Sandiwara Persiteruan Menlu Israel dan Mantan Kepala Intelijen Arab Saudi

0
393

LiputanIslam.com –   Forum keamanan Dialog Manama yang diselenggarakan di ibu kota Bahrain diwarnai pertengkaran yang tajam dan mendadak antara Menteri Luar Negeri Rezim Zionis Israel Gabi Ashkenazi dan mantan kepala intelijen Saudi, Pangeran Turki Al-Faisal.

Pertengkaran itu tak pelak menjadi pemandangan yang aneh dan menyita perhatian publik karena sangat kontras dengan kebijakan Arab Saudi, negara yang justru menjadi eksponen gerakan normalisasi hubungan Arab-Israel.

Dalam pidato pada Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Bahrain, Al-Faisal yang pernah memimpin intelijen Saudi selama lebih dari dua dekade mengatakan bahwa Israel sedang berlagak sebagai negara kecil yang eksistensinya terancam dan terkepung oleh para pembunuh haus darah yang ingin melenyapkannya.

Al-Faisal juga menyebut Israel berlagak serius berbicara tentang hasratnya menjalin hubungan persahabatan dengan Riyadh, padahal munafik belaka, dan masih getol menduduki tanah Palestina, membom negara-negara Arab, memiliki persenjataan nuklir, dan  “mengirimkan anjing penyerangnya di media internasional untuk menyerang Arab Saudi.”

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi yang berbicara segera setelah pidato Al-Faisal praktis beraksi sengit. Dia mengatakan bahwa pernyataan Al-Faisal itu sandiwara belaka dan juga tidak realistis karena “tidak mencerminkan semangat dan perubahan yang terjadi di Timur Tengah”. Eshkenazi mengacu pada terjadinya gelombang perjanjian normalisasi hubungan negaranya dengan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Sudan yang diam-diam disponsori oleh Arab Saudi.

Para pengamat memandang pernyataan Turki Al-Faisal erat kaitannya dengan upaya Saudi untuk meredakan  kehebohan yang terjadi belakangan ini di Timur Tengah terkait dengan laporan-laporan mengenai kunjungan terselubung Perdana Menteri Israel Binyamin Netanyahu ke kota Neom, Arab Saudi, dan pertemuannya saat itu dengan Putra Mahkota Saudi Muhamed bin Salman (MbS).

Upaya demikian dilakukan Saudi sedapat mungkin setelah pihak keluarga Kerajaan Saudi mengalami sebentuk kepanikan dan ketakutan terhadap kekecewaan rakyat, serta dari reaksi kecaman publik Arab dan Islam serta implikasinya terhadap masa depan MbS selaku putra mahkota Saudi.

Pada kenyataannya, sikap Arab Saudi terhadap normalisasi hubungan Arab-Israel sudah diketahui publik dan bahkan jelas bagi semua orang, di mana yang terbaru di antaranya ialah statemen Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan yang membenarkan tidak adanya keberatan Riyadh terhadap normalisasi. Ketika mengikuti Forum Dialog Mediterania di Roma dia mengatakan, “Kami selalu mendukung segala bentuk normalisasi.”

Alhasil, paradigma Riyadh tentang Israel telah berevolusi dari yang semula memandang rezim penjajah Palestina itu sebagai entitas non-musuh menjadi entitas sekutu, mitra dalam kepentingan, dan mitra dalam nasib.

Karena itu, Saudi berupaya membuka jalan bagi proses normalisasi sembari menerapkan penahapan dalam publikasi berita seputar itu sebagai persiapan penandatanganan kesepakatan untuk bergabung dengan dua sekutunya, UEA dan Bahrain.

Seperti diungkap oleh surat kabar Inggris The Economist, pada dasarnya justru ada kepuasan di Riyadh dan Tel Aviv setelah media Israel membocorkan berita pertemuan segitiga MbS, Netanyahu, dan Pompeo yang diadakan secara diam-diam di Neom.

Dengan demikian, pernyataan-pernyataan panas Turki Al-Faisal tentang Israel tak lain hanyalah manuver belaka untuk meringankan implikasi keinginan Saudi menormalisasi hubungan dengan Israel manaka MbS berharap Netanyahu dapat melindunginya dari kemungkinan akan bermasalah dengan AS setelah Gedung Putih nanti ditempati oleh penghuni baru Joe Biden. (mm/alalam)

Baca juga:

Kesal Karena Israel Tak Merahasiakan, Riyadh Batalkan Kunjungan Direktur Mossad ke Saudi

Mantan Kepala Intelijen Saudi Nyatakan NegaranyaTak Berencana Normalisasi Hubungan dengan Israel

DISKUSI: