Antara Bahasa Akal, Bahasa Nizar, dan Bahasa Aparat Keamanan PNA

0
722

LiputanIslam.com-Pekan yang telah berlalu di Tepi Barat sama sekali tidak sama dengan pekan-pekan sebelumnya. Atmosfer Palestina telah berubah, begitu juga jalan-jalannya. Tampaknya Palestina sedang mendekati perang saudara secara bertahap, yang tentu akan menambah derita penduduknya.

Tiada keraguan bahwa pembunuhan Nizar Banat telah menimbulkan syok besar di seluruh Palestina, bahkan memengaruhi mereka yang tidak menyepakati pandangan-pandangannya. Sebab orang-orang Palestina tidak terbiasa menggunakan teror. Sepanjang sejarah perlawanan dan perang versus Israel, mereka tidak pernah menggunakan hal seperti ini.

Kami tidak akan menganalisis apa yang terjadi atas Nizar dan bagaimana ia tewas. Namun kita harus memerhatikan dampak kejadian ini atas penduduk Palestina, serta memahami guncangan yang terjadi di negeri itu akibat teror atas Nizar.

Lidah Nizar sangat tajam dan berani dalam mengkritisi PNA dan korupsi yang melandanya selama beberapa tahun terakhir. Dia juga mengkritik tajam pihak-pihak nonpemerintah. Namun karena oposisi selalu dilakukan terhadap pihak penguasa, kritik utama Nizar juga mengarah kepada PNA.

Bahasa Nizar ibarat sengatan listrik yang disetrumkan kepada pasien sekarat untuk mengaktifkan detak jantungnya. Di pihak lain, ada bahasa aparat keamanan PNA yang berujung kepada krisis. Aparat keamanan ini menyikapi berbagai masalah sedemikian rupa, seolah mereka tidak punya kemampuan berpikir. Mereka menganggap tiap seruan lantang sebagai ancaman terhadap eksistensi kekuasaan.

Reaksi aparat keamanan pun sangat kejam, yang berdampak buruk atas instansi keamanan dan politik Palestina. Sebab tempat-tempat rujukan politik tidak mengkaji kejadian-kejadian ini secara cerdas, yang akhirnya memperparah krisis. Semestinya perangkat politik tidak bungkam dan sebagai gantinya, mengakui kesalahan aparat keamanan dan mengadili mereka, serta berbicara dengan rakyat soal pembunuhan Nizar.

Sayangnya, bahasa akal sudah lenyap dari sistem politik Palestina. Cara aparat keamanan dalam menyikapi media juga telah memperburuk kondisi. Sikap ini praktis telah mengubah media menjadi penggerak tak langsung yang membuat rakyat menentang Pemerintah.

Saat ini, bahasa akal harus jadi pemenang. Jika tidak, Palestina akan menanggung kerugian yang amat besar.

PNA harus menyadari bahwa pertama, periode pasca Nizar tidak sama seperti sebelumnya. Kedua, PNA kali ini harus berpikir untuk mengatasi problem dan tidak menantikannya dari pihak lain.

Hari ini, apa yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis adalah seruan untuk mengadakan pemilu legislatif, pilpres, dan Dewan Nasional demi mengembalikan kepercayaan rakyat kepada Pemerintah. Tentu sebelum itu, PNA harus menemukan para pelaku teror Nizar dan menjatuhkan hukuman nyata, bukan sandiwara, atas mereka. Hal ini akan membuktikan kepada rakyat bahwa sistem peradilan bersikap netral dan sistem ini bisa membela kebenaran tanpa memihak Pemerintah dan sikapnya dalam masalah ini.

Inilah bahasa akal yang mesti digunakan PNA, jika ia ingin membuang amarah publik, yang disalahgunakan oleh banyak pihak dan diubah identitasnya. (af/alalam)

Baca Juga:

Level Bahasa Inggris Menlu Israel Dianggap Setara Kelas SMP

PNA Dianggap Bertanggung Jawab atas Tewasnya Aktivis Palestina

DISKUSI: