‘Hugo Chave Chile’, Mimpi Buruk Baru bagi Israel di Amerika Latin?

0
1507

LiputanIslam.com-Beberapa waktu lalu, Gabriel Boric (35 tahun) dari faksi sayap kiri Chile dikabarkan mengalahkan rivalnya dari sayap kanan dalam Pilpres negara tersebut.

Boric memperoleh 56 persen suara, sementara rivalnya, Jose Antonio Kast (55 tahun) mendapatkan 44 persen suara.

Dalam artikelnya, Rai al-Youm mengungkap kekhawatiran Tel Aviv atas terpilihnya Boric sebagai Presiden baru Chile. Hal ini wajar, karena dia adalah salah satu pendukung fanatik Palestina dan gerakan BDS (Boycott, Divesment, and Sanctions) yang anti-Zionis.

Kemenangan Boric di Pilpres Chile merupakan kabar buruk bagi Israel, sebab hal ini menunjukkan pola penyebaran “kebencian global terhadap Israel” dan peringatan tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan di Amerika Latin.

Selain itu, kemenangan ini menunjukkan bahwa isu Palestina telah menjadi poros perhatian dunia, yang bisa disaksikan dari kampanye dan aktivitas Boric selama Pilpres.

Rai al-Youm menyebut Boric sebagai “Hugo Chaves 2021.” Sejumlah analis dan spesialis Israel telah melayangkan peringatan soal bahaya kemenangan Boric bagi Rezim Zionis. Dengan melihat sikap Boric dan tudingannya soal genosida yang dilakukan Israel, penilaian di Tel Aviv menunjukkan bahwa dukungan Boric bukan hanya terbatas untuk rakyat Palestina saja, tapi pada dasarnya ia benar-benar anti-Israel.

Ini adalah hal yang disinggung harian Israel Hayom, yang menyebut bahwa mungkin penjelasan yang bisa diterima atas sikap Boric ini adalah karena ia dipengaruhi ratusan ribu warga Arab dan Palestina yang berada di Chile.

“Kemenangan Boric adalah kabar buruk untuk Israel, sebab sayap kiri radikal di Amerika Latin menganggap diri mereka sebagai musuh Yahudi dan menyebut Yahudi sebagai abdi imperialisme Israel. Seiring berlalunya waktu, negara-negara Amerika Latin menjadi anti-Israel. Mereka mengusung slogan bahwa Israel melakukan kebijakan apartheid atas orang Palestina, yang merupakan pertemuan kepentingan antara kekerasan dan ‘radikalisme ideologi’ melalui Kuba, Nicaragua, dan Venezuela,”tulis jurnalis Israel Hayom, Amnon Lord.

“Kebijakan sayap kiri dominan di negara-negara Amerika Latin menyebabkan para mahasiswa Yahudi telantar di sebagian besar universitas dengan kepala tertunduk. Mereka tidak berani memperkenalkan diri sebagai Yahudi atau mengorganisasi kegiatan yang berkaitan dengan Israel. Ada banyak bukti atas hal ini. Atmosfer (anti-Israel) ini meningkat sepanjang perang terbaru di Gaza,”imbuh Lord.

Mengutip dari sumber-sumber kredibel di Tel Aviv, media-media berbahasa Ibrani menyatakan bahwa Boric, yang akan memulai tugasnya pada 22 Maret mendatang, bersikap sebagai musuh Israel. Menurut sumber-sumber tersebut, hal ini memicu kekhawatiran dan ketakutan di tengah komunitas Yahudi di Chile.

“Benar bahwa forum-forum politik Israel gelisah lantaran perkembangan politik terbaru di Chile. Namun di saat bersamaan, mereka berusaha melebih-lebihkan situasi anti-Yahudi di negara itu, dengan harapan bisa memeras Presiden baru Chile. Hal ini dilakukan dengan cara membesar-besarkan derita orang Yahudi dan penyebaran fenomena anti-Semitisme akibat meluasnya aktivitas sayap kiri radikal di Amerika Latin,”tulis Rai al-Youm.

Para pengambil keputusan di Tel Aviv meyakini, kemenangan Boric adalah kesempatan emas bagi BDS, yang melihat Israel sebagai fenomena beracun serta membedakan antara orang Yahudi dan Israel. (af/fars)

Baca Juga:

Televisi Israel: Anggota Partai Likud ‘Dikerjai’ oleh  Cyber Army Iran

Israel Waspadai Drone Kamikaze Iran

DISKUSI: