LiputanIslam.com –  Sejauh ini belum ada bukti apapun untuk memastikan tingkat kerugian  manusia pada pihak tentara AS di Lanud Ain Assad, Irak Barat, akibat gempuran rudal Iran. Namun demikian, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Presiden  AS Donald Trump adalah seorang pendusta sehingga dia yang tampak tertekan dalam pernyataan singkatnya pada Rabu lalu (8/1/2020) mengenai serangan tersebut layak dipertanyakan ketika mengklaim tak ada korban yang jatuh di pihak tentara AS.

Statusnya sebagai pendusta publik nomor wahid dapat dilihat dari beberapa rekam jejak sebagai berikut:

Pertama, dia pernah memastikan bahwa pihaknya telah menjatuhkan drone Iran sebagai balasan atas penembak jatuhan drone Global Hawk oleh Iran di angkasa Selat Hormuz pada 20 Juni 2019, dan berjanji untuk memublikasi rekaman video penembak jatuhan drone Iran itu untuk membuktikan klaimnya. Nyatanya, sampai sekarang dia tak kunjung menunjukkan rekaman video itu.

Kedua, dalam kasus yang sama dia mengaku telah membatalkan serangan udara pembalasan terhadap Iran hanya 10 menit sebelum drone AS membidik sasarannya di wilayah Iran, tapi ternyata juga sekedar klaim yang tak didukung bukti apapun.

Ketiga, dia kerap mengumbar janji akan membalas segala bentuk serangan Iran terhadap kepentingan AS dan sekutunya di Timteng dan dunia. Tapi ketika fasilitas minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais milik Saudi terkena serangan rudal dan drone, dan AS-pun menuding Iran berada di balik serangan tersebut, Trump juga tak berbuat apa-apa. Alih-alih membalaskan, dia malah mengaku menjual senjata AS kepada Saudi, bukan memakainya untuk melindungi Saudi.

Keempat, media AS mencatat delapan kebohongan spektakuler Trump, antara lain; Iran mendapatkan 150 miliar dolar dari AS pasca perjanjian nuklir; nilai defisit perdagangan dengan Uni Eropa mencapai 180 miliar; Cina memperoleh 50 miliar dolar dari AS pertahun; Irlandia adalah bagian dari Inggris Raya; Putin mengambil Semenanjung Krimea dari pendahulu Trump, Barack Obama; dan bahwa Trump telah mengeluarkan dana sebesar 5 miliar dolar untuk dapat menjadi presiden AS, padahal total kekayaannya diperkirakan kurang dari 4 miliar.

Terlepas dari itu, kalaupun rudal-rudal Iran tidak menjatuhkan korban tewas tentara AS di Lanud Ain Assad, Trump sama sekali tak dapat memungkiri realitas bahwa senjata itu tepat mengena sasaran dan menghancurkan beberapa fasilitas yang ada di dalamnya. Ini membuktikan bahwa para pemimpin Iran  memang sanggup mengambil keputusan untuk melepaskan rudal ke pangkalan terbesar AS di Irak, dan dengan presisi yang sangat tinggi.

Baca: Inilah Poin-Poin Lengkap Respon Trump atas Serangan Rudal Iran

Trump enggan mengerahkan kekuatan raksasa AS untuk membalas serangan Iran tersebut. Sebabnya tak lain adalah kesadarannya bahwa balasan akan mendapat balasan balik, dan bahwa tidak adanya korban tewas tentara AS di kali pertama tidak menjamin mereka juga akan bernasib demikian pada kali selanjutnya.

Ancaman Trump untuk menjatuhkan sanksi tambahan kepada Iran pasca serangan rudal Iran menggelikan, sebab segala macam sanksi sudah dia terapkan, termasuk sanksinya terhadap Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, untuk memaksa Iran bertekuk lutut, tapi Iran tetap bergeming. Bisa jadi ke depan Trump akan menjatuhkan sanksi berupa larangan bagi Zarif untuk menebar senyumnya yang fenomenal.

Baca: Militer Iran Sebut Klaim AS Soal Gempuran Rudal Iran “Menggelikan”

Yang jelas, semua ini merupakan konflik berjangka panjang, terbuka bagi segala kemungkinan, dan membutuhkan manajer yang handal dan berperforma tinggi. Suka atau tidak, Iran berada di atas angin dalam statusnya sebagai negara Dunia Ketiga.

Tahap berikutnya adalah tahap destabilisasi keamanan pangkalan AS di Timur Tengah, terutama kawasan Teluk Persia, dalam proses pengusiran mereka, yang akan diambil alih oleh serangan militer kelompok-kelompok pejuang yang bersekutu Iran, terutama al-Hashd al-Shaabi di Irak, Ansarullah di Yaman, Hizbullah di Lebanon, serta Hamas dan Jihad Islam di Gaza.

Baca: Para Pejuang Irak Tegaskan Pembalasan terhadap AS Makin Mendesak

Tidak kecil kemungkinan adanya pembagian tugas sehingga implementasinya hanya tinggal menanti lampu hijau, kalau bukan sudah dinyalakan. Al-Hashd al-Shaabi sudah pasti akan membalas darah pemimpinnya, Abu Mahdi al-Muhandis.

Para pemimpin Iran yang bermain dengan mentalitas Trump berpotensi kuat membuka arsenal-arsenal rudal presisi tingginya dalam beberapa hari atau minggu  ke depan untuk mempertontonkan tipe yang lebih akurat dan maju demi mengejutkan lawan mereka.

Pesan mereka bagi AS ialah bahwa “Iran telah memulai, dan AS silakan melanjutkan permainan”, sedangkan pesan mereka bagi Rusia dan China ialah bahwa Iran merupakan sekutu yang serius dan dapat diandalkan.

Trump tidak akan merasa nyaman di tahun politik AS sekarang, sementara sekutunya di Timteng juga akan terus gelisah. Bukan tak mungkin dalam waktu dekat akan mucul fakta-fakta kerugian AS akibat serangan rudal Iran, dan kalaupun itu tidak muncul maka masih akan ada fakta-fakta dalam aneka peristiwa lain, sebab perjalanan masih panjang. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*