Apa yang Diperoleh Arab dari Normalisasi dengan Israel, Laba atau Bala?

0
186

LiputanIslam.com-UEA dan Bahrain berupaya menjustifikasi normalisasi hubungan dengan Israel melalui hiruk pikuk di media. Dalam propaganda ini, mereka mengesankan akan memperoleh tiga keuntungan dari normalisasi.

Keuntungan pertama adalah menarik investasi milyaran dolar, pertumbuhan ekonomi, dan kerjasama konstruktif dengan Tel Aviv di bidang industri dan pertanian”

Keuntungan kedua adalah kerjasama keamanan antara negara-negara Arab di Teluk Persia dengan Rezim Zionis untuk melawan apa yang disebut mereka dengan “bahaya Iran.” Israel diharapkan hadir dalam setiap konflik yang mungkin terjadi di masa depan.

Keuntungan ketiga adalah menghadapi apa yang disebut sebagai “terorisme Islam.” Jelas bahwa yang dimaksud dengan terorisme Islam di sini adalah Poros Perlawanan. Sebab, sejarah bersaksi bahwa Rezim Zionis selalu mendukung kelompok  teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra. Tel Aviv senantiasa memberikan layanan medis dan bantuan alutsista, serta melindungi mereka.

Namun, semua ini adalah keuntungan-keuntungan delusif yang coba dijejalkan media-media Arab terhadap rakyat negara-negara pelaku normalisasi. Semua ini tidak lain hanyalah khayalan semata para politisi Bahrain dan UEA. Pada hakikatnya, alih-alih mendatangkan keuntungan, normalisasi dengan Israel justru akan memunculkan bencana bagi rezim-rezim Arab.

Bencana pertama adalah mengalirnya milyaran dolar di jalur searah dari Bahrain dan UEA ke pundi-pundi Israel, alih-alih datangnya investasi milyaran dolar. Sebab UEA dan Bahrain, juga negara-negara Arab Teluk lain, hanyalah konsumen. Sedangkan Israel adalah sebuah rezim industri yang terus mencari pasar-pasar baru.

Delusi pembentukan aliansi militer dengan Tel Aviv untuk melawan Iran juga tak kalah menggelikan. Sebab, kelompok-kelompok yang didukung Iran saja sudah sangat merepotkan Rezim Zionis, apalagi jika nanti Tel Aviv mesti berhadapan langsung dengan Teheran.

Dalam hal ini, ada poin-poin kecil yang luput dari perhatian para penguasa negara-negara Arab Teluk. Jika kelak perang dimulai, penyesalan tidak akan ada artinya. Terkait perang terhadap Poros Perlawanan, bisa dikatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan Rezim Zionis adalah mengadu rezim-rezim Arab ini dengan rakyat mereka.

Mana ada rakyat Arab yang bersedia memerangi Poros Perlawanan? Pada hakikatnya, Israel berharap agar rezim-rezim Arab memberikan dukungan finansial dan logistik kepadanya untuk memerangi Poros Perlawanan. Namun jika rezim-rezim Arab melakukan ini, kelak mereka akan diusir oleh rakyat mereka sendiri. Ketika hari itu tiba, Israel-lah yang pertama kali akan meninggalkan rezim-rezim Arab tersebut. (af/alalam)

Baca Juga:

Ansharullah: UEA dan Bahrain Sudah Lama Berhubungan dengan Israel

Para Pemimpin Palestina Sebut Perjanjian UEA dan Bahrain dengan Israel Sia-Sia Belaka

DISKUSI: