Dugaan Serangan Cyber Terhadap Fasilitas Nuklir Iran

0
228

LiputanIslam.com –  Iran diduga mendapat tiga serangan cyber sekaligus dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, yang satu di antaranya menyasar fasilitas pengayaan uranium Natanz yang tentunya sangat sensitif pada Kamis 2 Juli 2020.

Rincian mengenai akibat ledakan itu belum jelas, dan penyebabnyapun secara resmi dinyatakan masih dirahasiakan. Namun, beberapa media menyebutkan adanya bocoran informasi mengenai serangan cyber Israel, atau dugaan terjadinya pengacauan keamanan oleh anasir yang disponsori asing anti pemerintah Iran.

Iran tampak tidak menepis dugaan adanya semacam serangan cyber yang disebut-sebut terutama oleh media Israel, dan menyatakan penyebabnya sudah diketahui namun masih dilakukan pendalaman. Di pihak lain, para pejabat Israel juga memilih bungkam; tidak menepis dan tidak pula mengiyakan dugaan tersebut.

Baca: Soal Ledakan di Fasilitas Nuklir Iran, Israel Mengaku Lebih Baik Bungkam

Pekan lalu Amerika Serikat (AS) di Dewan Keamanan PBB melancarkan kampanye perpanjangan embargo senjata Iran yang akan berakhir pada musim gugur mendatang, namun kampanye itu ditentang oleh Rusia dan China yang sama-sama anggota tetap dewan tersebut. Keduanya mengancam akan menjatuhkan hak vetonya untuk mencegah resolusi apapun soal embargo senjata Iran.

Utusan Khusus AS Brian Hook pekan lalu menyatakan bahwa Presiden AS bertekad akan memerangi Iran jika kecurigaan Iran memroduksi senjata nuklir terbukti. Bersamaan dengan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para pejabat Zionis lainnya menegaskan mereka pantang membiarkan Iran memiliki hulu ledak nuklir.

Sebagian besar pengamat menilai kemungkinan besar Trump menjelang pilpres AS akan memerangi Iran demi mendongkrak kesempatannya untuk memenangi pilpres setelah lawannya dari kubu Demokrat Joe Biden unggul 10 poin dalam jajak pendapat terbaru, sementara Trump juga dinilai gagal dalam menanggulangi pandemi Covid-19, dan terjadi pula peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China.

Di tengah kondisi demikian, mencuatnya dugaan adanya serangan cyber atau sabotase langsung dari para antek musuh-musuh Iran di dalam negeri menjadi perkembangan baru yang sedikit banyak menimbulkan tekanan bagi para pejabat Iran.

Baca: Iran Masih Rahasiakan Penyebab Kebakaran di Fasilitas Nuklirnya

Selama ini, serangan-serangan Israel ke posisi-posisi pasukan Iran di Suriah, dan pembunuhan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) oleh AS tidak sampai memicu perang terbuka Iran melawan Israel dan AS. Sekarang, tidak tertutup kemungkinan Washington dan Tel Aviv melakukan provokasi baru agar Iran terpancing untuk memulai perang di waktu yang tepat bagi kepentingan Trump dan Netanyahu.

Di saat yang sama, AS dan Israel juga telah menyatakan perang ekonomi terhadap sekutu Iran di Suriah melalui Undang-Undang Caesar dan di Libanon melalui penghancuran mata uang Pound Libanon, yang semua ditujukan untuk melaparkan rakyat Suriah dan Libanon agar kemudian timbul kekacauan yang menjurus pada perang saudara, penggulingan pemerintah di dua negara Arab ini, dan terutama lagi perlucutan senjata kelompok pejuang Hizbullah.

Belum jelas bagaimana reaksi Iran atas serangan-serangan AS dan Israel tersebut; apakah Iran juga akan melancarkan serangan cyber seperti yang pernah menimpa fasilitas air dan irigasi Israel pada bulan lalu, yang kemudian dibalas Israel dengan serangan cyber ke pelabuhan Rajaei di Iran selatan, ataukah Iran akan menyerang kapal-kapal AS di perairan Teluk Persia, atau juga dengan menggerakkan para sekutunya di Libanon, Irak, Jalur Gaza, dan Yaman.

Baca: Iran Ancam Serang Fasilitas Nuklir Israel

Yang jelas, kecil kemungkinan Iran tidak membalas jika memang ada kepastian telah terjadi serangan AS dan Israel di wilayahnya, sebab membiarkan serangan tanpa reaksi hanya akan mengundang serangan lebih lanjut dari musuhnya, yang bisa jadi akan lebih fatal. Dan dalam hal ini Iran sudah memiliki pengalaman yang cukup, yaitu ketika menembak jatuh pesawat nirawak supercanggih AS di Teluk Persia dan merudal pangkalan militer AS di Irak. (mm)

DISKUSI: