Berapa Sebenarnya Jarak antara Iran dan Senjata Nuklir?

0
199

LiputanIslam.com-Menteri Energi Israel pada hari Selasa (2/2) lalu mengklaim, Republik Islam Iran butuh waktu sekitar 6 bulan untuk mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan guna membuat senjata nuklir.

Statemen ini disampaikan Yuval Steinitz menyusul klaim yang dilontarkan Menlu baru AS Antony Blinken baru-baru ini. Blinken mengklaim, Iran hanya berjarak “beberapa pekan saja untuk membuat senjata nuklir!”

Jika dicermati, dua klaim ini menunjukkan bahwa baik AS atau Israel sama-sama tidak memiliki informasi akurat tentang kondisi program nuklir Iran. Dengan melepas anak panah di kegelapan semacam ini, mereka bersikeras untuk menarik perhatian dunia kepada apa yang disebut sebagai ‘bahaya Iran untuk keamanan dunia.’

Selain itu, AS dan Israel dengan mengumbar klaim-klaim ini ingin mengesankan diri sebagai “pihak yang paling tahu soal informasi dan mengawasi isu-isu Iran dengan serius.”

Perlu diingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, setelah Iran memulai program dan industri nuklirnya, Israel selalu berusaha untuk mencari tahu detail dari aktivitas nuklir Iran. Rezim Zionis juga mengerahkan segala daya untuk menghalangi program nuklir Iran.

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya jejak spionase Israel di setiap kasus internasional yang menyudutkan program nuklir Iran di dunia. Israel juga kerap melancarkan aksi spionase dalam berbagai bentuk, mulai dari infiltrasi, pencurian dokumen,dan pemanfaatan antek dari Mojahedin Khalq, serta melakukan sabotase dan meneror para ilmuwan nuklir Iran.

AS dan Israel ngotot tidak mau memahami bahwa jarak sebenarnya Iran dengan senjata nuklir adalah “jarak keagamaan dan keyakinan,” (yang melarang pembuatan senjata nuklir). Sikap pura-pura bodoh ini dilatar belakangi kepentingan mereka. Dengan sikap ini, AS menjalankan proyek kehadirannya di Kawasan dan menjual senjata-senjatanya dengan mengusung isu Iranophobia.

Fokus AS dan Israel terkait jarak Iran dari pembuatan senjata nuklir bisa disebut sebagai bagian dari upaya untuk mengisolasi serta menekan Iran, agar Teheran merevisi kebijakan-kebijakan nuklir terbarunya. Ancaman dari sejumlah senator Republik untuk mencegah Joe Biden kembali ke JCPOA juga merupakan bagian dari proyek ini.

Apakah tekanan-tekanan ini akan membuat Iran mengurungkan niat dan kembali memutar arah? Jawabannya tentu saja tidak. (af/alalam)

Baca Juga:

Iran Pasang Mesin Sentrifugal Baru di Dua Pabrik Nuklirnya

Konflik Internal Israel Terkait Masalah Iran Kian Meruncing

 

DISKUSI: