Komandan CENTCOM Dikte Agenda Perbincangan PM Irak dan Trump

0
196

LiputanIslam.com-PM Irak berencana akan melawat ke Washington pada 20 Agustus nanti. Meski demikian, pernyataan Komandan CENTCOM Kenneth McKenzie pada Rabu (12/8) seolah telah menggariskan apa yang mesti dibicarakan Mustafa al-Kadhimi dalam pertemuan dengan Donald Trump.

Salah satu janji kampanye pilpres Trump adalah memulangkan Tentara AS dari Timur Tengah. Janji ini belum dipenuhi dan menyebabkan Tentara AS, juga rakyat di Kawasan, mengalami kerugian besar. Kendati demikian, McKenzie mengabarkan bahwa AS akan tetap bertahan di Suriah dan Irak untuk jangka panjang dan belum ditentukan.

McKenzie berdalih, keputusan ini diambil demi menghadapi terorisme, terutama “mencegah pengaruh Iran di Irak.” Dia juga berkata, kemungkinan AS akan mengurangi serdadunya dari 5000 ke 3500 orang.

Ada sejumlah poin yang menarik perhatian dalam statemen McKenzie ini:

1) Janji pengurangan pasukan dilontarkan untuk ‘mewujudkan’ janji kampanye Trump 4 tahun lalu. Tentu ini bertujuan untuk menarik simpati para pemilih menjelang Pilpres AS November mendatang.

2) Jumlah personel AS di Irak yang sebenarnya, baik itu militer, keamanan, ekonomi, dan sebagainya, diprediksi mencapai lebih dari 20 ribu orang.

3) McKenzie menggantungkan rencana pengurangan Tentara AS ke masa mendatang. Artinya, janji ini bergantung pada output pertemuan al-Kadhimi dan Trump.

4) Dengan menggulirkan isu bernama “pengaruh Iran di Irak” dan menyebutnya sebagai hal berbahaya, McKenzie berusaha menjalankan kebijakan lama Iranophobia, terutama di Irak dan Suriah. Padahal, dengan ini secara tak sadar ia telah mengakui kegagalan kebijakan Trump di hadapan kekuatan regional Iran. Dan di sisi lain, mengakui kredibilitas Poros Perlawanan di Kawasan dan soliditas rakyat Iran, Irak, dan Suriah.

Dengan melihat statemen McKenzie, masalah perundingan strategis Irak-AS menghadapi sejumlah pertanyaan serius. Keluarnya Tentara AS dari Irak akan diragukan, ketika AS menyatakan syaratnya adalah “pulihnya situasi keamanan di Irak.”

AS tak berniat keluar dari Irak selama sumur-sumur minyak di negara itu masih beroperasi. Trump dan selainnya tidak akan meninggalkan Irak sampai Poros Perlawanan menghentikan perjuangannya. Washington tak akan membiarkan Irak sampai Baghdad berpisah dengan Poros Perlawanan.

Meski demikian, pada akhirnya nanti, AS akan terpaksa meninggalkan Irak. Di lain pihak, persahabatan Iran dan Irak, yang sudah terjalin selama berabad-abad, akan menjadi lebih erat dan kuat. (af/alalam)

Baca Juga:

Dua Perwiranya Tewas, Irak Kerahkan Pasukan Bersenjata Berat ke Perbatasannya dengan Turki

Dubes Iran untuk Venezuela Bantah Klaim Soal Penahanan Tanker Iran

DISKUSI: