Trump vs Biden, Babak Belur AS Pasca Pilpres

0
145

LiputanIslam.com –  Ada sederet misi yang disebut-sebut akan dijalankan oleh Joe Biden, yang kini sudah berstatus sebagai presiden terpilih Amerika Serikat (AS).  Sederet misi untuk masa empat tahun kedepan kepresidenan Biden itu utamanya ialah; mengatasi perpecahan dalam negeri, menciptakan keamanan ekonomi, membatasi penyebaran Covid-19, memulihkan integritas sistem politik dan demokrasi di AS, menarik pasukan dari Timteng, menghentikan perang Saudi Yaman, melawan kebangkitan China, menghadang ambisi Presiden Rusia Vladimir Putin yang dia anggap sebagai musuh terbesar, dan menahan Iran dengan kemungkinan kembali kepada kesepakatan nuklir.

Di sisi lain, ada misteri besar mengenai langkah yang akan ditempuh oleh lawannya yang kalah pilpres, Donald Trump, setelah nanti keluar secara sukarela ataupun diusir dari Gedung Putih.

Jelas bahwa deretan misi itu sangat berat bagi Biden, apalagi di tengah carut marut situasi politik AS seperti yang terlihat sekarang. Trump yang pantang mengaku kalah dan bersikukuh mengaku sebagai pemenang bisa jadi bersama para pendukungnya akan melakukan tindakan-tindakan destruktif, mengingat besarnya kebencian dan kecenderungan mereka untuk balas dendam.

Trump tampaknya tidak akan tinggal diam, kecuali jika beberapa dakwaan terhadapnya dalam kasus pidana penipuan dan penggelapan pajak serta perolehan pinjaman secara ilegal dapat menyeratnya ke dalam penjara. Menurut banyak ahli hukum, kemungkinan itu ada dan tak kecil.

Kudu Biden dan kubu Trump sama-sama memiliki amunisi untuk saling serang yang mungkin terjadi dalam beberapa pekan atau bulan mendatang.

Trump bisa jadi akan mendirikan stasiun televisi atas namanya untuk menyerang mereka yang mengecewakan dan menjatuhkannya, mulai dari Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, yang telah diberinya banyak hadiah antara lain blokade Palestina dan aneksasi Quds (Yerussalem) namun sama sekali tak pernah memberikan pernyataan dukungan kepada Trump selama masa kampanye pilpres AS, hingga para tokoh terkemuka Partai Republik yang menentangnya, termasuk George W. Bush, John Bolton, Colin Powell, para jenderal purnawirawan, dan banyak lagi.

Usai diumumkan  menang, Biden berjanji untuk mempersatukan AS dan menjadi presiden bagi semua orang di negara ini. Tapi janji tak jarang jauh dari kenyataan. Para pendukung Trump yang ideologis dan cenderung rasis serta mewakili hampir separuh orang AS tidak akan menerima kepemimpinan orang yang mereka anggap telah menjatuhkan pemimpin mereka secara curang dalam pilpres 2020.

Di tengah polarisasi itu, kaum Yahudi adalah pihak yang sangat cerdik, berbeda dengan para pemimpin Arab yang telah menyerahkan miliaran dananya kepada Trump. Kaum Yahudi membelah diri dalam dua kubu; pertama, orang-orang Israel yang memberikan dukungan teoritis kepada Trump secara jarak jauh; kedua, Yahudi AS yang memberikan 77 persen suara mereka kepada Biden sehingga akan mereka jadikan sebagai kartu penekan, dan Netanyahupun belakangan memperlihatkan pengkhianatan secara dramatis ketika menyambut kemenangan Biden dengan menyebutnya sebagai sahabat karib sejak puluhan tahun silam.

Terlepas dari itu, bisa jadi akan ada dua kejutan besar dalam empat tahun periode kepresidenan Biden;

Pertama, Washington akan mengajukan laporan-laporan mengenai kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi yang selama ini ditutup-tutupi oleh Trump serta dokumen-dokumen yang disodorkan oleh Saad Al-Jabri, mantan intelijen Saudi dan asisten mantan putra mahkota Pangeran Mohamed bin Nayef, yang kabur ke AS, mengenai rahasia di balik hubungan Trump dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman serta kasus-kasus korupsi dan pelanggaran HAM.

Kedua, Trump melalui kanal televisi barunya, bisa jadi menebar isu-isu skandal keuangan dan moral untuk menekan lawannya, mulai dari Biden dan keluarganya, kemudian para tokoh Republik yang meninggalkannya, hingga Netanyahu yang dianggapnya telah berkhianat, sebagaimana disebutkan dalam beberapa laporan bahwa Trump sangat kecewa dan marah besar atas pengkhianatan itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Korut Kim Jong-un belum dikabarkan telah melayangkan ucapan selamat kepada Biden, sementara Raja Salman dari Saudi dan putranya, Mohamed bin Salman, baru melayangkannya sehari setelah Biden dikabarkan sebagai pemenang. Masing-masing tentu memiliki alasan dan faktornya sendiri, yang semuanya akan memberikan sketsa pada kebijakan dan konstalasi politik luar negeri presiden baru AS.

Alhasil, AS akan beranjak dari pemilu ini dengan kondisi babak belur akibat perpecahan etnis, ideologis, dan ras yang sulit ditangani atau dijembatani. Kerusakan yang disebabkan oleh empat tahun kekuasaan Trump terlampau besar untuk dikalkuasi, dan krisis AS sekarang memasuki fase baru yang lebih krusial. (mm/raialyoum)

DISKUSI: