Kelompok Takfiri dan White Helmets, Para Teroris Bayaran Nirperbatasan

0
13

LiputanIslam.com-Direktur White Helmets, Raed Saleh mengatakan, kelompoknya siap mengirim relawannya ke Ukraina untuk “membantu saudara dan saudari Ukraina mereka.”

Hal ini diutarakan Saleh saat diwawancarai harian AS, Washington Post. Ia menjustifikasi ‘simpatinya’ untuk Ukraina dengan mengatakan bahwa “Tentara Rusia tidak punya prinsip, tak menghormati HAM, dan tidak memiliki orientasi moral.”

Kabar pengiriman relawan White Helmets dipublikasikan setelah tersiarnya berita pemindahan kelompok bersenjata takfiri pro-Turki dari Idlib dan utara Suriah ke Ukraina. Tujuan mereka adalah bergabung dengan “legiun internasional” yang dibentuk Presiden Ukraina. Pasukan asing ini meliputi 16 ribu antek dari seluruh dunia untuk memerangi Tentara Rusia.

Apa yang diungkap media-media Barat soal pemindahan kelompok bersenjata dan White Helmets dari Suriah ke Ukraina menunjukkan, kelompok-kelompok teroris ini,  yang selama 11 tahun menyengsarakan Suriah, tidak lebih dari antek-antek bayaran yang dipekerjakan biro intelijen AS, Barat, dan Israel. Tujuannya adalah untuk mewujudkan ambisi-ambisi mereka, bukan hanya di Suriah, Irak, Azerbaijan, Libya, dan Yaman saja, tapi juga di Eropa.

Guna mengenal lebih baik jati diri para antek, petempur, dan White Helmets ini, yang disebut Barat sebagai “revolusioner dan lembaga pertahanan sipil”, kami akan menyinggung apa yang dibeberkan media-media Barat tentang mereka.

White Helmets dibentuk di tahun 2013 dari anggota Jabhat al-Nusra (cabang al-Qaeda) oleh seorang perwira intelijen Inggris bernama James Le Mesurier, yang dibunuh di Turki tahun 2019 silam. White Helmets melakukan aktivitasnya di kawasan-kawasan yang dikuasai Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok Takfiri lainnya.

Setelah kemenangan-kemenangan Tentara Suriah di Ghouta Timur, Daraa, Qunaitera, dan selatan Damaskus atas terorisme, Rezim Zionis lalu mengevakuasi 800 anasir White Helmets ke Tanah Pendudukan, dan setelah itu ke Yordania, Kanada, Jerman, dan Inggris.

PM Israel saat itu, Benyamin Netanyahu mengklaim bahwa tindakan ini dilakukan atas permintaan AS dan demi “alasan kemanusiaan.”

Dalam sebuah wawancara televisi, Saleh membocorkan bahwa White Helmets dibiayai oleh AS, Prancis, Inggris, Jerman, dan Qatar.

Dia mengaku bahwa dirinya “terpaksa” bekerja sama dengan Rezim Zionis, namun lupa bicara bahwa ratusan teroris yang terluka dibawa ke rumah-rumah sakit Israel dan Netanyahu pun datang menjenguk mereka.

Jelas bahwa White Helmets dan kelompok-kelompok bersenjata di Suriah telah berubah menjadi fenomena yang lebih dari Arab-arab yang bertempur di Afghanistan. Bias dikatakan, mereka lebih mirip “pasukan bayaran nirperbatasan”, sebab mereka saat ini dipekerjakan di Irak, Libya, Azerbaijan, Yaman, Ukraina, dan besok di titik-titik lain dunia. Orang-orang ini digunakan untuk bertempur menggantikan tentara negara-negara yang membiayai mereka. (af/alalam)

Baca Juga:

Presiden Ukraina: 16,000 Relawan Asing Siap Bertempur Melawan Pasukan Rusia

Dinilai Berperan Bangun Lebanon, Vatikan Ingin Hizbullah Tak Dicap Teroris

DISKUSI: