Campur Tangan di Perang Ethiopia, Apa Tujuan Trump?

0
49

LiputanIslam.com-Suara genderang perang di Ethiopia dan negara-negara sekitarnya telah terdengar, terutama usai Pemimpin TPLF (Tigray People’s Liberation Front), Debretson Gebremichael menyatakan bertanggung jawab atas bombardir ke bandara Asmara.

Ketegangan di kawasan itu muncul menyusul serangan pasukan PM Ethiopia Abiy Ahmed ke kawasan Tigray di utara negara tersebut, serta prediksi Presiden AS Donald Trump terkait potensi diledakkannya bendungan al-Nahdha oleh Pasukan Mesir.

Di saat yang bersamaan, PBB, Liga Afrika, dan organisasi-organisasi pembela HAM memperingatkan kemungkinan meluasnya konflik ke berbagai kawasan di Ethiopia, terganggunya stabilitas di Tanduk Afrika, dan memburuknya kondisi kemanusiaan di kawasan tersebut.

Para pakar khawatir, perang di Ethiopia secara tidak langsung akan merembet ke negara-negara seperti Mesir dan Sudan. Sebab Kairo juga berselisih dengan Adis Ababa terkait tindakan Ethiopia yang membangun bendungan al-Nahdha di Sungai Nil.

Sudan juga dikabarkan telah mengirim pasukan bantuan ke salah satu negara bagiannya, yaitu Kassala, yang bertetangga dengan Tigray. Sudan menutup perbatasannya di kawasan itu demi mencegah masuknya para petempur Ethiopia ke Sudan.

Seorang analis masalah Ethiopia, Anwar Ibrahim, dalam hal ini mengatakan, perang semacam ini akan merugikan semua negara-negara di Kawasan seperti Sudan. Ia menilai, ditutupnya perbatasan Sudan untuk mencegah dampak-dampak negatif perang tidak akan berguna.

Ibrahim menambahkan, bahkan Eritrea juga akan dirugikan oleh perang ini. sebab itu, negara-negara di Kawasan dan dunia, terutama anggota organisasi IGAD (Intergovermental Authority on Development) yang beranggotakan Ethiopia, Kenya, Uganda, Somali, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Sudan Selatan, harus berusaha untuk mencegah meluasnya perang semacam ini.

Sebelum Ahmed menjadi Perdana Menteri pada tahun 2019, TPLF menguasai kawasan Tigray. Namun Ahmed bersikeras bahwa kawasan itu di bawah kekuasaan Pemerintah Pusat, yang tentu saja ditolak oleh TPLF. Ahmed pun memberikan instruksi untuk menyerang Tigray sehingga memicu perang antarsuku di Ethiopia.

Namun hal yang memperburuk situasi adalah perbincangan via telepon Trump dengan PM Sudan Abdullah Hamdouk pada tanggal 27 Oktober 2020 lalu. Saat itu, Trump berkata,”Situasi sangat berbahaya, sebab ada kemungkinan Mesir akan meledakkan bendungan. Harus ada tindakan yang segera diambil.”

Sejumlah pakar meyakini, ucapan ini ibarat lampu hijau dari Trump kepada Kairo untuk melakukan intervensi guna menyelesaikan polemik bendungan al-Nahdha antara Mesir dan Sudan dari satu sisi, dan Ethiopia dari sisi lain.

Namun sebagian pakar lain berpendapat, statemen Trump adalah upayanya untuk melibatkan Mesir dalam perang, sehingga salah satu pasukan terkuat Arab ini menjadi lemah. Apalagi Mesir tidak memiliki kemampuan militer memadai untuk menghancurkan bendungan al-Nahdha. (af/alalam)

Baca Juga:

Seberapa Besar Kerusakan yang Dibuat Trump sampai Ia Keluar dari Gedung Putih?

Trump vs Biden, Babak Belur AS Pasca Pilpres

DISKUSI: