Israel Gagal Ubah Identitas Warga Palestina di Tanah Pendudukan 1948

0
2501

LiputanIslam.com-Ada banyak buku dan artikel yang ditulis tentang masalah Palestina, baik sebelum atau sesudah dijajah Rezim Zionis. Namun sedikit tulisan yang membahas warga Palestina yang menolak meninggalkan tanah mereka di tahun 1948. Saat ini, warga Palestina tersebut berubah menjadi problem bagi Rezim Zionis.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa intifada pada Oktober 2000 telah mendorong para analis membahas aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi warga Palestina ini.

Israe selalu mewaspadai bahaya dari sekelompok warga Palestina ini. Buktinya adalah pemerintahan militer kejam yang dipaksakan atas mereka sejak 1948 hingga 1966. Mereka diharuskan meminta izin dari Otoritas Militer Israel jika hendak pindah.

Bertambahnya populasi warga Palestina ini mendorong Israel untuk memisahkan mereka dari lingkungan Islam dan identitas asli Palestina, serta memaksakan model kehidupan dengan standar di bawah level hidup orang Yahudi, namun tetap terikat dengan masyarakat Israel.

Perancang proyek ini adalah kelompok sayap kiri Rezim Zionis. Mereka berusaha merekrut warga Palestina di Tanah Pendudukan 1948 ke partai-partai mereka dan mengubah mereka menjadi pembela Israel yang memiliki bahasa dan ras berbeda. Berdasarkan proyek ini, warga Palestina dipaksa untuk memasuki Knessett (Parlemen Israel) demi memberikan legitimasi kepada Israel sebagai rezim demokratis.

Namun Rezim Zionis gagal mewujudkan proyek ini, yang dimulai dengan kebangkitan Hari Bumi pada 30 Maret 1976. Di hari itu, Israel berusaha merampas sebagian tanah warga Palestina di kawasan Galilea. Namun warga Palestina melakukan perlawanan.

Di hari pertama bentrokan antara warga dan Tentara Israel, sejumlah warga gugur, terluka, atau ditangkap. Mereka adalah orang-orang yang berafiliasi kepada faksi-faksi Resistansi, seperti Fatah, Front Rakyat Pembebasan Palestina, dan Front Demokratis.

Tahap berikut yang memaksa Israel mengubah kebijakan keamanannya adalah intifada Oktober 2000. Dengan dimulainya Intifada II dan gugurnya 13 warga Palestina di Tanah Pendudukan 1948, proyek perekrutan warga Palestina pun gagal untuk selamanya. Rakyat Palestina membuktikan bahwa mereka tak akan berpisah dari akar dan asal muasalnya.

Di sinilah Israel lalu merancang proyek berikutnya, yaitu “perusakan citra.” Untuk itu, Israel mengucilkan masyarakat Palestina di dalam wilayahnya. Caranya adalah dengan mengabaikan masalah keamanan, kerusuhan, kriminal, dan bahkan membantu penyebaran ketidakamanan di kota dan desa-desa yang ditinggali warga Palestina.

Proyek ini membuat warga Palestina disibukkan dengan masalah-masalah keamanan, sehingga terpaksa merujuk ke perangkat keamanan Israel untuk mengatasinya. Saat itu, Rezim Zionis berpuas diri karena merasa sukses menyibukkan warga Palestina dan menjauhkan mereka dari lingkungan Arab-Islam.

Sampai tibalah tahap terakhir.

Dengan dimulainya perang Gaza (Perang 11 Hari) yang benar-benar menyibukkan Rezim Zionis, terbukti bahwa Palestina akan selalu tetap berada di hati rakyatnya, di mana pun mereka berada. Demo-demo yang melanda berbagai titik di Tanah Pendudukan 1948 memaksa para pengamat, analis, dan pakar ekonomi-politik untuk memikirkan perang selanjutnya; perang yang salah satu frontnya adalah kawasan di Tanah Pendudukan 1948.

Tidak bisa dipastikan apa yang dipikirkan badan-badan keamanan dan politik Israel. Namun mereka pasti sadar bahwa proyek-proyek mereka selama 73 tahun untuk mengubah identitas warga Tanah Pendudukan 1948 menjadi Arab-Israel kembali gagal untuk kesekian kalinya. (af/alalam)

Baca Juga:

Soroti Pidato Sayid Nasrallah, Media Israel Fokus pada “100,000 Pasukan Hizbullah”

Iran: Referendum adalah Solusi Tunggal untuk Palestina

DISKUSI: