Mengapa Poros Resistensi Tak Kunjung Membalas Serangan Israel ke Suriah?

0
168

LiputanIslam.com –  Warga Suriah ataupun kalangan yang pro-Poros Resistensi tentu patut bertanya-tanya mengapa serangan Israel ke berbagai posisi strategis di Suriah tak kunjung dibalas? Mengapa serangan itu dibiarkan berlalu begitu saja sehingga antara lain membuka peluang bagi sebagian orang untuk memperolok dan membully Poros Resistensi?

Seperti diketahui, Poros Resistensi (Mihwar al-Muqawamah) adalah sedikit negara dan kelompok pejuang yang memilih melawan agenda makar Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah daripada berkompromi sebagaimana kebanyakan negara Arab.

Memang, tak semua hal yang diketahui mesti dikatakan, terutama berkenaan dengan perkara yang sensitif. Berbeda dengan realitas Arab, atau para awam politik, yang bahkan bebas mengatakan apa saja yang tak diketahuinya, entah demi fitnah ataupun menghibur diri, dan lupa musuh mereka yang sebenarnya.

Namun, setidaknya patut dicatat bahwa para pemimpin Poros Resistensi dalam berbagai kesempatan telah mengisyaratkan bahwa “Israel tidak tahu bahwa kami mengetahui apa yang Israel ketahui”. Artinya, poros ini mengetahui kapan, bagaimana, di mana, dan dalam kondisi apa balasan itu akan terjadi.

Dari sini lantas perlu dimengerti dua aspek operasi serangan balasan; pertama, strategis; kedua, penjagaan entitas dan integritas negara Suriah, dengan penjelasan sebagai berikut;

Aspek pertama bertolak dari proses penggalangan kekuatan untuk mengubah proyek resistensi dari ancaman strategis menjadi ancaman eksistensial bagi Rezim Zionis Israel. Karena itu, balasan tidak akan sebatas reaksi ala Arab yang sudah menjadi fenomena biasa bagi kaum Zionis. Balasan Poros Resisteni akan terjadi melalui kajian yang matang. Kubu ini diam bukan karena uzur ataupun amnesia. Sebaliknya, mereka meyakini sepenuhnya bahwa membalas adalah kewajiban yang mutlak harus ditunaikan.

Tak bisa dipungkiri bahwa serangan berulang Israel ke Suriah menimbulkan kerugian, karena terkadang memang mengena sasarannya. Tapi apakah target-target Poros Resistensi sedemikian terbuka sehingga menandai kebodohan secara militer, ataukah merupakan target yang daya ledaknya akan sangat tinggi dan melampau target yang menjadi acuan musuhnya?

Pertanyaan ini layak diangkat, sebab jika tidak demikian, lantas apa arti akumulasi kekuatan dan sarana militer serta pesatnya perkembangan persenjataan Poros Resistensi? Meski mendapat serangan demi serangan dari Israel, Poros Resistensi ternyata masih dapat terus menggalang kekuatan yang akan menjungkir balikkan perimbangan kekuatan di laut, udara, dan darat.  Fakta ini diketahui lawan maupun kawan, dan semua tahu bahwa pada saatnya nanti perang akan berkobar di mana Poros Resistensi akan menggunakan rudal-rudal dan senjata-senjata mutakhir berpresisi tinggi.

Jadi, sejauh ini Israel memang sesekali melancarkan serangan yang terkadang mengena sasaran, tapi Poros Resistensi juga terus menggalang kekuatan dan eksistensi militernya. Bagi poros ini, sedikit kerugian tidaklah masalah selagi banyak keuntungan masih dapat dikeruk.

Dengan demikian, serangan Israel selama ini belum banyak dibalas bukan karena Poros Resistensi bodoh ataupun gentar, melainkan semata demi menjaga kelancaran suatu proses eskalasi dan ekstensifikasi kekuatan militernya. Mereka tetap berjalan meski terkadang ada kerikil dalam sepatu, dan itu sejak awal sudah mereka perhitungkan. Ini berarti bahwa Israel gagal membendung proses itu. Apa yang bisa dilakukan oleh para pemimpin Zionis di depan publiknya hanyalah mengaku sudah berusaha membendung proses itu.

Aspek kedua bertolak dari upaya mempertahankan Suriah yang merupakan negara kunci bagi Poros Resistensi. Di sini yang menjadi prioritas adalah pemulihan integritas dan ketahanan negara Suriah, yang berproses seiring dengan penggalangan kekuatan militer Suriah yang sudah pasti menderita kerugian jiwa dan materi yang besar akibat konflik yang berjalan lebih dari 10 tahun.

Inilah tujuan utama Poros Resistensi di saat Israel telah, sedang, dan akan terus melakukan apa yang dapat ia lakukan untuk menghalangi tujuan itu, mulai dari menyokong kelompok-kelompok pemberontak dan teroris secara langsung sejak awal Perang Suriah dan kemudian campur tangan langsung di Suriah selatan hingga mengandalkan serangan udara secara berulang dengan dalih demi menekan pasukan Iran di Suriah dan membendung pengiriman senjata mutakhir Iran untuk Hizbullah di Libanon. Lagi pula, meski merugikan, serangan Israel itu juga memacu proses penguatan secara signifikan kemampuan tentara Suriah terutama di bidang pertahanan udara.

Dalam konteks ini, pertanyaan yang patut dicamkan ialah jika serangan udara Israel itu dimaksudkan untuk mencegah tujuan utama Poros Resistensi, yaitu pulihnya kedaulatan dan integritas Suriah, kalahnya terorisme, dan terbangunnya pemerintahan yang tangguh, lantas untuk apa dan demi maslahat apa Suriah meladeni serangan yang sengaja dilakukan Israel dan direncanakan pula oleh Barat sebagai provokasi yang jika Suriah terpancing maka akan ada badai serangan Israel dan Barat terhadap kekuatan yang tersisa pada tentara dan pemerintah Suriah?

Atas dasar ini, ada hikmah di balik kesabaran untuk tidak segera membalas dan terpancing provokasi musuh. Poros Resistensi harus tetap fokus pada perencanaan yang sudah digodok oleh para pemimpinannya, dan jangan sampai terpecah selagi proses penggalangan kekuatan militer tetap berjalan relatif mulus untuk menyongsong segala perang di masa mendatang.

Video yang dipublikasi oleh Hizbullah sebagai salah satu komponen Poros Resistensi mengenai sasaran-sasaran yang dapat mereka jangkau di seluruh wilayah Israel telah menimbulkan ketakutan di Israel. Dan publikasi video ini tak lain merupakan satu pesan sederhana mengenai bagaimana aksi Poros Resistensi pada suatu saat nanti ketika bom waktu perang besar sudah meledak. (mm/alalam)

Baca pula:

Video: Pasukan Hizbullah Pertontonkan Target-Target Incarannya di Israel

Tanggapan Waswas Lembaga Think Tank Israel atas Video Ancaman Hizbullah 

 

DISKUSI: