Kebijakan-kebijakan Bin Salman Hadapkan Saudi dengan Krisis Ekonomi

0
98

LiputanIslam.com-Krisis ekonomi dan angka pengangguran tinggi di tengah penduduk Saudi adalah kondisi yang mendera negara monarki saat ini di bawah pemerintahan Muhamad bin Salman. Ini adalah krisis yang diakui sendiri oleh Putra Mahkota Saudi.

Pada hari Kamis (12/11) Bin Salman mengumumkan bahwa pemasukan migas anggaran Saudi berkurang menjadi 410 milyar riyal. Ia mengatakan,”Dengan melihat prediksi tahun lalu untuk anggaran tahun 2020, kita bicara soal pemasukan yang diprediksi mencapai lebih dari 833 milyar riyal. 513 milyar riyal dari angka ini berasal dari pemasukan sektor migas. Namun usai jatuhnya harga minyak pada tahun ini, pemasukan migas berkurang sekitar 410 milyar riyal.”

Bin Salman melanjutkan, pemasukan ini tidak mencukupi bahkan hanya untuk membayar gaji, yaitu sebanyak 504 milyar riyal. Ia mengakui bahwa ini berarti merosotnya ekonomi dan hilangnya jutaan lapangan kerja.

Ia berargumen, jika pemasukan nonmigas tidak mencapai sekira 360 milyar riyal pada tahun ini dan hanya tetap pada angka 100 milyar riyal seperti tahun 2015, maka Saudi terpaksa mengurangi gaji para karyawan pemerintah hingga lebih dari 30 persen. Pemberian Subsidi dan insentif pun akan dihapuskan sepenuhnya.

Kebijakan-kebijakan keliru Bin Salman, seperti perang berlarut-larut di Yaman, pembelian istana dan lukisan-lukisan mahal, dan perang harga minyak versus Rusia, telah memicu krisis ekonomi yang mencekik Saudi.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diberlakukan beberapa bulan lalu atas sejumlah barang, seperti komunikasi dan susu bubuk untuk bayi, sangat memberatkan penduduk Saudi. Sebelum ini, warga Saudi juga mesti berkutat dengan krisis ekonomi lantaran peningkatan pajak dari 5 menjadi 15 persen.

Populasi penduduk Saudi terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Jumlahnya meningkat dua kali lipat sejak dekade 90 hingga saat ini. Namun warga Saudi yang lahir 30 tahun lalu, kini kekurangan lapangan kerja. Sekitar dua pertiga penduduk berusia di bawah 30 tahun tidak memiliki pekerjaan, yang mayoritas mereka adalah lulusan universitas.

Berdasarkan sejumlah laporan, 1,2 juta pekerja asing akan meninggalkan Saudi hingga akhir tahun ini. Tujuannya adalah membuka lapangan kerja lebih banyak bagi warga asli Saudi. Namun, ini hanya bisa diwujudkan jika perusahaan-perusahaan mampu bertahan menghadapi pandemi Corona dan dampak-dampak ekonominya, juga kesanggupan mereka untuk membayarkan gaji tinggi.

Di masa lalu, sulit dibayangkan bahwa Saudi akan berubah menjadi negara penghutang. Namun saat ini, itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi, apalagi dengan melihat turunnya harga minyak mentah Brent.

Ekonomi Saudi terus merosot selama berbulan-bulan. Saat Salman bin Abdulaziz naik singgasana pada 23 Januari 2015, total cadangan luar negeri Saudi mencapai 732 milyar dolar. Namun hingga Desember tahun lalu, angka ini berkurang menjadi 499 milyar dolar. (af/alalam)

Baca Juga:

Khatib Jumat di Saudi Diminta Umumkan “Kesesatan” Ikhwanul Muslimin

Ledakan di Jeddah Didalangi oleh Pemerintah Saudi Sendiri

 

DISKUSI: