Kecamuk Perang Ma’rib dan Memuncaknya Tekanan Barat Terhadap Sanaa

0
2262

LiputanIslam.com –   Pertempuran terus berlanjut di sekitar kota Ma’rib, ibu kota provinsi Ma’rib, antara kubu Sanaa (tentara nasional Yaman dan gerakan Ansarullah/Houthi) di satu pihak dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi di pihak lain. Kontak senjata sudah mendekati gerbang barat kota Ma’rib dan semakin berkecamuk di sekitar kota ini. Pasukan koalisi Saudi-UEA meningkatkan serangan udara dan darat demi mencegah jatuhnya kota Ma’rib yang menjadi benteng pertahanan kubu Hadi.

Saudi mengirim berbagai senjata baru kepada pasukan Hadi di Ma’rib dan mendukung pemerintah kota dengan ratusan juta mata uang Saudi untuk merekrut lebih banyak militan dari kabilah-kabilah sekitar Ma’rib dan Obeida. Selain itu, Saudi juga sengaja menyulut konfrontasi di front Taiz barat serta front Heran – Abas di daerah perbatasan Yaman-Saudi dengan tujuan mengacaukan konsentrasi kubu Sanaa.

Bersamaan dengan eskalasi militer ini, Riyadh juga mengerahkan segenap kemampuan diplomatiknya untuk membendung gerak maju pasukan Sanaa. Dan meskipun front Sharwah berkobar sejak tahun pertama agresi koalisi Saudi-UEA, Saudi menebarkan kecemasan ihwal “bahaya” jatuhnya Ma’rib ke tangan kubu Sanaa.

Saudi mati-matian berusaha mempertahankan Ma’rib karena kota ini memang merupakan benteng terakhir kubu Hadi yang bersekutu dengan Saudi di provinsi-provinsi utara serta merupakan garis terdepan pertahanan Saudi dan sekutunya di kawasan pantai barat dan timur serta provinsi-provinsi kaya minyak di bagian selatan Yaman.

Situasi yang menggeliatkan proses politik dan militer dalam beberapa minggi terakhir ini terus berkecamuk di beberapa front pertempuran. Berlangsung konfrontasi sengit di sejumlah dataran tinggi dan kawasan-kawasan yang berada di bawah administrasi pemerintahan kota Ma’rib dan membuat kubu Sanaa bergerak maju kawasan timur daerah Al-Akad di front Nakhla di barat Ma’rib.

Sebelum itu, mereka bergerak ke arah pangkalan di sekitar Al-Akad, yang membuatnya mendekati pangkalan militer Shan Al-Jin di satu sisi, dan membuka jalur lain untuk pertempuran yang berlangsung di sekitar Al-Tal’ah Al-Hamra yang dikepung pasukan Sanaa dari beberapa arah setelah mereka maju menuju Al-Tal’ah dari Lembah Al-Bara’.

Sumber-sumber kabilah mengatakan bahwa pasukan Hadi membuat garis pertahanan baru di utara Shahn Al-Jin dan kawasan Al-Meil yang didekati oleh pertempuran dan merupakan salah satu kawasan yang dikitari oleh pangkalan militer yang menjadi markas kementerian pertahanan Hadi.

Sementara itu, ketika pasukan Sanaa melancarkan operasi di perairan Waduk Ma’rib di mana mereka telah meledakkan perahu militer pasukan Hadi, terjadi pula kontak senjata sengit di daerah strategis Pegunungan Al-Balaq di mana jet-jet tempur koalisi juga melancarkan serangkaian serangan untuk menghadang gerak maju pasukan Sanaa di bagian yang belum mereka rebut.

Kemudian, ketika front-front Al-Elm di utara Ma’rib mereda, pertempuran di daerah selatan kota Ma’rib justru meningkat, terutama di distrik Jail Murad, dan di situ pasukan Sanaa mencetak kemajuan besar di daerah Al-Aushal dan Ali Al-Ahmad.

Memuncaknya Tekanan Internasional

Bersamaan dengan pengerahan upaya diplomatik Saudi, tekanan internasional terhadap terhadap pemerintahan Sanaa memuncak dengan tujuan menghentikan serangan dan sepak terjang mereka untuk membebaskan Ma’rib.

Ketika informasi intelijen menyebutkan bahwa kota itu sudah nyaris jatuh ke tangan pasukan Sanaa, tekanan AS, Inggris, Prancis, dan bahkan Italia meningkat. Mereka merilis pernyataan yang mengecam operasi militer kubu Sanaa yang menyasar pusat komando perang di Shahn Al-Jin dan komando zona militer ke-3 di kawasan yang sama serta tempat berkumpulnya para komandan militer Hadi dengan para komandan Saudi, termasuk juru bicara militer koalisi Kolonel Turki al-Maliki pekan lalu di Ma’rib, yang menjatuhkan banyak luka, termasuk al-Maliki sendiri, menurut sebagian sumber, dan beberapa korban tewas, termasuk sejumlah tentara Saudi yang mengawal para komandan militer Saudi yang berada di Ma’rib sejak beberapa pekan lalu.

Sebelum itu, Pemimpin Ansarullah Abdul Malik Badruddin al-Houthi sudah mengecam negara-negara Barat tersebut dalam pidatonya pada haul Sayid Husain al-Houthi, pendiri Ansarullah. Dia menuding negara-negara yang meminta penghentian serangan ke Ma’rib itu sebagai pihak-pihak yang juga terlibat dalam pembantaian terhadap bangsa Yaman, karena banyak orang Yaman yang terbunuh dengan senjata-senjata senjata dan peralatan tempur buatan AS, Inggris, dan negara-negara Eropa lain.

Alih-alih menuruti desakan mereka, Abdul Malik al-Houthi menegaskan bahwa tentara Yaman dan para pejuang Lijan Shaabiyah yang berafiliasi dengan Ansarullah akan terus bergerak dan berjuang membebaskan kota Ma’rib. (mm/alakhbar)

Baca juga:

Perang Ma’rib, AS dan Saudi Gagal Bendung Serangan Ansarullah

Ansharullah Sebut AS Tak Bersungguh-sungguh Wujudkan Perdamaian di Yaman

DISKUSI: