Israel Serang Pelabuhan Latakia di Suriah, Mengapa Rusia Bergeming?

0
1988

LiputanIslam.com –  Serangan Israel ke Pelabuhan Latakia, Suriah Barat, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun serangan Israel ke Suriah membangkitkan pertanyaan besar mengenai peran Rusia di Suriah.

Rusia diakui sebagai mitra penting Suriah dalam penumpasan terorisme dan kelompok-kelompok bersenjata serta keberhasilan pemerintah Suriah merebut kembali berbagai wilayahnya.  Namun, terkait dengan kerapnya serangan Israel ke Suriah, peran Rusia mengundang pertanyaan dari berbagai pihak, terutama di Suriah sendiri.

Pertanyaan itu membesar terutama setelah Israel menyerang Pelabuhan Latakia, sebab di kawasan pesisir Mediterania yang terhubung dengan Pelabuhan Latakia terdapat pangkalan besar militer Rusia., tepatnya di distrik Hmeimim.

Di distrik yang terletak di pinggiran kota pesisir Jableh itu terdapat lanud yang juga bernama Hmeimim, yang ditempati oleh pasukan Rusia serta berjarak 19 kilometer dari ibu kota provinsi Latakia dan 15 kilometer dari Pelabuhan Latakia.

Lanud Hmeimim dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih S-400 dengan radius operasional sekira 60 kilometer dan karena itu tentara Rusia dapat menghancurkan semua drone yang pernah diterbangkan oleh kelompok teroris Al-Nusra ke arah pangkalan itu dalam beberapa tahun lalu.

Atas dasar ini, sebagaimana diangkat oleh para netizen Suriah, pertanyaan yang mencuat ialah mengapa sistem pertahanan Rusia beserta semua radar canggihnya seakan tak peduli kepada rudal Israel sehingga Pelabuhan Latakia terkena serangan Israel pada dini hari Selasa lalu.

Media Israel mengklaim serangan itu menarget kontainer senjata Iran, sementara gambar awal dari lokasi target menunjukkan bahwa kontainer yang dimaksud ternyata berisi bahan makanan dan komoditas komersial.

Para netizen Suriah menilai Moskow mengetahui dan merestui serangan Israel tersebut. Menurut mereka, Israel tak mungkin melancarkan serangan ke sasaran yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Lanud Hmeimem tanpa memberi tahu Moskow terlebih dahulu.

Kabarnya, Moskow pernah menunjukkan kekecewaannya atas keputusan pemerintah Suriah pada Februari 2019 memberikan kontrak pengelolaan pelabuhan Latakia kepada Iran setelah mengakhiri kontrak dengan perusahaan internasional. Meski demikian, hal ini tidak serta merta cukup sebagai alasan untuk berspekulasi  ihwal mengapa Rusia bergeming terhadap serangan Israel di dekat pangkalannya di Latakia.

Rusia, Iran dan Suriah sepakat mengutuk serangan Israel di Suriah. Hanya saja, kebijakan Rusia berseberangan dengan kebijakan  Damaskus dan Teheran terkait pola perlawanan terhadap Rezim Zionis Israel.

Beberapa laporan yang tak terverifikasi menyebutkan bahwa Damaskus dan Teheran telah melayangkan pesan kepada Moskow dan menginformasikan tentang niat  Suriah dan Iran untuk melancarkan reaksi militer terhadap serangan Israel. Reaksi itu akan dikelola di bawah Pusat Operasi Gabungan Poros Resistensi”.

Pusat operasi itu pada bulan lalu juga telah memberikan reaksi militer  atas serangan udara AS-Israel terhadap posisi-posisi militer Iran-Suriah dekat kota Tadmur (Palmyra). Reaksi itu mencakup serangan yang menyasar pangkalan militer AS di wilayah perbatasan Suriah-Irak dengan menggunakan drone dan rudal.

Di pihak lain, Rusia melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov juga pernah menyatakan bahwa Negeri Beruang Merah itu berkomitmen pada keamanan Israel dan menolak menjadikan Suriah sebagai ajang konflik negara-negara lain.

Alhasil, peristiwa pemboman Latakia oleh Israel memperkuat asumsi yang sebenarnya jelas bahwa di balik banyaknya persamaan sikap antara Rusia dan Poros Resistensi yang dimentori oleh Teheran juga terdapat terselisihan dan pergesekan kepentingan antara keduanya di Suriah. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Hizbullah: Saudi Jangan Diktekan Agenda Politik AS atas Lebanon

Bennett: Sudah Tiba Saatnya Israel Gunakan Segala Cara terhadap Iran

DISKUSI: