Ma’rib, berbeda dengan apa yang mereka perlihatkan dalam pertempuran di berbagai kawasan lain. Yaman terbagi dalam tujuh zona militer. Pasukan loyalis Hadi kali ini mengerahkan pasukan dari tiga kawasan militer, yaitu zona ke-3 yang bertanggungjawab atas provinsi Ma’rib serta zona ke-6 dan zona ke-7 yang mengerahkan semua personil dan perlengkapannya ke Ma’rib untuk sementara waktu.  Perkembangan demikian belum pernah terjadi sebelumnya selama peperangan yang terjadi dalam sejarah modern Yaman.

Belum lagi pengerahan pasukan khusus yang bernaung langsung di bawah Kemhan kubu Hadi yang menjadikan Ma’rib sebagai markasnya, serta kelompok-kelompok militer lain yang dikelola oleh staf militer yang juga bermarkas di Ma’rib. Kelompok-kelompok yang terlibat dalam pertempuran diperkirakan mencakup separuh dari total pasukan Hadi jumlahnya, menurut informasi resmi, sekitar 400,000 orang.

Dari semua itu, masih ada pula kelompok-kelompok adat yang terlibat bersama koalisi, demikian pula kelompok-kelompok militan Salafi serta organisasi-organisasi teroris ISIS, Al-Qaeda, dan lain-lainnya yang mendapat peluang untuk terlibat secara terbuka dalam pertempuran.

Di pihak lain, Ansarullah tak hanya handal bertempur di medan laga, melainkan juga mahir melakukan pendekatan sosial hingga menjalin perjanjian-perjanjian dengan kelompok-kelompok adat setempat. Karena itu, Ansarullah berhasil menguasai 12 dari total 14 daerah administrasi di provinsi Ma’rib.

Saudi dan para sekutunya tak punya pilihan kecuali bertempur semampu mereka, meskipun menyalahi prinsip perang konvensional karena jumlah pasukan yang dikerahkan di Ma’rib sangat besar, menurut para pakar militer.

Bersamaan dengan ini, mereka juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan Dewan Keamanan PBB agar turun tangan mencegah gerak maju kubu Sanaa. Dalam konteks ini mereka mengangkat isu derita pengungsi yang jumlahnya lebih dari 1 juta orang serta isu-isu jatuhnya korban sipil, padahal kubu Sanaa menjauhi daerah-daerah yang ditempati pengungsi.

Le Figaro menyebutkan bahwa jika Ma’rib jatuh ke tangan kubu Sanaa maka akan menjadi “kemunduran yang mengerikan” bagi Saudi dan para pendukungnya.  Menurut surat kabar Prancis ini, pertempuran yang terjadi sekarang merupakan “pertempuran kunci” yang sedang dijalani Ansarullah untuk menguasai benteng pertahanan terakhir kubu Mansour Hadi yang didukung secara militer oleh koalisi dan secara politik oleh AS.

Sedemikian krusialnya gempita perang Ma’rib sehingga menyita perhatian dari berbagai negara, terutama AS, Inggris, dan Prancis. AS bahkan mengirim pesan kepada kubu Ansarullah di Sanaa dan mendesaknya agar menyudahi serangannya ke Ma’rib. Hanya saja, Ansarullah tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk terus bertempur sampai Ma’rib jatuh sepenuhnya ke tangan mereka. Nyatanya, AS sudah berulang kali menetapkan garis merah untuk Ansarullah, seperti terjadi dalam pertempuran di Jawf, namun AS tetap saja gagal meraih apa yang diinginkannya. (mm/alalam)

Baca juga:

Bantah Perundingan Langsung dengan AS, Ansarullah Tegaskan akan Terus Melawan Agresi

Ansarullah Serang Saudi lagi, Bandara Abha Jadi Sasaran

 

DISKUSI: