Perang Idlib dan Mengeruhnya Hubungan Turki dengan Rusia

0
171

LiputanIslam.com –  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan tenggat waktu hingga akhir bulan Februari ini kepada pemerintah Suriah agar menarik Pasukan Arab Suriah (SAA) dari kawasan sekitar pos-pos pemantau pasukan Turki di bagian barat laut Suriah.

Peringatan dari Turki ini direaksi oleh pemerintah Suriah justru dengan pesatnya gerak maju SAA di bagian tenggara provinsi Idlib dan keberhasilannya merebut 20 distrik dan desa dalam jangka waktu 24 jam dan kemudian bahkan, seperti dilaporkan Observatorium Suriah untuk HAM, memasuki kota strategis Saraqib setelah mengepungnya dari tiga arah.

Baca: Menang Lagi, Tentara Suriah Memasuki dan Menyisir Kota Saraqib

Erdogan seolah lupa bahwa kawasan Idlib yang dikuasai oleh Hay’at Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra yang notabene kelompok teroris adalah wilayah Suriah sehingga SAA berhak memulihkan kedaulatan Suriah atasnya.

Militer Suriah dalam sebuah pernyaatan resminya menegaskan, “Keberadaan pasukan Turki di wilayah Suriah adalah ilegal, dan merupakan tindakan agresi secara terbuka, dan karena itu angkatan bersenjata Suriah sepenuhnya siap bereaksi sesegera mungkin terhadap segala segala bentuk agresi pasukan Turki.”

Erdogan mengaku telah memberi tahu Presiden Rusia Vladimir Putin via telefon bahwa Turki akan bereaksi setegas mungkin jika pasukannya diserang oleh SAA. Tapi Erdogan tidak menyebutkan bagaimana respon Putin terhadap ancamannya itu. Kemungkinan besar Putin menolaknya, sebab Rusialah yang memberi SAA lampu hijau untuk memulai serangan di Idlib.

Putin bahkan sudah lebih dari 18 bulan bersabar terhadap Erdogan yang mengaku berkomitmen kepada Perjanjian Sochi yang diteken pada September 2018. Perjanjian ini menekankan keharusan membedakan kelompok teroris dengan kelompok non-teroris serta pemulihan kedaulatan Suriah atas Idlib. Tapi Erdogan tidak mengindahkan keharusan itu dan sengaja mengulur-ulur waktu.

Rusia dan Suriah mengindahkan perjanjian itu, termasuk dengan memperkenankan Turki mengadakan 12 pos pemantau militer di kota Idlib dan sekitarnya. Rusia juga telah menghapus segala kekhawatiran Erdogan atas keamanan nasional Turki ketika Rusia menghalau kelompok-kelompok bersenjata Kurdi dari perbatasan selatan Turki. Tapi Turki tidak konsisten kepada perjanjian itu sehingga terjadi serangan-serangan drone Hay’at Tahrir Sham ke pangkalan udara Hmeimim yang ditempati tentara Rusia di dekat Latakia, Suriah. Hal ini praktis menggusarkan Rusia.

Baca: Tahanan Jabhat Al-Nusra di Aleppo Akui Mereka Didukung oleh Turki dan Arab Saudi

Problema Erdogan dengan Rusia sekarang justru lebih serius dibanding masalahnya dengan Suriah. Masalah itu diperparah oleh Erdogan ketika dia menuding Rusia tidak berusaha menghentikan serangan SAA ke Idlib dan sekitarnya, dan kemudian dia berkunjung ke Ukraina, menjumpai presiden Ukraina, menjalin transaksi perjualan drone kepada angkatan bersenjata Ukraina senilai 200 lira, dan menyokong pemulihan kedaulatan Ukraina atas Semenanjung Krimea yang telah dianeksasi oleh Rusia. Tindakan Erdogan ini jelas memprovokasi Rusia sehingga dinilai oleh banyak pengamat sebagai gegabah, salah waktu, membangkitkan ketegangan dengan Rusia, dan pada akhirnya menimbulkan berbagai dampak negatif.

Erdogan menyatakan bahwa pasukannya yang berada di Suriah, ataupun bala pasukan Turki yang belakangan ini dia kririm untuk menghalangi serbuan SAA ke kota Idlib tidak keluar dari kerangka Perjanjian Adana tahun 1998, yang membolehkan keberadaan pasukan Turki di wilayah Suriah.

Tapi dia lupa bahwa dia telah melanggar perjanjian tahun 2011 ketika dia menyokong kelompok-kelompok pemberontak Suriah, memfasilitasi masuknya puluhan ribu kombatan ke wilayah Suriah melalui wilayah Turki, dan bahkan dalam banyak pernyataan mengaku berusaha “menggulingkan rezim Suriah” yang notabene mitra pemerintah Turki sendiri dalam perjanjian tersebut.

Putin sudah beberapa kali menawarkan kepada Erdogan untuk menghidupkan kembali Perjanjian Adana yang sama-sama menjaga kepentingan dan keamanan nasional Turki dan Suriah, terutama terkait dengan larangan pembiaran kelompok-kelompok teroris dan apalagi dukungan terhadap mereka untuk destabilisasi kedua negara. Namun demikian, Erdogan menolak ajakan Putin tersebut.

Entah bagaimana selanjutnya perkembangan hubungan Turki-Rusia. Yang jelas, Putin menyokong  serangan SAA untuk merebut kota Idlib dan sekitarnya. Angkatan Udara Rusia bahkan membantu kelancaran operasi itu, dan menguasai sepenuhnya zona udara Suriah di sana sehingga berarti siap menghadapi serangan udara Turki terhadap gerak maju SAA di darat. (mm/raialyoum)

DISKUSI: