Senyum Bugar Sayid Nasrallah dan Kandasnya Harapan Israel

0
2485

LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah akhirnya mengandaskan harapan banyak orang di lembaga-lembaga militer dan politik Israel serta sejumlah sekutu Arabnya ketika dia tampil cukup lama dalam pidato televisi pada peringatan hari jadi ke-30 tahun saluran Al-Manar.

Berbeda dengan tampilan sebelumnya, dalam pidato terbaru pada hari Selasa 8 Juni dia tampak bugar sehingga dalam pidato selama 1 jam 10 menit dia hanya satu kali berbatuk kecil, yang segera disusul dengan senyum dan pernyataan bahwa itu hanyalah batuk biasa.

Dia cukup berani ketika tampil dua kali itu, sebab dia sedang mengalami kondisi sensitif pada batang tenggorokannya. Pada peringatan kemenangan Poros Resistensi tanggal 25 Mei, dia bersikukuh untuk tetap tampil berpidato meskipun dia sering terbatuk.

Bisa jadi, menurut beberapa orang dekatnya, dia tak ingin menyalahi tradisi tampil pada setiap peringatan yang berkaitan dengan kekalahan tentara Zionis Israel dan keberhasilan para pejuang membebaskan tanah Libanon dari noda Zionis serta membongkar apa yang disebut sebagai sabuk pengaman Israel.

Para pemimpin Israel dan khalayaknya sudah biasa menyorot dan menyimak pidato dan orasi Sayid Nasrallah, yang mereka anggap jauh berbeda dengan para tokoh dan pemimpin Arab lain, lalu mengulas dan menganalisis segala pendirian dan informasi yang dia sebutkan.

Hanya saja, pidato pada Selasa lalu tampak lebih penting bagi mereka dibanding biasanya setelah mereka ramai dan berlebihan berbicara mengenai kondisi kesehatannya dan keterpaparannya oleh Covid-19.  Mereka bahkan berspekulasi lebih jauh dengan menulis artikel-artikel panjang mengenai siapa yang berpeluang menjadi penerusnya di masa mendatang dan kemudian mengangkat nama Sayid Safi Al-Din yang selama ini menjabat sebagai kepala Dewan Eksekutif Hizbullah.

Tapi apa lacur, senyum ceria ternyata kembali mewarnai wajah Sayid Hassan Nasrallah yang tak lagi pucat, terutama ketika dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua simpatisannya, termasuk sebagian orang yang dengan tulusnya telah mengirim kepadanya resep penyembuhan, madu serta roti dan ramuan-ramuan tradisional untuk pemulihan kesehatan pemimpin berserban hitam sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad saw tersebut.

Senyum ceria juga kembali menghiasi wajah kharismatiknya ketika dia berbicara dan mengulas situasi politik regional Timur Tengah dan global maupun internal Libanon di mana masyarakat negara ini terdera oleh sanksi AS. Dia mengancam akan mendobrak blokade itu jika performa dalam masalah ini pemerintah masih lemah.

Dalam pidato yang relatif singkat itu Sayid Hassan Nasrallah berfokus pada beberapa poin utama sebagai berikut;

Pertama, kewaspadaan terhadap kemungkinan aksi nekat Benjamin Netanyahu yang baru terjatuh dari tampuk kekuasaan di Israel. Dendam kesumat dalam dirinya membuatnya berkemungkinan menyulut perang demi memulihkan kekuasaannya. Karena itu, Sayid Nasrallah menyerukan kesiapan menghadapi segala kemungkinan.

Kedua, perkembangan situasi di Yaman di mana AS terlibat dalam barisan pihak penyulut perang di negara ini. Sayid Nasrallah memuji keteguhan para pemimpin dan rakyat Yaman, terutama pemimpin gerakan Ansarullah, Sayid Abdul Malik al-Houthi, yang telah mendeklarasikan kebersamaannya dengan kubu resistensi Palestina serta waspada penuh terhadap jebakan AS yang bermaksud menggiring Yaman pada gencatan senjata tanpa pencabutan blokade yang berarti pengabaian terhadap upaya mengatasi penderitaan jutaan bangsa Yaman.

Ketiga, kepastian akan kemenangan besar bangsa Palestina di masa mendatang. Sayid Nasrallah mengapresiasi keteguhan dan tekad bangsa Palestina untuk terus menjejakkan kaki ke depan dan berkorban demi membela kota Quds dan Masjid Al-Aqsa. Dia juga menyerukan kepada umat Arab dan kaum Muslimin secara keseluruh untuk tak ragu-ragu menyokong perjuangan bangsa Palestina dan jangan sampai membiarkan mereka berjuang sendirian, sebab perjuangan bangsa ini juga berarti pembelaan atas kehormatan dan martabat kaum Arab dan umat Islam.

Dalam pidato pada tanggal 25 Mei Sayid Nasrallah memperingatkan bahwa tindakan Israel mengusik Quds dan tempat-tempat suci Islam maupun Kristen dapat memicu perang regional di mana Hizbullah juga tak akan diam berpangku tangan. Dan dalam pidato pada 8 Juni dia kembali melontarkan peringatan itu secara lebih jelas dan tajam ketika mengatakan, “Saya masih memimpikan kita semua dapat menunaikan shalat di Masjid Al-Aqsa.”

Ungkapan ini seakan menandai bahwa impian itu sudah makin dekat dengan kenyataan setelah kubu resistensi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, wilayah pendudukan 1948 (Israel) dan lain-lain meraih kemenangan dalam perang 10-21 Juni 2021. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Mengaku Sehat, Sayid Nasrallah: Harapan Saya Besar untuk Dapat Shalat di Masjid Al-Aqsa

Sayid Nasrallah Sakit, Media Israel Meramal Orang ini sebagai Penerusnya

DISKUSI: