Misteri di Balik Jatuhnya Pesawat Militer AS di Afghanistan

0
299

LiputanIslam.com – AS akhirnya mengakui bahwa pesawat militer mata-matanya di Afghanistan tertembak jatuh oleh Taliban dan semua orang yang ada di dalamnya tewas. Dari manakah rudal yang digunakan Taliban dalam penembakan itu berasal? Dari China ataukah dari Iran? Lantas bagaimana dampak pukulan telak dari Taliban ini bagi Trump dan para petinggi AS lainnya dalam perkembangan konflik di Afghanistan?

Taliban tidak berdusta ketika juru bicaranya, Zabihullah Mujahid, menyatakan pihaknya telah menjatuhkan pesawat mata-mata AS di provinsi Ghazni, Aghanistan timur, yang membawa para petinggi militer AS, dan semuanya tewas sehingga menjadi tamparan keras bagi Presiden AS Donald Trump dan jajaran petinggi militernya.

Setelah sempat bungkam, para petinggi AS akhirnya terpaksa mengkonfirmasi klaim Taliban tersebut. Hanya saja, mereka mencukupkan tanggapannya itu dengan hanya menyatakan bahwa pesawat itu kecil, dan hingga kini tidak menyebutkan jumlah tentara yang tewas serta pangkat mereka.

Video dan gambar-gambar yang viral di media sosial, terutama Twitter, terkait dengan bangkai dan puing pesawat itu, serta penelitian yang dilakukan oleh sejumlah pakar mengkonfirmasi bahwa pesawat itu berjenis Bombardier / Northrop Grumman E-11A, yang oleh tentara AS digunakan untuk tujuan mata-mata di Afghanistan, berukuran sedang, dan kemungkin besar tertembak jatuh oleh rudal mutakhir.

Peristiwa ini tercatat sebagai satu perkembangan militer tersendiri, di mana sebuah pesawat AS yang berteknologi canggih telah tertembak jatuh sehingga menjadi pukulan telak bagi Presiden Trump dan jajaran militernya beserta rencana-rencananya di Afghanistan, sekaligus memperkuat daya tawar Taliban dalam negosiasi.

Taliban menuntut penarikan sesegera mungkin seluruh pasukan AS yang berjumlah 14000 personil dari Afghanistan tanpa ada konsesi apapun dari mereka kecuali menjamin tidak akan menyerang proses penarikan itu.

Perundingan antara delegasi Taliban dan delegasi AS pimpinan Zalmai Khalilzad yang telah berlangsung di Doha runtuh akibat serangan Taliban ke pangkalan militer Begram pada Desember 2019. Serangan itu mengekspresikan penolakan tegas Taliban terhadap keinginan AS agar Taliban mengurangi intensitas serangannya sebagai syarat untuk melanjutkan perundingan. Taliban bersikukuh melanjutkan serangan militer meski perundingan tetap berjalan, seakan belajar dari peristiwa Perang Vietnam pada tahun 1970-an.

Pertanyaan yang kini mengemuka di kalangan pengamat militer ialah bagaimana Taliban bisa mendapatkan rudal canggih untuk menjatuhkan pesawat itu, dan bagaimana resikonya bagi pesawat dan helikopter militer AS di Afghanistan.

Di sini ada dua spekulasi yang mungkin menjawab pertanyataan itu;

Pertama, Iranlah – yang konon menjalin hubungan kuat dengan Taliban – yang pada hari-hari belakangan ini membekali kelompok itu dengan rudal-rudal yang setara dengan senjata yang telah menjatuhkan pesawat nirawak Global Hawk di angkasa Hormuz pada akhir-akhir tahun lalu. Iran membekali Taliban dengan senjata itu dalam rangka membalas darah Jenderal Soleimani.

Kedua, rudal itu berasal dari China dan sampai ke tangan Taliban melalui Pakistan yang bersekutu erat dengan Taliban. Kerjasama militer Taliban dengan Pakistan belakangan dilakukan secara terbuka sehingga AS membekukan bantuannya kepada Pakistan senilai miliaran dolar pertahun, dan pemerintahan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan pun tidak lagi optimal dalam berkomitmen memerangi terorisme di negara jirannya, Afghanistan.

Baca: Video: Pesawat Militer AS Jatuh di Afghanistan, Taliban Mengaku Menembaknya

Kementerian Pertahanan AS Pentagon tampak was-was dan eggan berkomentar tentang serangan yang menimpa pasukannya di Afghanistan. Hingga tulisan ini disusun, Pentagon tak bersedia menyebutkan jumlah tentaranya yang tewas dan apa saja pangkat mereka.

Lantas apakah insiden penembakan pesawat itu membuka babak baru eskalasi dalam Perang Afghanistan yang belakangan ini terlupakan? Jawabannya positif sekali, terlebih ketika musim semi sudah dekat dan hamparan salju akan segera mencair, sebab di musim itulah operasi militer Taliban meningkat.

Baca: Ini Jumlah Bom yang Dijatuhkan AS di Afghanistan Selama 2019

Menariknya lagi, penembakan pesawat militer AS itu terjadi di saat-saat menjelang Presiden AS mengumumkan detail Perjanjian Abad Ini, yaitu prakarsa yang dicanangkan Trump untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel, namun dengan rencana-rencana yang sangat merugikan pihak Palestina manakala faksi-faksi Palestina justru menyerukan tekad untuk kembali ke langkah awal, yaitu resistensi dengan segala bentuknya setelah proses perdamaian runtuh.  Karena itu, tak heran ketika ada orang Palestina berseru, “Carilah keberanian, kejantanan, dan keteguhan meski di negeri Afghanistan dan dari tangan Taliban!” (mm/raialyoum)

DISKUSI: