Bom Waktu Perang antara Turki dan Mesir di Libya

0
136

LiputanIslam.com –  Pemerintahan Kemufakatan Nasional (GNA) yang menguasai sebagian besar wilayah barat Libya terpukul oleh pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi yang antara lain menyebut kota Sirte dan Jufra merupakan “garis merah” bagi Mesir. Jubir GNA menyebut El-Sisi telah menabuh genderang perang, dan pertanda bahwa militer Mesir akan segera terlibat dalam krisis Libya untuk menyokong Pasukan Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar yang terdesak hebat dalam pertempuran selama beberapa pekan terakhir melawan pasukan GNA yang berkududukan di Tripoli dan didukung Turki.

Masa depan kota strategis Sirte yang terletak di pertengahan antara timur dan barat tampak akan menentukan jalannya perang Libya, yang juga melibatkan berbagai pihak regional dan internasional. Dengan pernyataannya yang disampaikan pada Sabtu pekan lalu, Els-Sisi memberikan peringatan tegas kepada GNA sekaligus Turki bahwa berusaha menguasai Sirte tak ubahnya dengan memancing campur tangan Mesir dan para sekutunya dalam perang di Libya.

Penguasaan Turki atas Sirte melalui GNA akan menjamin keamanan Tripoli dari serangan LNA, menjamin penguasaan atas Pangkalan Udara (Lanud) Ghardabiya yang ada di Sirte, dan membuka jalur pergerakan militer untuk menguasai kawasan bulat sabit minyak, merebut kota Jufra dan lanud yang ada di dalamnya, dan menguasai kawasan pantai barat.

El-Sisi semula menghindari perang karena dia ingin berfokus pada pembangunan infrastruktur ekonomi yang tentunya memerlukan keamanan dan stabilitas. Namun, belakangan ini dia tergiring ke ambang dua perang. Pertama, perang dengan Ethiopia menyusul kebuntuan perundingan mengenai bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) yang mengancam pasokan air Mesir. Kedua, perang di Libya, negara yang bergolakannya berimbas pada keamanan nasional Mesir.

El-Sisi tampaknya menunda perang yang pertama, karena tidak terlalu mendesak, mengingat pemenuhan air GERD memerlukan waktu tiga tahun, menurut perencanaan Ethiopia. Dia akan mengutamakan persoalan Libya, karena pemerintah Mesir secara strategis terancam oleh kedatangan GNA ke wilayah timur Libya dengan dukungan mobil lapis baja dan jet tempur Turki serta 14,000 militan ekstremis, termasuk Al-Qaeda dan ISIS,  yang semuanya memusuhi pemerintah Mesir, negara yang berbatasan dengan Libya sepanjang 1000 km.

Ancaman El-Sisi sedemikian serius sehingga ketika menyampaikan pernyataan itu dia dikitari oleh para komandan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pasukan Khusus Mesir.

“Segala bentuk intervensi militer langsung oleh pemerintah Mesir di Libya sudah mendapat legitimasi internasional, baik dalam kerangka Piagam PBB mengenai pembelaan diri maupun atas dasar permintaan otoritas tunggal yang sah dan dipilih oleh rakyat (parlemen Tobruk) Libya,” ungkap El-Sisi dalam pernyataan itu.

Dia menambahkan, “Campur tangan ini akan menjadi perlindungan dan pengamanan perbatasan barat Mesir dan kedalaman strategisnya, serta percepatan pemulihan keamanan dan stabilitas Libya yang merupakan bagian yang tak terpisahan dari keamanan dan stabilitas Mesir serta keamanan bangsa  Arab.”

Di pihak lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sejak awal sudah antusias menyokong sekutunya di Libya dengan suplai alat tempur, pasukan, dan operasi udara. Dia bertaruh dengan sikap waswas dan kekhawatiran Mesir atas dampak campurtangan militernya di Libya, apalagi Mesir sudah belajar dari kegagalannya dalam perang Yaman tahun 1960-an yang menewaskan 30,000 tentara Mesir dan karena itu Kairo memutuskan untuk tidak terlibat dalam konflik di luar wilayah teritorial Mesir sendiri. Namun, Erdogan tampaknya akan rugi dalam pertaruhan itu jika El-Sisi memastikan keluar dari dilemanya itu dan memutuskan pengiriman tentara, armada, dan jet tempurnya ke Libya.

Baca: Kubu Libya Pro-Turki Sebut Statemen Presiden Mesir Deklarasi Perang

Apa yang disebut oleh Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian sebagai “Surianisasi” Libya tampak menemukan puncaknya ketika pasukan GNA menyerbu Sirte dan sedang menunggu hitungan mundur di gerbang-gerbang kota ini, sebab tekad campur tangan Mesir yang didukung Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Prancis diambil oleh El-Sisis menyusul serbuan tersebut.

Perang Libya “jilid II” jika sampai berkobar maka akan mengubah peta perimbangan kekuatan Timteng, mengacaukan stabilitas Uni Maghrib Arab, dan memecah aliansi NATO, mengingat bahwa delapan negara anggotanya menyokong sikap Prancis dalam masalah Libya, dan hanya satu anggotanya, Italia, yang sampai sekarang masih menyokong sikap Turki, yang juga anggota NATO.

Baca: Presiden El-Sisi Isyaratkan Kemungkinan Turunnya Pasukan Mesir ke Libya

Dan yang tak kalah krusialnya, menurut sejumlah pengamat, gerakan Islam politik “jihadis” bisa bangkit lagi setelah tersungkur di Suriah, Irak, Mesir, Afghanistan, dan kawasan Afrika utara, termasuk di wilayah timur Libya sendiri (Derna, Jabel Akhdar, dan Benghazi), apabila perang Libya sekarang berkobar sesuai agenda GNA dan Turki.

Libya dengan luas wilayah lebih dari 1 juta kilometer persegi yang sebagai besarnya adalah kawasan gurun yang tak berpenduduk kini menjadi negeri carut marut. Negara yang berbatasan dengan enam negara yang terletak di Benua Afrika dan di dalamnya terdapat lebih dari 20 juta pucuk senjata dan sekian ton amunisi ini sekarang menjadi lahan yang lebih subur bagi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan jihad.  (mm/raialyoum/reuters)

DISKUSI:
SHARE THIS: