Alasan Biden Baru Mengontak Netanyahu Sebulan Setelah Dilantik

0
120

LiputanIslam.com-Setelah satu bulan penantian, akhirnya Presiden AS Joe Biden pun menghubungi PM Israel Benyamin Netanyahu. Menurut pemberitaan media, perbincangan antara mereka berlangsung hingga satu jam.

Biden baru mengontak Netanyahu setelah satu bulan dari pelantikannya, sementara dalam rentang waktu ini ia sudah menghubungi 10 pemimpin negara lain di dunia. Penundaan ini memperkuat analisis bahwa Biden memiliki masalah fundamental dengan pribadi Netanyahu.

Puncak masalah ini adalah keberpihakan Netanyahu terhadap Donald Trump dalam Pilpres AS silam. Dengan penundaan yang bersifat merendahkan ini, pada hakikatnya Biden mengirim pesan berbalut kekecewaan kepada Netanyahu, juga para suksesornya, soal bagaimana Israel mesti bersikap terhadap AS. Di saat bersamaan, Biden berusaha menunjukkan diri sebagai pendukung seratus persen Israel, namun ‘marah’ terhadap perilaku Netanyahu.

Dahulu, Trump mengontak Netanyahu dua hari setelah pelantikannya, sementara Biden menunda kontak hingga satu bulan. Bisa saja penundaan ‘untuk memberi pelajaran’ ini bisa berlanjut hingga pekan-pekan mendatang. Namun, dengan melihat pertemuan Menlu AS dengan tiga koleganya dari Eropa (Prancis, Jerman, dan Inggris) pada hari Kamis (18/2) soal JCPOA, dan dari sisi lain, lawatan Rafael Grossi dari IAEA ke Teheran pada Sabtu besok, dan berakhirnya tenggat waktu Iran untuk keluar dari Protokol Susulan dalam beberapa hari mendatang, maka Biden pun memilih untuk mengontak Netanyahu.

Dengan kontak ini, Biden ingin menegaskan adanya kesatuan politis antara AS, Eropa, dan Israel terkait program nuklir Iran. Di sisi lain, Biden mengirim pesan bernada ancaman demi memaksa Iran merevisi kebijakan-kebijakan nuklirnya, terutama implementasi UU Tindak Strategis Penghapusan Sanksi. Hal ini bisa dilihat dari statemen Gedung Putih terkait konten perbincangan Biden-Netanyahu yang berporos pada isu Iran.

Pada hakikatnya, dalam situasi saat ini, satu-satunya alasan AS bertahan di Timteng adalah untuk melindungi Rezim Zionis. Di hari-hari ini, sudah tidak ada lagi omongan soal kebutuhan AS kepada minyak Timteng, atau slogan usang soal dukungan terhadap demokrasi di Kawasan.

Dari segitiga strategis AS di Kawasan, yaitu minyak, demokrasi, dan Israel, yang tersisa hanya sisi terakhir. Selain berbagai bentuk dukungan lain, Israel tiap tahun mendapatkan bantuan pertahanan senilai hampir 4 milyar dolar dari AS.

Dengan melihat tradisi strategis AS ini, Biden tak punya pilihan selain mengontak Netanyahu. Namun ia baru melakukannya setelah sekian waktu untuk mengirim pesan kepada komunitas Zionis bahwa ia hanya bermasalah dengan Netanyahu, bukan Israel. Ia juga ingin menunjukkan komitmennya kepada tujuan gabungan AS-Israel di Kawasan, kendati ia tidak terlalu suka jika nanti Netanyahu mendapatkan suara di pemilu Israel mendatang. (af/alalam)

Baca Juga:

AS Nyatakan akan Bekerjasama dengan Saudi Sejauh Kepentingan Kolektif

[Video]: Setelah Mengancam, Hizbullah Rilis Video Posisi-Posisi Militer di Kota-Kota Israel

DISKUSI: