KTT Kuala Lumpur, Lonceng Peringatan bagi Dunia Arab

0
189

LiputanIslam.com –  Konferensi tingkat tinggi (KTT) di Kuala Lumpur, Malaysia, yang berangsung pada 18-21 Desember 2019 dan dihadiri oleh para pemimpin dan delegasi dari negara Islam merupakan satu tunas pergerakan Islam baru di mana para pesertanya menghendaki adanya wahana pengganti Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan pada gilirannya marginalisasi negara-negara Arab dari posisi kepemimpinan mereka atas Dunia Islam.

Memang, keabsenan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dalam KTT ini mengundang pertanyaan tersendiri, mengingat dia termasuk penggagas tunas pergerakan ini bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Moammad. Imran Khan urung menghadiri KTT Kuala Lumpur setelah tiba-tiba mendatangi Riyadh, Arab Saudi.

Tak jelas mengapa dia datang ke Riyadh kemudian urung mengikuti KTT Kuala Lumpur dan malah hanya mengirimkan delegasi pada tingkat rendah dan seakan membuat kubu baru non-Arab itu tak jadi dikawal oleh sebuah negara berkekuatan nuklir. Bukan tak mungkin Imran Khan terpedaya oleh faktor klasik; uang dan suap dari Saudi.

Hanya saja, partisipasi Presiden Iran Hassan Rouhani dalam KTT Kuala Lumpur mencerminkan pertemuan puncak non-sektarian mazhab, dan merefleksikan semangat persatuan Islam Sunni dan Syiah. KTT ini melibatkan enam negara Islam non-Arab, yaitu Indonesia, Pakistan, Turki, Iran, dan Malaysia di mana total penduduk Muslimnya mencapai sekira 600 juta jiwa dengan luas kawasan lebih dari 6 juta kilometer persegi.

Baca: Rouhani Hadiri KTT Kuala Lumpur, Kenapa Raja Salman Merajuk?

Yasin Aktay, Penasehat Presiden Turki, menyatakan bahwa kesamaan enam negara yang sebagian besar non-produsen minyak itu ialah ekonominya yang tidak bergantung pada sumber daya alam, melainkan bertumpu pada produksi dan sumber daya manusia, sehingga bisa jadi inilah sebab mengapa KTT ini mengangkat tema “Peran Pembangunan dalam Pencapaian Kedaulatan Nasional”.

Asumsi ini didukung oleh komentar Aktay yang mengisyaratkan pembangkangan kelompok ini terhadap kepemimpinan Arab atas Dunia Islam.

“Mana mereka (para pemimpin Arab)? Mereka absen ketika ada bahaya menyebar di dunia dan tertuju pada Islam dan Muslimin, yaitu bahaya penyebaran kebencian dan permusuhan terhadap Islam. Kita tidak menemukan mereka setiap kali kita berusaha mencarikan solusi untuk bahaya dan problematika ini. Kita malah melihat langkah-langkah mereka menutrisi permusuhan terhadap Islam,” ujar Aktay.

Baca: Kuala Lumpur Summit, Harapan dari Timur

Meski sangat tajam, pernyataan Aktay ini mencerminkan realistas di mana kubu Arab berada kondisinya yang terburuk selama ini, yang diwarnai perpecahan, persaingan, korupsi, diktatorisme, penindasan, ketundukan total pada kolonialisme Barat, terutama AS, dan keberadaan sejumlah besar pemimpinnya di bawah kaki Israel yang notabene musuh, mengupayakan normalisasi dengan Israel , dan bahkan bersekutu dengan rezim Zionis perampas Palestina tersebut.

Mahathir Mohamad, yang telah menjadikan negaranya salah satu macan Asia melalui rencana pembangunan ekonomi ambisius yang didukung sistem demokrasi yang transparan, dan menolak kedatangan orang Israel ke Malaysia, tidaklah berlebihan ketika mengatakan, “Pertemuan puncak ini sedang berlangsung ketika umat Muslim ditekan di seluruh dunia… Muslimin digambarkan sebagai teroris, dan ada ketakutan terhadap Islam, dan jelas bagi semua orang bahwa situasinya semakin buruk.”

Baca: Adakan KTT Forum Negara-Negara Islam, Malaysia Ditegur Raja Saudi

Pada kenyataannya, OKI yang diabaikan oleh KTT Kuala Lumpur dan cenderung diupayakan penggantinya sudah tinggal nama dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kerjasama antarnegara Islam, karena sudah tersubordinasi oleh tuan rumahnya, tidak lagi netral dan obyektif, mengerdil menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri Saudi, dan selama ini hanya dapat merilis statemen-statemen yang tak dibaca dan disimak orang kecuali para penyusunnya sendiri.

Tak dapat dipungkiri, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin Dunia Islam haruslah menjadi teladan di semua bidang pembangunan, demokrasi, penghormatan terhadap HAM, keadilan sosial; melawan sektarianisme dalam segala bentuknya; melestarikan kedaulatan nasional; mengabadikan fondasi pemerintahan yang baik; memberantas korupsi; dan mengupayakan pendekatan antarsesama Muslim.

KTT Kuala Lumpur menjadi lonceng peringatan bagi semua pemimpin Arab, terutama Kerajaan Arab Saudi. Jika kali ini KTT Kuala Lumpur merepresentasikan pengabaian terhadap OKI, maka bukan tak mungkin lain kali akan ada kejutan berupa tuntutan pengawasan umat Islam atas Haramaian (Mekkah al-Mukarromah dan Masjid Nabawi). Sudah ada kecenderungan yang nyata dalam masalah ini, dan KTT Kuala Lumpur bisa jadi merupakan titik awalnya. (mm/raialyoum)

DISKUSI: