Hubungan antara Kesepakatan Nuklir Iran dan Kapal Selam Nuklir AS

0
217

LiputanIslam.com-Para wakil negara-negara Eropa di JCPOA berkali-kali menyalahgunakan tekanan maksimum Donald Trump atas Iran. Tujuannya adalah mewujudkan kehendak Presiden AS, yaitu perundingan terkait kesepakatan nuklir baru yang meliputi program rudal dan peran Iran di Timteng.

Sebagian dari negara-negara ini bahkan mengajukan lebih banyak tuntutan seiring meningkatnya obral ancaman AS terhadap Iran.

Inggris, Jerman, dan Prancis berusaha meraih sejumlah keunggulan. Awalnya, mereka berlagak seolah memilih kebijakan yang berbeda dengan AS. Namun, usai bocornya statemen di media soal kemungkinan Trump melancarkan serangan ke Iran sebelum ia keluar dari Gedung Putih, yang disusul dengan pengiriman kapal induk, kapal perang, dan pesawat pengebom B-52 ke Teluk Persia, negara-negara Eropa ini mendadak bersuara lantang.

Mereka menyingkirkan wacana diplomatik dan secara terbuka menyatakan bahwa JCPOA masih belum memadai dah harus diperluas. Mereka menuntut agar sejumlah isu, seperti program rudal Iran, mesti dicantumkan dalam JCPOA.

Dengan menarik perusahaan-perusahaannya dari Iran dengan dalih khawatir terhadap sanksi AS, Eropa dengan sangat cepat menunjukkan kemunafikan dan persekongkolannya dengan AS. Sedikit demi sedikit, Eropa mulai menarik diri dari JCPOA, seiring penekanan Iran untuk berkomitmen kepada JCPOA dan penolakan terhadap perundingan baru terkait program nuklirnya.

Iran menunjukkan sikap tegas di hadapan intimidasi AS dan aktivitas Satuan Maritim serta pengiriman B-52 ke Teluk Persia. Ketegasan ini membuat Eropa bersikap agak lunak, yang bisa dilihat dalam pertemuan nonresmi para menlu negara-negara 4+1.

Dalam pertemuan itu, tak satu pun wakil Eropa menyinggung perundingan baru atau penambahan pasal-pasal baru ke kesepakatan saat ini. Sebaliknya, mereka justru menekankan pentingnya komitmen terhadap JCPOA dan meminta AS untuk kembali ke perjanjian.

Sikap ‘lunak’ Eropa ini bahkan tidak berubah meski terbetik berita bahwa kapal selam nuklir AS melintasi Selat Hormuz. Ini pertanda bahwa Eropa sudah sadar bahwa kebijakan pamer otot di hadapan Iran tidak ada gunanya.

Eropa tidak perlu diberitahu bahwa Trump tak akan punya nyali untuk menyerang Iran. Sebab, Trump tahu bahwa serangan apa pun ke Iran sama saja dengan memusnahkan peluang untuk kembali ke Gedung Putih pada 4 tahun mendatang.

Hal ini ditegaskan sendiri oleh Trump di hadapan para pendukungnya usai dipecundangi Joe Biden. Dengan demikian, satu-satunya opsi bagi Trump hanya mengumbar ancaman militer, dan yang terbaru adalah pengiriman kapal selam nuklir.

Angkatan Laut AS sebelum ini tidak pernah mengabarkan pergerakan kapal selamnya. Ini merupakan kali pertama Pentagon mengumumkan aktivitas dan tujuan kapal selamnya.

Ini sendiri menjelaskan kekhawatiran AS atas respons Iran untuk membalaskan dendam Syahid Qassem Soleimani. Dengan memublikasikan kabar ini, AS berusaha mencegah pembalasan dendam Iran. Namun, AS lupa bahwa Iran-lah yang menentukan waktu dan tempat pembalasan ini, bukan dirihya. (af/alalam)

Baca Juga:

Iran Tak Gentar Kapal Selam Nuklir AS Tiba di Teluk Persia

Rusia: AS Harus Kembali ke Perjanjian Nuklir Iran Tanpa Prasyarat

DISKUSI: