LiputanIslam.com –  Situasi di Jalur Gaza mendidih, dan Israelpun bahkan mempersiapkan tempat-tempat penampungan untuk mengantisipasi keadaan terburuk menyusul aksi terornya terhadap seorang seorang komandan terkemuka sayap militer faksi Jihad Islam, Brigade Quds, Baha Abu al-Ata, dan target lain di Damaskus, ibukota Suriah.

Pasukan Zionis Israel Selasa lalu (12/11/2019) melancurkan dua serangan roket dengan tujuan menghabisi dua pemimpin terkemuka gerakan Jihad Islam; pertama adalah Baha Abu al-Ata, dan kedua adalah Akram Ajouri, seorang anggota biro politik Jihad Islam di Damaskus. Abu al-Atta dan istrinya gugur, sementara Ajouri selamat, meskipun putranya, Muadz, dan seorang pengawalnya gugur syahid akibat serangan itu.

Baca: Sekilas Tentang Syahid Baha Abu Al-Ata

Jihad Islam dan faksi-faksi perlawanan Palestina lainnya membalas serangan Israel itu dengan melepaskan lebih dari 160 roket ke berbagai kota dan permukiman Zionis di selatan Israel, termasuk Tel Aviv, Hadera, Ashkelon dan Sderot.

Menurut media Israel, balasan dari Jalur Gara menjatuhkan 46 orang korban “luka ringan” di pihak Israel, menimbulkan kerusakan pada beberapa rumah di Sderot dan Netivot di bagian selatan Israel, dan membuat sekolah-sekolah di wilayah pendudukan Palestina tahun 1948 itu terpaksa diliburkan kharena khawatir terjadi eskalasi serangan balasan dari Gaza.

Baca: Usai Syahidnya Abu Al-Ata, Roket-roket Palestina Langsung Menghujani Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menebar aksi berdarah itu terutama sebagai upaya meningkatkan peluangnya untuk tetap menjadi perdana menteri dan demi menghindari ancaman hukuman penjara dalam kasus korupsi.

Beberapa petinggi gerakan Jihad Islam, faksi yang tidak berpartisipasi dalam pemilihan legislatif atau pemilihan presiden Palestina di bawah Kesepakatan Oslo, menegaskan bahwa mereka akan terus berusaha melancarkan serangan balasan sengit.

“Musuh, Israel, telah melampaui semua garis merah, dan gerakan ini akan membalas darah para syuhadanya,” tegas Sekjen Jihad Islam Ziyad al-Nakhalah yang dikenal sebagai sosok bergaris keras.

Senada dengan ini, Khaled al-Batsh, anggota biro politik Jihad Islam, dalam sebuah pidato pada majelis belasungkawa atas gugurnya Abu al-Ata dan istrinya yang berlangsung di Masjid Al-Omari di Gaza menegaskan pihaknya “akan membalas tanpa perhitungan”, suatu pernyataan yang seakan mengabaikan apa yang ditengara oleh para pengamat di Jalur Gaza bahwa faksi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) cenderung kepada de-eskalasi.

Pusat komando gabungan yang mencakup sayap-sayap militer faksi-faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza mengadakan pertemuan darurat untuk membahas aksi teror Israel tersebut dan mekanisme pembalasan atasnya. Tidak ada pengumuman mengenai keputusan yang diambil dalam pertemuan ini, namun ada dugaan bahwa semua faksi sepakat untuk membalas.

Rakyat Palestina di Jalur Gaza maupun Tepi Barat juga tampak sedang naik darah. Para pelayat menuntut pembalasan telak, dan sumber-sumber di Jalur Gaza menegaskan adanya tuntutan pembalasan secepatnya dan penolakan terhadap de-eskalasi.

Sumber-sumber yang sama juga menegaskan bahwa gerakan Jihad Islam menolak mediasi Mesir yang diminta Netanyahu untuk meredakan keadaan, sementara semua petinggi Jihad Islam menutup telepon mereka, dan menolak berkomentar mengenai mediasi Mesir.

Jalur Gaza sedang mengalami eskalasi ketegangan yang bisa jadi akan berkepanjangan, dan dapat pula menyulut perang panjang. Al-Nakhalah melontarkan ancaman bahwa serangan balasan akan menyasar Tel Aviv dan bandaranya serta berbagai fasilitas infrastruktur Israel lainnya. Usai ancaman ini, salah satu roket yang melesat dari Jalur Gaza menerjang kawasan yang terletak di antara kota Quds (Yerussalem) dan Ramallah, dan satu roket lain menghantam jalan protokol Tel Aviv.

Baca: Hizbullah Kutuk Serangan Israel ke Jalur Gaza

Netanyahu adalah orang yang bertanggung jawab atas agresi Israel dan karena itu harus siap pula menanggung resikonya. Jalur Gaza tenang sebelum agresi kali ini, karena semua faksi pejuang, termasuk Jihad Islam dan Hamas, mematuhi gencatan senjata yang dicapai oleh mediator Mesir terkait dengan konfrontasi Gaza-Israel sebelumnya.

Tidak jelas apakah Hamas akan mengambil bagian dalam pembalasan.  Jika Hamas berpartisipasi maka ribuan roket dapat menyasar target-target vital dan berbagai kota Israel, dan menyebabkan kerugian jiwa dan materi dalam jumlah besar, mengingat pernyataan yang pernah disampaikan oleh pemimpin Hamas Yahya Sinwar di Jalur Gaza bahwa pihaknya memiliki 70.000 rudal canggih dan berpresisi, yang mampu membom target Israel selama enam bulan tanpa putus.

Ketika Israel membunuh Yahya Ayyash, seorang pemimpin sayap militer Hamas, Brigade Ezzeddin Al-Qassam, pada tahun 1995, kelompok ini bersumpah untuk melakukan empat operasi berani mati syahid sebagai pembalasan. Sumpah itupun lantas mereka buktikan hingga hampir sebanyak 40 orang Israel tewas dan ratusan lainnya terluka di Yerusalem, Hadera dan Tel Aviv.

Karena itu, pertanyaannya yang mencuat sekarang ialah seberapa besar serangan Jihad Islam selaku mitra Hamas dalam membalas darah pemimpinnya, Abu Al-Atta? Sekjen Jihad Islam Ziyad al-Nakhalah tentunya adalah satu-satunya orang yang memiliki jawaban atas pertanyaan ini. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*