Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Perang Idlib dan Mengeruhnya Hubungan Turki dengan Rusia

Published 06/02/2020 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

LiputanIslam.com –  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan tenggat waktu hingga akhir bulan Februari ini kepada pemerintah Suriah agar menarik Pasukan Arab Suriah (SAA) dari kawasan sekitar pos-pos pemantau pasukan Turki di bagian barat laut Suriah.

Peringatan dari Turki ini direaksi oleh pemerintah Suriah justru dengan pesatnya gerak maju SAA di bagian tenggara provinsi Idlib dan keberhasilannya merebut 20 distrik dan desa dalam jangka waktu 24 jam dan kemudian bahkan, seperti dilaporkan Observatorium Suriah untuk HAM, memasuki kota strategis Saraqib setelah mengepungnya dari tiga arah.

Baca: Menang Lagi, Tentara Suriah Memasuki dan Menyisir Kota Saraqib

Erdogan seolah lupa bahwa kawasan Idlib yang dikuasai oleh Hay’at Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra yang notabene kelompok teroris adalah wilayah Suriah sehingga SAA berhak memulihkan kedaulatan Suriah atasnya.

Militer Suriah dalam sebuah pernyaatan resminya menegaskan, “Keberadaan pasukan Turki di wilayah Suriah adalah ilegal, dan merupakan tindakan agresi secara terbuka, dan karena itu angkatan bersenjata Suriah sepenuhnya siap bereaksi sesegera mungkin terhadap segala segala bentuk agresi pasukan Turki.”

Erdogan mengaku telah memberi tahu Presiden Rusia Vladimir Putin via telefon bahwa Turki akan bereaksi setegas mungkin jika pasukannya diserang oleh SAA. Tapi Erdogan tidak menyebutkan bagaimana respon Putin terhadap ancamannya itu. Kemungkinan besar Putin menolaknya, sebab Rusialah yang memberi SAA lampu hijau untuk memulai serangan di Idlib.

Putin bahkan sudah lebih dari 18 bulan bersabar terhadap Erdogan yang mengaku berkomitmen kepada Perjanjian Sochi yang diteken pada September 2018. Perjanjian ini menekankan keharusan membedakan kelompok teroris dengan kelompok non-teroris serta pemulihan kedaulatan Suriah atas Idlib. Tapi Erdogan tidak mengindahkan keharusan itu dan sengaja mengulur-ulur waktu.

Rusia dan Suriah mengindahkan perjanjian itu, termasuk dengan memperkenankan Turki mengadakan 12 pos pemantau militer di kota Idlib dan sekitarnya. Rusia juga telah menghapus segala kekhawatiran Erdogan atas keamanan nasional Turki ketika Rusia menghalau kelompok-kelompok bersenjata Kurdi dari perbatasan selatan Turki. Tapi Turki tidak konsisten kepada perjanjian itu sehingga terjadi serangan-serangan drone Hay’at Tahrir Sham ke pangkalan udara Hmeimim yang ditempati tentara Rusia di dekat Latakia, Suriah. Hal ini praktis menggusarkan Rusia.

Baca: Tahanan Jabhat Al-Nusra di Aleppo Akui Mereka Didukung oleh Turki dan Arab Saudi

Problema Erdogan dengan Rusia sekarang justru lebih serius dibanding masalahnya dengan Suriah. Masalah itu diperparah oleh Erdogan ketika dia menuding Rusia tidak berusaha menghentikan serangan SAA ke Idlib dan sekitarnya, dan kemudian dia berkunjung ke Ukraina, menjumpai presiden Ukraina, menjalin transaksi perjualan drone kepada angkatan bersenjata Ukraina senilai 200 lira, dan menyokong pemulihan kedaulatan Ukraina atas Semenanjung Krimea yang telah dianeksasi oleh Rusia. Tindakan Erdogan ini jelas memprovokasi Rusia sehingga dinilai oleh banyak pengamat sebagai gegabah, salah waktu, membangkitkan ketegangan dengan Rusia, dan pada akhirnya menimbulkan berbagai dampak negatif.

Erdogan menyatakan bahwa pasukannya yang berada di Suriah, ataupun bala pasukan Turki yang belakangan ini dia kririm untuk menghalangi serbuan SAA ke kota Idlib tidak keluar dari kerangka Perjanjian Adana tahun 1998, yang membolehkan keberadaan pasukan Turki di wilayah Suriah.

Tapi dia lupa bahwa dia telah melanggar perjanjian tahun 2011 ketika dia menyokong kelompok-kelompok pemberontak Suriah, memfasilitasi masuknya puluhan ribu kombatan ke wilayah Suriah melalui wilayah Turki, dan bahkan dalam banyak pernyataan mengaku berusaha “menggulingkan rezim Suriah” yang notabene mitra pemerintah Turki sendiri dalam perjanjian tersebut.

Putin sudah beberapa kali menawarkan kepada Erdogan untuk menghidupkan kembali Perjanjian Adana yang sama-sama menjaga kepentingan dan keamanan nasional Turki dan Suriah, terutama terkait dengan larangan pembiaran kelompok-kelompok teroris dan apalagi dukungan terhadap mereka untuk destabilisasi kedua negara. Namun demikian, Erdogan menolak ajakan Putin tersebut.

Entah bagaimana selanjutnya perkembangan hubungan Turki-Rusia. Yang jelas, Putin menyokong  serangan SAA untuk merebut kota Idlib dan sekitarnya. Angkatan Udara Rusia bahkan membantu kelancaran operasi itu, dan menguasai sepenuhnya zona udara Suriah di sana sehingga berarti siap menghadapi serangan udara Turki terhadap gerak maju SAA di darat. (mm/raialyoum)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account