Netanyahu, antara Pelukan Bin Zayed dan Kejaran Mahkamah Pidana Internasional

0
2737

LiputanIslam.com-Kanal 12 Israel melaporkan, PM Benyamin Netanyahu tidak memberitahukan kunjungannya ke UEA Kamis kemarin kepada Menlu Gaby Ashkenazi dan Menteri Perang Benny Gantz. Dua menteri Israel ini baru mengetahui kabar perjalanan Netanyahu dari media.

Ini menunjukkan bahwa UEA telah menjadi gerbang kampanye bagi PM Israel. Berdasarkan hasil jajak pendapat di Israel, Netanyahu tidak akan bisa membentuk pemerintahan sendirian tanpa bantuan pihak lain.

Menurut media-media Israel, kunjungan itu hanya berlangsung beberapa jam saja; kunjungan yang sudah ditunda hingga 3 kali selama beberapa bulan terakhir. Dalam kunjungan itu, Netanyahu mengambil foto bersama Putra Mahkota Abu Dhabi Muhammad bin Zayed demi meraup suara untuk kepentingan partainya di pemilu Knesset.

Tampaknya UEA dan Bahrain, dan setelah mereka, Saudi, telah menaruh semua telur mereka di keranjang Netanyahu dan memberikan dukungan untuknya. Bukan suatu kebetulan jika Muhammad Mahmud Al Khajah dipilih sebagai Dubes UEA di Israel. Pemilihan itu dilakukan untuk memberikan dukungan kuat kepada Netanyahu, yang menghadapi persaingan ketat dalam pemilu dan di lain pihak, menjadi incaran pihak berwajib atas sejumlah kasus korupsi.

Dari sisi lain, sangat jelas bahwa UEA begitu terburu-buru mengirim dubes ke Israel. Dubes UEA bahkan sudah mengunjungi Israel sebelum tempat Kedubes dan kediamannya ditentukan. Al Khajah hanya akan melawat ke Israel selama tiga hari, lalu kembali ke negaranya sampai tempat Kedubes dan kediamannya ditentukan.

Stasiun televisi Israel, i24News memberitakan dukungan UEA, Bahrain, dan Saudi untuk Netanyahu secara gamblang. Mengutip dari sumber-sumber Saudi, i24News menyatakan,”Riyadh mengamati pemilu Israel dengan cermat dan menganggap Netanyahu sebagai ujung tombak dalam melawan Iran. Riyadh khawatir jika pemimpin oposisi Yair Lapid menjadi pengganti Netanyahu.”

Menurut kutipan dari pihak yang disebutnya “dekat dengan keluarga Kerajaan,” i24News menambahkan bahwa “Saudi bukan hanya memprioritaskan Netanyahu, tapi juga menyukainya. Dia mengagumkan, memiliki daya tarik, dan mengetahui apa yang ia lakukan.”

Namun perlu diingat bahwa berbeda dengan Saudi dan UEA, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) tidak menyukai Netanyahu. ICC telah merilis perintah penangkapan sejumlah petinggi Rezim Zionis, termasuk Netanyahu. Perintah ini dikeluarkan menyusul dimulainya penyelidikan atas kejahatan perang Israel di Palestina. (af/alalam)

Baca Juga:

Tiga Nelayan Palestina Gugur, Jihad Islami Ancam Balas Israel

Alasan Biden Baru Mengontak Netanyahu Sebulan Setelah Dilantik

DISKUSI: