AS di Balik Upaya Perang Saudara di Irak

0
251

Para pejuang Kataeb Hizbullah Irak

LiputanIslam.com –  Pasukan kontra-terorisme Irak telah menggerebek sebuah bengkel milik Kataeb Hizbullah Irak di Baghdad, dan menangkap 14 orang, beberapa di antaranya orang Iran, dengan dalih tempat itu digunakan untuk membuat roket katyusha yang kerap menyasar Kedubes AS di kawasan al-Khadera, Baghdad, dan pangkalan-pangkalan penampungan AS di Irak.

Penggerebekan demikian merupakan yang pertama kalinya, yang bisa jadi merupakan awal instabilitas dan kacaunya keamanan Negeri 1001 Malam ini pasca ISIS.

Perdana Menteri Irak, Mostafa Kadhimi, yang dekat dengan AS, menyatakan penggerebekan itu merupakan awal strateginya untuk mengendalikan milisi, melucuti senjata mereka, memulihkan wibawa negara, dan membatasi senjata hanya pada tentara dan pasukan keamanan. Namun demikian, Kadhimi tak akan dapat semudah itu berbuat demikian, selagi pasukan AS masih bercokol di Irak.

Kadhimi baru dua bulan menjabat sebagai perdana menteri setelah tiga calon lain sebelumnya gagal. Hubungan Kadhimi dengan pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi yang didukung Iran sejak awal memang buruk. Hizbullah Irak, salah satu komponen pasukan relawan, bahkan beberapa kali menuduh Kadhimi bersekongkol dengan pasukan AS ketika dia masih menjabat sebagai kepala intelijen.

Menurut Hizbullah Irak, Kadhimi telah membocorkan informasi mengenai pergerakan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Qasem Soleimani, dan wakil ketua al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, hingga kemudian dua tokoh pejuang ini gugur diserang drone AS di dekat Bandara Baghdad pada 3 Januari 2020.

Pasukan kontra-terorisme Irak yang kini diandalkan Kadhimi untuk memerangi apa yang disebutnya “anarkisme persenjataan” dan membubarkan milisi yang disebutnya “berada di luar koridor hukum dan menghegemoni negara” telah dilatih oleh para pakar militer AS untuk menjalankan misi Kadhimi itu, misi yang akan mematik konfrontasi dengan al-Hashd al-Shaabi yang terdiri atas beberapa faksi pejuang.

Undangan pemerintah AS kepada Kadhimi agar berkunjung ke Washington belum pernah diberikan kepada para perdana menteri Irak sebelumnya. Namun, undangan itu tampaknya bukan tanpa syarat, melainkan menuntut keberhasilan Kadhimi menggulung al-Hashd al-Shaabi, melucuti senjata “ilegal” mereka, dan menghentikan serangan roket ke Kedubes AS dan tempat-tempat penampungan pasukan AS di Irak.

Syarat itu jelas sulit, kalau bukan mustahil, dapat dipenuhi Kadhimi sehingga kunjungan itu bisa jadi tertunda atau bahkan batal, ketika ketegangan masih mewarnai situasi Irak dan terlebih lagi hubungan antara AS dan Iran.

Kadhimi telah menjadi sekutu AS di tengah konflik perebutan pengaruh antara Iran dan AS di Irak. AS menjanjikan kepadanya bantuan dana, politik, dan militer yang akan cair jika dia dapat mengamankan kepentingan Washington di Irak.

Di pihak lain, al-Hashd al-Shaabi adalah relawan yang telah dilatih dan dukung habis-habisan oleh Iran hingga mereka menjadi kelompok pejuang yang tangguh dalam perang dan penumpasan kelompok teroris ISIS. Al-Hashd al-Shaabi bahkan menjadi kekuatan militer berperforma tinggi yang menyerupai kelompok Hizbullah di Libanon, Ansarullah di Yaman, Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza, serta menjadi bagian dari Poros Resistensi yang telah lama eksis di kawasan Timur Tengah.

AS telah menyulitkan misi Kadhimi ketika negara adidaya itu bersikukuh mempertahankan dan bahkan memperkuat kebercokolan pasukannya di Irak dengan dalih perang melawan terorisme. AS telah membenturkan Kadhimi pada faksi-faksi Al-Hashd al-Shaabi yang telah bersumpah untuk terus mengawal keputusan parlemen Irak yang menuntut penarikan semua pasukan asing dari Irak secepatnya.

Baca: Tegang, Pasukan Irak Bersama Pasukan AS Tangkap Tiga Tokoh Kataeb Hizbullah

Karena itu, AS-lah yang bertanggungjawab jika suatu saat nanti terjadi perang saudara Irak seperti yang terjadi di Libya, Yaman, dan hingga batas tertentu Suriah. Dan bisa jadi memang kondisi demikianlah yang menjadi tujuan utama keberadaan pasukan AS di lebih dari 12 pangkalan militer di Irak, apalagi kebangkitan Irak sebagai negara yang berpengaruh di kawasan merupakan pelanggaran terhadap rambu AS dan Israel.

Baca: AS Bantah Pasukannya Terlibat Penangkapan Para Pemimpin Hizbullah Irak

AS telah kehilangan lebih dari US$ 6 triliun dalam mengobarkan perang di Irak sebelum kemudian mendudukinya. Karena itu, AS lantas ingin tetap bertahan di Irak melalui upaya yang hanya akan sia-sia belaka untuk mengembalikan kerugiannya dalam jumlah fantastis itu serta menguasai pendapatan perminyakan Irak dengan berbagai cara.

Sebagai negara berdaulat, Irak memang sudah seharusnya lepas dari pengaruh negara manapun, termasuk Iran. Namun, pengaruh Iran tak akan bisa dicegah sebelum berakhirnya pengaruh AS, sebab semua orang mengetahui fakta sejarah bahwa AS-lah menjadi sumber malapetaka di Irak sejak dulu sampai sekarang, sedangkan Iran selama ini hanya berperan membantu orang-orang Irak mengatasi malapetaka itu. (mm/raialyoum)

DISKUSI: