Pesan Lengkap Ayatullah Ali Khamenei Menyambut Musim Haji 2022

0
794

Arafah, LiputanIslam.com–   Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei  menyatakan bahwa persatuan umat Islam merupakan satu di antara dua prinsip ibadah haji, yang ketika disandingkan dengan prinsip lainnya berupa zikir dan spiritualitas maka akan dapat mengantar umat ke puncak kemuliaan dan kebahagiaan.

Dalam pesan yang dibacakan oleh jemah haji Iran di Padang Arafah, Arab Saudi, pada hari Jumat (8/7) dalam rangka menyambut musim haji 1443 Hijriah, Ayatullah Khamenei menyebut ibadah haji sebagai kombinasi dua unsur politik dan spiritualitas.

Berikut ini terjemahan lengkap pesan tersebut:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga salam sejahtera tercurah kepada Mohammad Al-Mustafa serta keluarga dan para sahabat yang mulia.

Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, karena sekali lagi Dia telah menjadikan bulan Dzulhijjah yang diberkahi sebagai tempat pertemuan bagi bangsa-bangsa Muslim dan karena telah menyediakan jalan rahmat dan belas kasihan-Nya ini bagi mereka.

Bangsa Islam dapat sekali lagi mengamati kesatuan dan harmoninya dalam cermin yang jernih dan abadi ini, dan [mengambil kesempatan ini untuk] berpaling dari faktor-faktor yang mengarah pada perpecahan dan perpecahan.

Persatuan bangsa Muslim adalah salah satu dari dua fondasi dasar dari Ibadah Haji. Ketika dikombinasikan dengan spiritualitas dan dzikir, yang merupakan fondasi dasar lain dari kewajiban agama yang begitu penuh rahasia ini, dapat membawa bangsa Islam ke ketinggian kehormatan dan kebahagiaan, dan dapat menjadikan umat sebagai contoh (ayat): “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.”  (QS. 63:8)

Haji adalah kombinasi dari dua elemen politik dan spiritual ini. Dan agama suci Islam adalah perpaduan yang mulia dan agung ranah politik dan spiritual.

Dalam sejarah terkini, musuh bangsa-bangsa Muslim berupaya ekstensif untuk melemahkan dua obat mujarab persatuan dan spiritualitas Islam di antara negara-negara kita. Musuh-musuh Islam berusaha melemahkan spiritualitas dengan mempromosikan gaya hidup barat yang hampa spiritualitas dan yang berakar pada visi dunia yang picik dan materialistis. Mereka berusaha merusak persatuan Islam dengan mempromosikan dan menyebarluaskan faktor-faktor fiktif perpecahan, seperti (perbedaan) bahasa, warna kulit, ras, dan geografi.

Umat ​​Islam, yang sebagian kecilnya kini dapat dilihat dalam ritual simbolis haji, harus bangkit melawannya dengan segenap kekuatannya. Artinya di satu sisi, kita harus memperbanyak zikir kepada Tuhan, berbuat karena Allah, merenungkan firman Allah, dan percaya kepada janji  Allah dalam semua pikiran kita. Dan di sisi lain, setiap orang harus bekerja untuk mengatasi faktor-faktor yang menciptakan perselisihan dan perpecahan.

Apa yang dapat dipastikan hari ini ialah  bahwa situasi dunia dan Dunia Islam kini lebih siap untuk upaya yang berharga ini daripada sebelumnya.

  1. Kebangkitan Islam

Alasan pertama ialah bahwa para elit dan sebagian besar masyarakat umum di negara-negara Islam sekarang sadar akan kekayaan, signifikansi dan nilaipemahaman keagamaan dan warisan spiritual mereka.

Hari ini, liberalisme dan komunisme, dua persembahan spektakuler peradaban Barat, tidak lagi memiliki daya tarik yang sama seperti 100 atau 50 tahun yang lalu. Kredibilitas demokrasi Barat yang digerakkan oleh modal sedang dipertanyakan secara serius, dan para pemikir Barat mengakui bahwa mereka mengalami depresi teoretis dan praktis.

Dengan melihat situasi ini, kaum muda, intelektual, dan agamawan di dunia Islam dapat memperoleh perspektif baru tentang kekayaan dan nilai pengetahuan mereka sendiri, serta arus politik arus utama di negara mereka sendiri. Inilah “Kebangkitan Islam” yang terus kami serukan.

  1. Fenomena Resistensi

Kedua, kesadaran diri Islam ini telah menciptakan fenomena yang mencengangkan dan ajaib di jantung dunia Islam, dan ini menimbulkan masalah serius bagi kubu arogan. Fenomena ini bernama “resistensi,” dan realitasnya diwujudkan dalam kekuatan iman, perjuangan di jalan Allah, dan tawakkal kepadaNya. Ini adalah fenomena yang sama di mana ayat mulia berikut ini diturunkan pada periode awal Islam:

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imran [3]: 173-174)

Situasi di Palestina adalah salah satu manifestasi dari menakjubkan yang menyeret rezim thaghut Zionis dari posisi ofensif dan agresif ke posisi pasif, serta memaksakan padanya problematika politik , keamanan dan ekonomi yang nyata saat ini. Contoh cemerlang resistensi Islam lainnya dapat dilihat jelas di Libanon, Irak, Yaman dan beberapa tempat lainnya.

3) Pemerintahan Republik Islam Iran

Ketiga, selain faktor-faktor lain ini, dunia saat ini menyaksikan model kekuasaan dan pemerintahan Islam politik yang prestisius dan membanggakan di Iran yang Islami. Kestabilan, kemerdekaan, kemajuan, dan kehormatan Republik Islam adalah fenomena besar sarat makna yang dapat memikat pikiran dan perasaan setiap Muslim yang sadar.

Ketidakmampuan dan terkadang kesalahan tindakan para pejabat sistem ini — kesalahan yang telah menunda pencapaian semua berkah pemerintahan Islam — tidak pernah mampu menggoyahkan fondasi yang kokoh atau menghentikan langkah solid yang telah diambil di jalan kemajuan materi dan spiritual (Republik Islam), karena ini diilhami oleh prinsip-prinsip dasar sistem ini.

Faktor-faktor berikut dapat ditemukan di bagian atas daftar prinsip-prinsip dasar ini: kedaulatan Islam di cabang-cabang pemerintahan legislatif dan eksekutif, kebersandaran pada suara rakyat dalam hal-hal administratif terpenting negara, kemerdekaan politik penuh dan penolakan untuk bergantung pada kekuatan yang menindas.

Prinsip-prinsip ini dapat menjadi dasar konsensus antarnegara dan pemerintah Muslim, dan mereka memiliki potensi untuk membawa persatuan dan harmoni bangsa Islam ke arah kerjasama.

Ini adalah prinsip-prinsip dan faktor-faktor yang telah mendorong kondisi yang menguntungkan di dunia Islam untuk gerakan yang harmonis dan terpadu. Lebih dari siapa pun, pemerintah Muslim, elit agamawan dan intelektual, cendikiawan yang berpikiran independen, dan pemuda pencari kebenaran harus berpikir untuk memanfaatkan sepenuhnya kondisi yang menguntungkan ini.

Alat Kekuatan Arogan dalam Menghadapi Persatuan Umat Islam

Wajarlah kiranya bagi kekuatan arogan, terutama AS, resah terhadap tren demikian di Dunia Islam sehingga mereka menggunakan semua sumber daya mereka untuk menghadapinya. Dan inilah yang kami amati.

Taktik yang mereka gunakan berkisar dari mendominasi media dan perang lunak, hingga penghasutan perang dan mengobaran perang proksi, rumor politik, bujukan, intimidasi, penyuapan, dan lain sebagainya.

Masing-masing dan setiap taktik ini digunakan oleh AS dan kekuatan arogan lainnya untuk memisahkan dunia Islam dari jalur kebangkitan dan kebahagiaannya yang sah. Rezim penjahat Zionis yang memalukan di kawasan ini adalah instrumen lain yang mereka gunakan untuk sepak terjang itu.

Upaya ini telah gagal dalam banyak kasus, berkat pertolongan dan kehendak Allah. Dan Barat yang congkak belakangan ini melemah dari hari ke hari di kawasan kita sensitif dan di seluruh dunia. Kegelisahan dan kegagalan AS dan sekutu kriminalnya, rezim perampas (Zionis) di kawasan, dapat dilihat jelas dalam aneka peristiwa terkini di Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, dan Afghanistan.

Aset Pembangunan Masa Depan Dunia Islam dan Faktor Perusaknya

Di sisi lain, dunia Islam sarat dengan para pemuda yang penuh motivasi dan energik. Harapan dan kepercayaan diri adalah aset terbesar untuk membangun masa depan. Saat ini, aset tersebut melimpah di dunia Islam, khususnya di kawasan sekitar. Kita semua memiliki kewajiban untuk melindungi dan meningkatkan aset berharga ini.

Namun, kita tidak boleh mengabaikan siasat musuh barang sesaat. Marilah kita hindari kesombongan dan kelalaian, dan marilah kita meningkatkan kewaspadaan dan usaha kita. Pada setiap saat, marilah kita dengan penuh khusyuk memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa lagi Bijaksana. Berpartisipasi dalam ibadah dan manasik haji memberikan kesempatan besar untuk tawakkal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, serta untuk musyawarah dan pengambilan keputusan.

Berdoalah kepada Allah untuk saudara-saudari Muslim Anda di seluruh dunia, dan mohonlah kesuksesan dan kejayaan mereka. Mohonkanlah pula petunjuk dan pertolongan ilahi untuk saudara-saudara Anda dalam doa-doa suci Anda.

Wassalamualaikum wr. wb.

Sayyid Ali Khamenei

(5 Juli 2022/ Dzulhijjah 5, 1443)

Baca juga:

Inggris Klaim Sita Kapal Pengirim Senjata Iran, Teheran: Klaim Kedaluwarsa dan Tak Berdasar

Iran Sebut Terorisme dan Zionisme Ancaman Utama bagi Keamanan Regional

DISKUSI: