Kedubes AS di Irak Tak Akan Ditutup, Kenapa?

0
3391

LiputanIslam.com-Dubes AS untuk Irak, Matthew Tueller menyatakan bahwa Kedubes negaranya di Irak tak akan ditutup.

Statemen Tueller ini berarti bahwa semua ancaman AS untuk menutup Kedubes, bahkan memindahkannya ke Arbil, tak lebih dari sebuah psy war belaka terhadap Pemerintah dan rakyat Irak. Ancaman yang dipublikasikan secara luas itu hanya bertujuan untuk menjauhkan Poros Resistansi dari Pemerintah dan rakyat Irak.

Sudah 100 tahun Negeri Seribu Satu Malam berada di jantung kebijakan luar negeri Paman Sam. Dalam beberapa dekade terakhir, masalah ini menjadi lebih penting lantaran Irak bertetangga dengan Republik Islam dan Poros Resistansi. Oleh karena itu, statemen Dubes AS bahwa Kedubes AS di Irak tak akan ditutup pada dasarnya bukan hal baru, juga bukan sebuah ‘kebaikan AS’ yang diperuntukkan bagi Irak.

Di bagian lain statemen Tueller disebutkan, AS dan Koalisi Internasional masuk ke Irak ‘untuk memerangi ISIS.’ Dubes AS mengklaim, negaranya dan Koalisi akan meninggalkan Irak jika Baghdad sudah siap untuk menghadapi ISIS.

Statemen Dubes AS ini sangat menyesatkan, sebab Parlemen Irak sudah mengesahkan UU pengusiran pasukan asing dari negara itu. Selain itu, perlawanan serius Tentara Irak dan al-Hashd al-Shaabi terhadap ISIS, terutama dalam 2 tahun terakhir, menunjukkan bahwa Irak sudah tidak membutuhkan keberadaan AS dan Koalisi Internasional.

Hingga kini, perundingan yang disebut dengan “dialog strategis antara Irak dan AS” sudah berlangsung sebanyak 3 kali. Dalam putaran terakhir perundingan, konon ada kesepakatan terkait jadwal keluarnya AS dari Irak. Meski begitu, mustahil AS akan memegang kesepakatan tersebut. Tampaknya, sama seperti ketika AS memilih tetap bertahan di utara Suriah kendati Donald Trump sudah secara resmi mengaku akan menarik pasukannya, kali ini pun hal yang serupa akan terjadi di Irak.

Realitas di Irak, baik di Pemerintahan Federal atau Kawasan Kurdistan, adalah bahwa AS akan dipaksa untuk angkat kaki, cepat atau lambat. Tak seperti yang dibayangkan Washington, tak ada lagi tempat aman bagi AS dan Koalisi Internasional, baik di dalam Irak atau Kurdistan. Poros Resistansi Irak, dari satu sisi, dan semangat kemerdekaan rakyat Irak, dari sisi lain, akan membuat AS dan penjajah lainnya memahami realitas ini. (af/alalam)

Baca Juga:

Pembunuhan Warga Kulit Hitam oleh Polisi AS Dinyatakan sebagai Kejahatan Kemanusiaan

Mantan Menlu AS Bantah Pernyataan Kontroversial Menlu Iran Soal Serangan Israel ke Suriah

DISKUSI: