IRGC Pastikan Gempurannya Tewaskan Puluhan Tentara AS, Meski Bisa Habisi 500 Tentara

0
278

Teheran, LiputanIslam.com –  Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh dalam jumpa pers, Kamis (9/1/2020), memastikan puluhan tentara AS tewas terkena gempuran rudal IRGC ke pangkalan-pangkalan militer AS di Irak pada dini hari Rabu (8/1/2020).

“Dalam operasi ini kami tidak berniat membunuh orang, meskipun tentu ada puluhan orang yang tewas dan terluka sehingga dievakuasi dengan pesawat C-130. Seandaiknya kami berniat membunuh orang maka kami bisa saja menyusun operasi-operasi militer yang di tahap awalnya saja 500 orang akan terbunuh. Dan seandainya mereka membalas maka karena situasi sudah berubah dan kami tidak lagi berkewajiban menjaga jiwa tentara AS maka pada tahap kedua dan ketiga dalam jangka waktu 48 jam sebanyak 4000-5000 orang akan terbunuh,” papar Hajizadeh.

Kesiapan Pasukan AS

Menyinggung kesiapan tentara AS terhadap serangan ini, dia mengatakan, “AS sendiri sudah mengumumkan bersiaga penuh dalam beberapa hari, dan sebelum operasi serangan itu ada 12 unit pesawat mereka, termasuk 7 unit pesawat (nirawak) pemantau MQ-9 melakukan pemantauan dan misi militer, dan sebanyak 6-7 pesawat berawak mereka serta mereka sendiri menanti dengan cemas. Semula kami mengira skuadron itu akan melancarkan serangan, tapi kemudian kami melihat mereka sedang menuggu tamparan, dan setelah mendapat tamparan merekapun merasa sedikit lega.”

Dia juga mengatakan, “Kami telah melepaskan 13 rudal ke pangkalan-pangkalan AS, tapi kami juga siap melesatkan beberapa rudal (lain) pada jam-jam pertama itu. Dan karena kami berpikir bahwa jika dalam konfrontasi ini kedua pihak tidak bersabar maka akan berlanjut tiga hari sampai seminggu dalam skala terbatas. Untuk kondisi demikian kami telah menyiapkan ribuan unit rudal.”

AS Tak Sanggup Melawan

Brigjen Hajizadeh menegaskan bahwa semua rudal yang ditembakkan IRGC tepat menimpa targetnya, dan tak satupun rudal AS ditembakkan ke rudal-rudal itu meskipun saat itu ada banyak pesawat AS yang diterbangkan.

“(Karena) mereka memang tak sanggup menghadapinya,” ujarnya.

Pemilihan Target Serangan

Dia melanjutkan, “Di tahap-tahap awal kami dapat mengidentifikasi pangkalan-pangkalan yang terlibat dalam teror Syahid Soleimani. Pangkalan Taji, Ain Assad, Shahid Ma’far Yordania, dan Ali al-Salim Kuwait berpartisipasi dalam operasi teror Jenderal Soleimani… Opsi pertama kami untuk menghadapi dan memulai pembalasan ini ialah mengincar pangkalan Taji dan menunjuknya sebagai pilihan pertama. Tapi, dalam proses selanjutnya pada beberapa jam sebelum operasi serangan, kami mengubah sasaran dan menjatuhkan pilihan pada Ain Assad.”

Dia beralasan, “Sebab al-Taji ada di dekat Kadzimain dan kolektif antara pasukan Irak dan AS, dan kami khawatir hantaman rudal dan ledakan hulu ledaknya mengganggu warga sipil. Karena itu kami mengurungkannya dan beralih memilih Pangkalan Ain Assad yang merupakan pangkalan terbesar AS di Irak atau bahkan mungkin di kawasan.”

Hajizadeh menjelaskan, “Pangkalan ini berjarak 170 km dari Baghdad, dan sasaran-sasaran yang kami pilih sebenarnya adalah mesin-mesin perang AS dan pusat pengendalian operasi militer AS serta menghantam satuan-satuan utama drone dan helikopter AS.”

Komandan Pasukan Dirgantara IRGC menyatakan bahwa pada gelombang pertama operasi serangan itu pihaknya mengantisipasi kemungkinan reaksi AS sehingga serangan itu dibatasi hanya di Irak meskipun tetap terbuka kemungkinan memperluas serangan ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara lain di kawasan sekitar.

Rudal Yang Digunakan dan Terjadinya Perang Elektronik

Mengenai rudal yang dipakai dalam pembombardiran itu, Jenderal Hajizadeh menerangkan, “Dalam operasi ini kami menggunakan rudal Fateh 313 yang berjarak jelajah 500 km dan rudal Qiam yang berjarak jelajah 700 km. 15 menit setelah operasi ini juga telah dilakukan sebuah operasi elektronik besar. Beberapa drone AS selama beberapa saat sempat keluar dari kendali mereka dan ini menjadi pukulan bagi mental mereka.”

Baca: Iran: Menyerang Pangkalan AS dalam Rangka Pertahanan

Harga Darah Jenderal Soleimani

Hajizadeh mengatakan, “Darah syuhada kami sangat mahal sehingga kami tak dapat menentukan batasan minimalnya. Tentu, sebagai balasan atas darah mereka hantaman ke pangkalan-pangkalan AS ataupun penembak jatuhan pesawat-pesawat mereka, atau bahkan pembunuhan Trump masih tidaklah seberapa berharga. Harga darah mereka, seperti yang ditegaskan oleh Pemimpin Besar (Ayatullah Sayid Khamenei), ialah keluarnya AS secara total dari kawasan.”

Dia melanjutkan, “Tentu, seluruh semua bangsa dan kelompok-kelompok pejuang muqawamah (resistensi) berusaha mengusir AS, dan kami berharap semua pemerintahnyapun juga melakukan tindakan. Sebagaimana pemerintah dan parlemen Irak telah mensahkan rancangan undang-undang pengeluar pasukan AS dari negara ini, negara-negara lain juga hendak menempuh langkah demikian. Jika tidak, maka rakyatlah yang akan memaksa pasukan AS keluar dari kawasan.”

Baca: Antara Gempuran Rudal Iran dan Kedustaan Trump

Akan Menyerang Lagi

Hajizadeh kemudian mengatakan, “Dalam operasi-operasi sebelumnya kami berhadapan dengan kelompok-kelompok teroris semisal ISIS, yang kami berasumsi tidak akan berkonfrontasi langsung dengan mereka. Sedangkan dalam operasi bersandi ‘Syahid Soleimani’ kami tentunya berhadapan dengan AS, yang pangkalan-pangkalannya bahkan belum pernah ditembak barang satu butir peluru pasca Perang Dunia II. Betapapun demikian, kami siap berkonfrontasi dan kami bangkit bahkan untuk sebuah perang, dan tentunya gempuran-gempuran kami selanjutnya akan lebih sengit dan pasti lebih luas pula. Kami berasumsi bahwa jika mereka (AS) menahan diri maka perang tidak akan berlanjut.”

(mm/fars)

DISKUSI: