Konferensi Pengungsi Suriah, Kemenangan Politik bagi Damaskus

0
86

LiputanIslam.com-Damaskus mengadakan Konferensi Kepulangan Pengungsi Suriah pada Rabu dan Kamis 11-12 November lalu. Konferensi ini diikuti 27 negara (seperti Iran dan Rusia) dan 12 organisasi internasional, yang bertujuan untuk mengakhiri derita penduduk Suriah dan penyalahgunaan politis sejumlah negara dari kesengsaraan rakyat negara tersebut.

Dilangsungkannya konferensi ini adalah sebuah kemenangan politik besar bagi Suriah di hadapan AS, yang berusaha dengan berbagai cara untuk menghalangi konferensi tersebut. Kemenangan ini tak lebih sedikit dari kemenangan militer Tentara Suriah dalam menghadapi kelompok teroris.

Sejak Rusia mengusulkan diadakannya konferensi ini pada 5 September 2018, AS selalu menentangnya. Sebab, konferensi ini bisa mementahkan konspirasi AS, Barat, Turki, dan Arab Kolot untuk mengesankan Pemerintah Damaskus lemah dalam mengurus negara.

Oleh sebab itu, pasca kemenangan Tentara Suriah, Rusia, dan Poros Perlawanan atas kelompok teroris yang didukung AS dan anteknya di Kawasan, dibebaskannya sejumlah daerah dari cengkeraman teroris, pulihnya keamanan di daerah-daerah tersebut, dan tekad Damaskus untuk mengadakan konferensi ini, AS bereaksi dengan menyusun konspirasi jahat lain bernama UU Caesar.

Tujuan dari UU ini adalah memberlakukan blokade ekonomi dan embargo atas Damaskus, sehingga mempersulit Suriah untuk mendapatkan sumber dana demi merekonstruksi negara yang telah hancur akibat teroris dan menyiapkan kepulangan para pengungsi ke Tanah Air.

Sebagai langkah untuk melawan blokade AS ini, Iran mengusulkan dibentuknya Kas Internasional untuk rekonstruksi Suriah. Usul ini sangat penting untuk diimplementasikan, karena bisa membantu proyek rekonstruksi Suriah, yang akan berdampak langsung pada kembalinya para pengungsi, sekaligus meminimalkan dampak UU Caesar.

Tujuan dari kengototan Pemerintah Damaskus untuk memulangkan para pengungsi Suriah bukan hanya demi mencegah langkah AS, Barat, Turki, Arab Kolot, dan Israel untuk memanfaatkan isu pengungsi. Dengan langkah ini, Damaskus juga berniat menghalangi kelompok-kelompok teroris merekrut generasi baru pemuda Suriah untuk dijadikan bom manusia di dalam Suriah, atau kayu bakar untuk menyulut perang. Bukan hanya di Suriah saja, tapi juga di belahan dunia lain, sebagaimana yang dilakukan Turki dengan mengirim pemberontak Suriah untuk berperang di Libya dan Karabakh. (af/alalam)

Baca Juga:

Putin Sebut Para Pengungsi Suriah Bisa Pulang ke Negara Mereka

Jenderal Israel: Bahaya Terbesar di Golan adalah Iran dan Hizbullah, Bukan Suriah Sendiri

DISKUSI: