Lima Poin Penting dalam Pernyataan Terbaru Sekjen Hizbullah

0
240

LiputanIslam.com –  Belum lama ini telah terjadi wawancara panjang lebar sekira empat jam Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah (SHN) dengan saluran TV Al-Mayadeen. Pada kesempatan maraton ini dia telah mengungkap berbagai kejutan, informasi, dan analisis seputar isu dan perkembangan situasi Timteng. Meski terlihat spontan, lugas dan tanpa membawa catatan, namun tampak dia berbicara dengan penuh seksama dan kesadaran penuh, suatu hal yang langka pada sebagian besar pemimpin Arab dewasa ini.

Banyak sekali poin menarik yang disebutkan oleh SHN, namun dapat disarikan sedikitnya dalam lima poin berikut;

Pertama, SHN mengungkap untuk pertama kalinya peranan jenderal terkemuka Iran, Alm. Qassem Soleimani, di balik pemasokan rudal-rudal Kornet dan berbagai perlengkapan militer canggih lain kepada dua faksi besar Palestina Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza. Rudal-rudal itulah yang telah melumat mitos kedigdayaan tank-tank Merkava produk kebanggaan industri militer Israel, dan mencegahnya masuk ke Jalur Gaza sejak beberapa tahun silam. 

Kedua, dia menyebutkan bahwa ketika dia meminta Presiden Suriah Bashar Assad agar menyelundupkan rudal-rudal yang tersimpan di Suriah ke Jalur Gaza Assad segera menyetujuinya tanpa keraguan sedikitpun. Assadlah yang membeli rudal-rudal itu secara kontan dari Rusia, dan dia tetap menyetujui permintaan itu meskipun dia sedang kesal-kesalnya terhadap Hamas karea faksi ini berpihak kepada kubu pemberontak Suriah pasca gejolak tahun 2011.

Ketiga, dia menyingkap rahasia yang tak pernah dibicarakan orang sebelumnya mengenai adanya data-data informasi akurat yang didapatnya dari berbagai pihak, yang menunjukkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) ketika berkunjung ke Washington telah mengusulkan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump operasi pembunuhan Nasrallah oleh Israel, dan bahwa Trump pun menyetujui upaya pembunuhan itu oleh para agen dinas rahasia Israel, MOSSAD.   

Keempat, dia memastikan bahwa Hizbullah secara militer kini sudah jauh lebih kuat serta memiliki rudal canggih dan berpresisi tinggi dalam jumlah berlipat di banding beberapa tahun silam. Rudal itu dapat menjangkau titik manapun di dalam wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Kelima, dia mendedahkan untuk pertama kalinya bahwa faksi-faksi pejuang “Syiah” bersama faksi-faksi pejuang “Sunni” di Irak terlibat aktif dalam perjuangan melawan pasukan AS di Irak hingga pasukan pendudukan ini keteteran dan mau tidak mau harus angkat kaki dari Irak.

Mengenai penyelundupan rudal Kornet, teknologi pembuatan rudal balistik dan drone dari Hizbullah atau Iran langsung ke Gaza, layak dicatat bahwa faksi-faksi pejuang Palestina, terlebih Hamas, selama ini merahasiakan fakta tersebut, demi menghindari kecaman dari kelompok-kelompok Islamis Sunni, terutama Ikhwanul Muslimin, yang berseberangan dengan Iran dan Hizbullah terutama sejak pecah krisis Suriah.

Otoritas Mesir telah menangkap beberapa orang yang terafiliasi dengan Hizbullah dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di kawasan Sinai ketika mereka terlibat aksi penyelundupan rudal dan perlengkapan militer tersebut ke Gaza melalui ratusan terowongan bawah tanah.

Mengenai usulan MbS kepada AS untuk pembunuhan SHN oleh Israel,  kabar demikian pada dasarnya tidaklah sulit dipercaya, terlebih karena agen dinas rahasia AS, CIA, pada Maret 1985 pernah berusaha menghabisi ulama Syiah Libanon Sayid Husain Fadhlullah dengan cara memasang bom mobil yang meledak hanya beberapa meter dari rumah Fadhlullah dipinggiran selatan Beirut. Saat itu Pangeran Bandar bin Sultan yang menjabat sebagai duta besar Saudi untuk AS tidak menepis laporan bahwa dia telah mengalokasikan dana satu juta dolar AS untuk melicinkan upaya pembunuhan tersebut.

Dalam perang Juli 2006 antara Israel dan Hizbullah, Kerajaan Saudi berpihak kepada Israel ketika Riyadh blak-blakan menyalahkan Hizbullah dan menudingnya sebagai penyulut api perang. Riyadh bahkan juga secara terbuka berharap Israel berhasil menumpas Hizbullah sebagaimana rezim Zionis itu berhasil mengalahkan pasukan Mesir di bawah kepresidenan Gamal Abdel Nasser dalam perang Juni 1967.

Patut diingat pula bahwa MbS selaku penguasa de facto Saudi adalah otak pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di dalam konsulat jenderalnya di Istanbul, Turki, dengan cara yang sangat brutal dan sadis. Dia mengaku bertanggungjawab atas kejadian ini, meski tak mengaku memiliki peranan langsung dalam kejahatan besar yang menghebohkan dunia tersebut.

Banyak informasi dan misteri yang diungkap SHN dalam wawancara tersebut, mengingat situasi memang sangat genting akibat maraknya laporan-laporan mengenai membesarnya kemungkinan berkobarnya perang ketika Trump mencoba menekan Iran dengan mengerahkan kapal selam nuklir, kapal induk, dan pesawat pembom  ke kawasan Teluk Persia dan Semenanjung Arab.

Terlampau berkepanjangan jika semua itu harus dikupas. Meski demikian, cukuplah kiranya SHN melalui wawancara di tengah ancaman upaya pembunuhan terhadap dirinya itu menjadi  kejutan yang menggelisahkan Israel. Dengan cara itu SHN telah melancarkan perang urat saraf terhadap rezim penjajah Palestina tersebut. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Petinggi Hamas Mahmoud Al-Zahar Mengaku Pernah Menerima  Dana 22 Juta Dolar dari Jenderal Soleimani

Komandan Pasukan Quds IRGC Kecam Saudi dan Janjikan Pembalasan Darah Jenderal Soleimani

DISKUSI: