Mengapa The Independent Menyebut Sanksi AS sebagai Terorisme Negara?

0
161

LiputanIslam.com –  Pemerintah Amerika Serikat (AS) belakangan ini menjatuhkan sanksi terhadap semua bank Iran, termasuk yang sama sekali tak dikenai tuduhan bekerjasama dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pasukan elit Iran yang notabene paling dimusuhi AS.

Surat kabar The Independent menyebut keputusan itu sebagai manifestasi terorisme negara, yakni aksi teror yang dilakukan ataupun disponsori oleh negara. Penilaian surat kabar Inggris ini tidaklah berlebihan. Sebab, rakyat Iranlah pihak yang paling tertekan dan dirugikan oleh sanksi demi sanksi yang direproduksi oleh Washington terhadap Teheran sejak lebih empat dekade silam.

Hal yang sama juga berlaku pada semua sanksi yang diterapkan AS terhadap negara-negara lain semisal Venezuela, Libya, Irak, Korea Utara, Suriah, Palestina dan Libanon.

Pada kenyataannya, badai sanksi AS tak berhasil menggulingkan pemerintah di Iran dan Suriah. Di Venezuela, Presiden Nicolas Maduro  yang pantang mundur melawan kesewenang-wenangan AS justru semakin popular atas keberanian dan resistensinya di negara Amerika Latin ini. Sedangkan lawan politiknya, Juan Guaido yang namanya sempat melejit di berbagai media internasional kini malah sudah dilupakan orang. Guaido bahkan terjerat tuduhan sebagai pengkhianat dan antek dinas rahasia AS anti-Venezuela.

Sanksi AS terhadap Iran yang dihuni oleh lebih dari 70 juta jiwa jelas terlampau sadis dan tak berprikemanusiaan ketika negara republik Islam itu, sebagaimana negara-negara lain, sedang berjibaku melawan perluasan pandemi Covid-19.

Virus ini belakangan ini menyebar di Iran dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga banyak rumah sakit tak sanggup menampung pasien-pasien baru karena kekurangan ranjang rawat inap dan obat-obatan yang diperlukan akibat ketatnya blokade.

Presiden AS Donald Trump sebagai sosok yang rasis dan sadis tentu sangat menikmati laporan-laporan mengenai meningkatnya jumlah kematian yang mengerikan di Iran. Dia sendiri mengaku mengidap penyakit yang sama, tapi dia tetap saja tak punya perasaan, dan tak tersentuh oleh rasa dan norma kemanusiaan akibat kebencian dan kedengkian yang sudah mendarah daging dalam dirinya.

Raja tega sedemikian rupa tidaklah aneh ketika dalam sebuah video yang beredar belakangan ini dia terlihat mencibir pemerintahan AS sebelumnya karena tidak menjarah kekayaan minyak Irak, tidak menuntut Irak yang telah diperangi, diduduki, dan dibunuhi rakyatnya membayar US$ 2 triliun sebagai biaya pendudukan militer atas Negeri 1001 Malam itu.

Dia bahkan juga memperolok adanya entitas yang bernama bangsa Irak. Naifnya, di Irak sendiri malah ada oknum-oknum yang mendukungnya dan menyokong kebercokolan pasukan AS di Irak.

Tidaklah terlalu penting apakah Trump akan sukses ataupun terjatuh dalam pemilu presiden. Yang jelas, dia sudah memperlihatkan secara resmi sesadisme dan rasisme AS, dan sudah pasti para korbannya akan sulit melupakan dan memaafkannya. (mm/railayoum)

Baca juga:

Mana yang Harus Dikhawatirkan Gedung Putih, Corona di AS atau Iran?

Trump kepada Bin Zayed: Yakinkan Negara-negara Lain untuk Normalisasi dengan Israel

DISKUSI: