Pergerakan Mesir dan Turki Menuju Perang di Libya

0
88

LiputanIslam.com –  Libya tampak sedang menjalani hitungan mundur menuju perang di kota Sirte dan daerah Al-Jafra, perang yang bukan saja melibatkan kelompok-kelompok internal Libya yang bertikai, melainkan juga berbagai negara pendukung masing-masing kelompok itu.

Turki yang mendukung kubu barat Libya akan berhadapan dengan Mesir yang menyokong kubu timur, sementara di belakang Mesir juga ada beberapa negara lain, yaitu Rusia, Prancis, dan Uni Emirat Arab (UEA). Banyak pengamat militer menduga perang sudah menunggu hari.

Turki telah meningkatkan pengerahan militer dan kesiapannya menyerbu Sirte dan Al-Jafra dengan mengirim ribuan ton perlengkapan militer berat yang terdiri atas tank, kendaraan lapis baja, drone, dan rudal balistik.

Mostafa al-Majai, jubir operasi bersandi Burkan Al-Ghadab” (Gunung Api Kemarahan) yang akan dilancarkan oleh Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dan didukung Turki, dalam siaran pers pada Senin lalu mengkonfirmasi bahwa telah terjadi pengerahan militer besar-besaran di sebelah barat Sirte, dan bahwa “pembebasannya” sudah pasti dan sangat dekat, sebagai persiapan untuk menguasai sumur-sumur dan pelabuhan-pelabuhan minyak di kawasan bulan sabit minyak di barat kota Benghazi, menguasai seluruh wilayah Libya, dan menyudahi “pemberontakan”.

Baca: Turki Sebut Mesir akan Celaka Jika Ikut Terlibat dalam Perang Libya

Di pihak lain, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi telah mengadakan rapat dengan Dewan Pertahanan Nasional, yang melibatkan para petinggi angkatan bersenjata, badan-badan keamanan, dan para menteri. Setelah itu, dia memimpin pertemuan tertutup parlemen yang mendukungnya untuk mendapatkan legitimasi atas intervensi militer Mesir yang berpotensi terjadi dalam krisis Libya.

Mesir tampak juga sudah bertekad untuk melakukan intervensi militer di Libya, melawan pengaruh Turki, mempersenjatai kelompok-kelompok adat Libya, dan membentuk pasukan yang terdiri atas para pemuda Libya. El-Sisi juga telah membangun kanal dialog dengan para putra mantan penguasa Libya mendiang Moammar Gaddafi, terutama Saif al-Islam.

Dikabarkan pula bahwa tentara Mesir mulai membentuk pasukan pemuda suku-suku Libya di perbatasan Mesir-Libya dan mempersenjatai mereka, terutama dari suku-suku Awlad Ali, Ababidah, dan Al-Baraisa, serta merekonsolidasi sisa-sisa pasukan serta batalyon militer dan keamanan Muammar Gaddafi.

Ada pula informasi terpercaya bahwa Ahmad Qaddaf Al-Dam, sepupu Moammar Gaddafi yang tinggal di Kairo berperan kuat dalam rekonsolidasi itu, serta informasi-informasi lain mengenai pertemuan-pertemuan di Kairo dengan para tokoh Libya hingga kemudian ada kecaman dari Abdelmadjid Tebboune terhadap Mesir.

Baca: Soal Libya, Kairo Sebut Ankara Pertaruhkan Kemampuan Bangsa Turki

Di saat yang sama, terpantau pula adanya jembatan angkasa antara Moskow dan Pangkalan Udara al-Jafra di mana Rusia mengerahkan 11 unit pesawat kargo Ilyushin yang mengangkut sistem pertahanan udara Pantsir dan tank. Bahkan ada pula laporan yang menyebutkan pengerahan sistem pertahanan udara S-400 dan lebih dari 20 unit jet tempur MiG-29 dan Su-24.

Alhasil, jika perang sampai berkobar maka akan menentukan jalannya berbagai persoalan di Libya, dan bukan tak mungkin pula justru membuka jalan bagi solusi politik yang diharapkan oleh semua pihak yang campur tangan demi menjaga kepentingan dan jatah masing-masing dari migas Libya.

Hanya saja, seandainyapun perang nanti terhenti maka suasana konflik tetap akan berkepanjangan. Pasalnya, Libya sudah kadung menjadi terminal senjata dan milisi, dan ketika kelompok-kelompok suku bersenjata turun ke lapangan dan bergesekan dengan milisi bersenjata dan pasukan asing maka bara api konfik akan terus membara hingga bertahun-tahun, dan inilah yang bahkan sejak awal sudah diproyeksikan oleh NATO. (mm/raialyoum)

DISKUSI: