Sarkasme Israel Soal Gejolak Yordania, Pelajaran Bagi Semua Negara Arab dan Muslim

0
955

LiputanIslam.com –   Bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), Israel adalah pihak yang diduga bermain di balik insiden upaya kudeta di Yordania belakangan ini. Meski demikian, tak seperti Saudi dan UEA, Rezim Zionis penjajah Palestina itu tak segan-segan membocorkan berbagai informasi sensitif kepada media, termasuk mengenai peran Israel sendiri, tanpa mempertimbangkan hubungannya yang masih terjalin dengan Raja Yordania, Abdullah II.

Adalah Yedioth Ahronoth (YA)  surat kabar Israel yang terlihat tampil mengemban tugas mengumbar informasi mengenai bayang-bayang segi tiga Israel, Saudi dan UEA di balik layar upaya kudeta Yordania.

Sejak awal merebaknya berita mengenai gejolak di Amman itu, YA tampil dengan bongkar-bongkaran informasi yang menyebutkan keterlibatan beberapa nama besar, termasuk Pangeran Sharif Hasan bin Zayed, bangsawan Yordania yang tinggal di Saudi dan memegang kewarganegaraan ganda Saudi dan Yordania, dan Bassem Ibrahim Awadallah, mantan kepala istana kerajaan Yordania yang juga pernah menjabat sebagai utusan Raja Abdullah II untuk Saudi.

Menurut media Israel tersebut, Jawad Anani, mantan wakil perdana menteri dan menteri luar negeri Yordania, dalam wawancara dengan situs berita Ammon mengungkapkan bahwa Israel telah menawarkan pesawat khusus untuk melarikan Putri Basma binti Talal, bibi Raja Abdullah II, ke Israel.  Basma adalah saudara perempuan mendiang Raja Hussein, ayah Raja Abdullah II.

YA juga melaporkan bahwa pasukan keamanan Yordania mengepung Kedubes UEA di Amman setelah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menyatakan adanya negara asing yang terlibat dalam upaya kudeta, di tengah tersiarnya rumor mengenai penangkapan dubes UEA.

Surat kabar Israel itu menyebutkan; “Negara-negara asing yang disinggung oleh Menteri Luar Negeri Yordania dalam jumpa pers adalah Saudi dan UEA, sementara penguasa Dubai Mohammed bin Rashid Al Maktoum ceritanya panjang dengan Yordania, menyusul pelarian istrinya, Haya, saudara tiri Raja Abdullah, bersama dua putranya ke London.”

Parahnya, informasi sensitif itu diumbar oleh media Israel dengan nada euforia dan satir, meski rezim Zionis itu masih terikat hubungan dan perjanjian damai dengan Yordania.

Realitas ini menandakan bahwa Israel tak menjaga tatakrama apapun  karena keberadaannya di Timur Tengah memang untuk membebani negara-negara kawasan ini, sehingga alih-alih merawat hubungannya dengan Yordania agar membaik, kalau bukan mesra dan istimewa, malah cenderung memperolok Kerajaan Yordania.

Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua negara Arab dan Muslim, terutama sejumlah negara yang sudah menjalin hubungan ataupun berpotensi menjalin hubungan dengan Israel seperti UEA, Bahrain, Sudan, Maroko dan Arab Saudi.

Beberapa negara ini telah membuka perbatasan dan masyarakatnya kepada kaum Zionis Israel dengan dalih demi mewujudkan cita-cita luhur perdamaian. Padahal, semua negara ini tak pernah berperang dengan Israel untuk kemudian berdamai, sedangkan Yordania dan Mesir yang pernah berperang dengannya lalu berdamai justru tak pernah merasakan manisnya madu perdamaian. Sebaliknya, racunlah yang selalu diterima oleh Mesir dan Yordania selama sekian dekade sejak perdamaian itu terjalin.

Apa yang diumbar oleh media Israel tak berarti mengecilkan kemungkinan keterlibatan orang-orang atau berbagai pihak lain, karena akan banyak lagi misteri yang dapat diungkap di masa mendatang. Tapi terlepas dari itu, satu realitas yang tak patut diabaikan ialah bahwa Israel adalah ibarat air di daun talas, yang akan selalu berubah pendirian sesuai arah angin bertiup,  sehingga konyol jika seseorang menaruh percaya, bersimpati dan optimis kepadanya. (mm/alalam)

Baca juga:

Israel, Saudi dan Abu Dhabi Dilaporkan Terlibat dalam Upaya Kudeta di Yordania

Ansarullah: Israel adalah Pihak yang Paling Diuntungkan dari Gejolak di Yordania

[Video]: Miris, Puluhan Pemuda Zionis Israel Keroyok Seorang Kakek Palestina

DISKUSI: