Perang Ma’rib, Ketika Ansarullah Berada di Atas Angin

0
1520

LiputanIslam.com – Pertempuran hebat dalam beberapa minggu terakhir terus berkecamuk di front Ma’rib, Yaman, antara kubu Ansarullah (Houthi) dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Data-data di lapangan menunjukkan keberhasilan pasukan Ansarullah mendekati kota Ma’rib serta mengepungnya dari tiga arah.

Bersamaan dengan ini, kelompok-kelompok adat di daerah-daerah yang dikuasai kubu Ansarullah memperlihatkan keberpihakan mereka secara politik dan militer kepada Ansarullah sehingga turut termobilisasi untuk membebaskan Ma’rib dari kubu yang jelas-jelas berlindung di bawah kekuatan militer Saudi dan sekutunya.

Berbagai kabilah di Ma’rib seakan mencerna dengan baik pesan Pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik Al-Houthi bahwa negeri Yaman, tak terkecuali Ma’rib yang kaya minyak, harus bebas dari “mandat asing” dan bahwa bangsa Yaman berhak membela diri di depan agresi dan eskalasi militer Saudi dan sekutunya.

Realitas inilah yang tampak mulai ditangkap pasukan koalisi sebagai sinyal kritis sehingga mereka mengerahkan segenap kemampuan dan mati-matian berusaha mempertahankan posisi-posisinya yang satu persatu jatuh ke tangan kubu Ansarullah.

Namun demikian, sesuai data-data di lapangan, sepak terjang kubu Mansour Hadi yang didukung serangan udara intensif koalisi tak mencegah kemampuan Ansarullah memperkuat posisinya di atas angin dengan merebut berbagai posisi penting di dataran tinggi di sekitar Ma’rib  yang membentang dari kawasan Al-Rak dan Al-Zaur di sisi barat Bendungan Ma’rib hingga daerah sekitar Al-Tal’ah Al-Hamra serta kawasan Al-Atif dan Idat Al-Ra’ di sisi utara.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa pasukan Ansarullah melanjutkan operasi militernya di sisi barat dan utara kota Ma’rib dan terus bergerak maju dengan merebut beberapa posisi baru dan menimpakan kerugian besar pada pasukan koalisi dan sekutunya.

Perkembangan ini terjadi meskipun kubu koalisi dan loyalis Mansour Hadi terus mengerahkan pasukan dan senjata tambahan untuk mempertahankan kota Ma’rib, yang merupakan kubu pertahanan terakhir mereka di bagian utara Yaman.

Tekanan hebat Ansarullah itu menunjukkan terjadinya perubahan besar dalam perimbangan militer di Yaman, yang diperkuat oleh serangan-serangan rudal dan pesawat nirawaknya ke kedalam wilayah Saudi.

Krusialitas perkembangan situasi di Ma’rib bahkan memancing pernyataan-pernyatan sikap baru secara beruntun dari pihak-pihak internasional, termasuk pernyataan PBB dan utusannya untuk Yaman berupa peringatan akan dampak berlanjutnya konfrontasi di Ma’rib, dan pada gilirannya membangkitkan pula berbagai inisiatif untuk penyelesaian melalui kanal politik.

Kata para pengamat, pernyatan-pernyataan sikap dan inisiatif itu seakan dipicu oleh keterdesakan hebat Saudi dan sekutunya di lapangan, dan lebih merupakan tekanan dan upaya untuk mempertahan sisa pamor PBB. Hal ini, menurut sebagian pengamat, merupakan sinyalemen positif karena dapat mencairkan kebekuan di kanal politik Yaman, terlepas dari soal bagaimana perkembangan lebih lanjut dari konfrontasi di Ma’rib.

Yang jelas, keberadaan Ansarullah di atas angin secara militer menjadi kartu kemenangan baginya dalam upaya mendesakkan kepentingan dan persyaratannya berupa penghentian perang dan pencabutan blokade terhadap Yaman, yang tentunya juga sangat diharapkan oleh mayoritas orang Yaman. (mm/alalam)

Baca juga:

Abdel Malik Al-Houthi: Semua Operasi Militer Kami adalah demi Melawan Dominasi dan Agresi Asing

Ansarullah: Kecamuk Perang di Ma’rib adalah Dampak Eskalasi Serangan Saudi dan Sekutunya

DISKUSI: