Putaran Baru Perundingan Nuklir, Adu Cengkal antara Iran dan Barat

0
1599

LiputanIslam.com –  Iran dan beberapa negara besar dunia (Inggris, Prancis, Rusia, China dan Jerman/4+1) dijadwalkan memulai putaran baru perundingan nuklir di Wina, Austria, Senin (29/11), sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan perjanjian Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang diteken pada tahun 2015 dan kemudian terancam buyar akibat pengkhianatan AS, salah satu penandatangannya.

Para diplomat mengatakan waktu sudah hampir habis untuk upaya pemulihan JCPOS, yang diabaikan oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada 2018 hingga Iranpun gusar, dan  negara-negara lain yang terlibat cemas terhadap kondisi ini.

Enam putaran pembicaraan tidak langsung diadakan pada April dan Juni lalu, dan kemudian putaran baru akan dimulai sekarang setelah sekian lama tertunda oleh pemilihan presiden baru Iran yang dimenangi Sayid Ebrahim Raisi.

Tim perunding baru Iran menetapkan tuntutan yang dianggap tidak realistis oleh diplomat AS dan Eropa. Iran bersikeras menuntut pencabutan semua sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan Uni Eropa sejak 2017, termasuk yang tidak terkait dengan program nuklirnya.

Bersamaan dengan ini, perselisihan meningkat antara Teheran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang memantau program nuklir. Iran melanjutkan program pengayaan uranium, sementara IAEA mengaku tim inspeksinya telah mendapat perlakuan kasar dari Iran dan dilarang memasang kembali kamera pengintai di sebuah situs yang dianggap perlu oleh badan tersebut untuk menghidupkan kembali JCPOA.

“Mereka melakukan apa yang cukup secara teknis agar bisa mengubah hubungan mendasar mereka dengan Barat untuk dapat melakukan dialog yang lebih egaliter di masa mendatang,” kata seorang diplomat Barat yang terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Dua diplomat Eropa mengatakan Teheran hanya mencoba mengulur waktu untuk meningkatkan bahan dan keahlian nuklirnya.

Para diplomat Barat mengaku akan melanjutkan pembicaraan pada hari Senin dengan asumsi melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada bulan Juni. Mereka memperingatkan bahwa jika Iran terus bersikap berlebihan dan tak kooperatif lagi dengan IAEA maka mereka harus segera pilihan mereka.

Kepala delegasi perunding dan menteri luar negeri Iran Jumat dan Ahad lalu menegaskan bahwa pencabutan penuh sanksi adalah satu-satunya hal yang mengemuka di atas meja perundingan Wina.

Seorang diplomat Eropa berkomentar, “Jika inilah sikap yang terus dipegang Iran pada hari Senin maka saya tidak melihat solusi yang dinegosiasikan.”

Beberapa diplomat menyebutkan bahwa sekarang hanya tinggal 4-7 minggu lagi dari waktu yang dibutuhkan Iran untuk menimbun bahan fisil yang cukup untuk satu bom nuklir, namun mereka juga menekankan Iran masih perlu waktu dua tahun untuk bisa mengubahnya menjadi senjata yang dapat digunakan.

Jika perundingan itu gagal maka kemungkinan konfrontasi mula-mula akan terjadi di IAEA antara Iran di satu pihak AS dan sekutunya di pihak lain pada bulan depan dengan adanya seruan pertemuan darurat.

Hanya saja, mereka juga berkeinginan untuk mula-mula mengeksplorasi opsi diplomatik alternatif dengan harapan dapat mempertahankan dukungan dari Rusia, yang memiliki pengaruh politik di Iran, serta China, yang memberi Teheran dukungan ekonomi melalui pembelian minyak.

Para diplomat mengatakan bahwa salah satu skenario yang diajukan Washington adalah merundingkan perjanjian sementara terbuka dengan Teheran jika kesepakatan permanen tidak tercapai. Namun, para diplomat menilai  itu akan menelan banyak waktu dan tak pasti pula Iran menginginkannya atau tidak. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Rusia Kecam AS yang Umbar Ancaman ke Iran

Iran Kecam Gerakan AS dan Eropa Anti-Iran Menjelang Perundingan Wina

DISKUSI: