Pentingnya Pemikiran Fathi Shaqaqi 26 Tahun Setelah Syahadahnya

0
2229

LiputanIslam.com-Fathi Shaqaqi lahir pada tahun 1951 di kamp pengungsi Rafah. Ia tumbuh besar di lingkungan miskin akibat kondisi yang dipaksakan Rezim Zionis atas rakyat Palestina. Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Mesir, Shaqaqi pun kembali ke Palestina.

Ia mendirikan Jihad Islam di akhir dekade 70 dengan mengadopsi Revolusi Islam Iran. Kelompok ini memiliki berbagai pemikiran yang bunga-bunga apinya masih menyala hingga kini.

Jihad Islam membentuk sayap militernya, Brigade al-Quds, dengan dasar pemikiran bahwa musuh pertama-tama diancam secara verbal, namun sekarang dengan rudal.

Kelompok ini mengambil ideologinya dari pribadi seperti Shaqaqi, yang pada hakikatnya tidak mati dan akan terus abadi.

Buku-buku politik, budaya, dan keyakinan Shaqaqi tidak hanya menunjukkan kepribadian serta pandangannya saja, namun juga merefleksikan pemikiran-pemikirannya, yang telah difondasikan untuk mewujudkan pembebasan Palestina.

Sekjen Jihad Islam, Ziyad al-Nakhalah mendeskripsikan Shaqaqi dengan berkata,”Fathi Shaqaqi adalah nama samaran Palestina, yang telah menebar benih kesadaran dan revolusi di masa hidupnya; masa ketika para pejuang menghunus pedang dari sarungnya untuk bertempur.”

Shaqaqi kerap menyatakan, Palestina hanya bisa dibebaskan dengan jihad dan perlawanan. Ini adalah fakta yang disadari Rezim Zionis, sehingga mendorongnya untuk meneror Shaqaqi.

Namun Israel tidak mampu menghalangi penyebaran ideologi pejuang Palestina ini. Oleh karena itu, meski sudah 26 tahun berlalu sejak ia dibunuh, keberadaannya sangat dibutuhkan untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional.

Kita perlu menekankan kembali bahwa jihad dan perlawanan adalah opsi tunggal untuk membebaskan Palestina sepenuhnya. Kita juga mesti menegaskan kembali slogan utama Shaqaqi, bahwa isu Palestina harus menjadi prioritas di Dunia Arab dan Islam. Sebab, konflik internal di berbagai negara-negara Islam telah menjauhkan mereka dari isu utama ini serta mengalihkan fokus mereka dari musuh asli Dunia Islam.

Di akhir tulisan, kami mengingatkan kembali salah satu ucapan terpenting Shaqaqi:”Dalam pandangan Alquran, kehancuran Israel adalah sebuah keniscayaan…Palestina adalah tempat penjagalan proyek penjajahan, sebab Israel adalah jantung dari proyek ini. Darah para martir adalah urat nadi kehidupan perlawanan, jihad, dan kebebasan.” (af/alalam)

Baca Juga:

Israel Gagal Ubah Identitas Warga Palestina di Tanah Pendudukan 1948

Bela Tahanan yang Mogok Makan, Jihad Islam Palestina Serukan Konfrontasi dengan Israel

DISKUSI: