[Video]10 Alasan Mengapa Ansarullah Menolak Usulan Damai Arab Saudi

0
2200

LiputanIslam.com –   Arab Saudi melalui menteri luar negerinya pada hari Senin 22 Maret 2021 mengejutkan dunia ketika mengumumkan prakarsa damai untuk Perang Yaman secara sepihak, yang kemudian ditolak oleh gerakan Ansarullah dan sekutunya, dan lalu pertempuran justru semakin sengit antara kedua pihak bahkan sebelum usia prakarsa itu genap 24 jam.

Memang, prakarsa itu mengandung beberapa konsensi yang cukup signifikan dari Saudi semisal pembukaan kembali Bandara Sanaa secara terbatas dan pencabutan bersyarat atas blokade Pelabuhan Hudaydah, namun prakarsa bersyarat dan berfokus pada aspek kemanusiaan itu diajukan di waktu yang salah, lebih merupakan upaya menekan tingkat kerugian, dan pengakuan terhadap kegagalan invasi militer Saudi dan sekutunya.

Setidaknya ada 10 faktor di balik penolakan Ansarullah terhadap prakarsa yang diajukan Saudi dengan koordinasi ataupun tekanan dari pemerintah baru AS tersebut;

Pertama, intensitas gerakan kubu Sanaa, yaitu tentara Yaman dan pasukan Ansarullah, yang meski lambat namun pasti mendekati kota Ma’rib. Gerakan maju itu lambat akibat gencarnya serangan udara dan besarnya pengerahan pasukan dan persenjataan kubu Saudi, namun tak dapat dibendung dengan ajakan negoisasi dan gencatan senjata.  Negosiasi hanya akan diterima kubu Sanaa setelah mereka berhasil merebut kota bersejarah  yang kebetulan juga sangat kaya cadangan migas tersebut.

Kedua, rasa percaya diri pihak Saudi sudah jauh menyurut, sementara retorika Riyadh mengenai pembukaan bersyarat dan terbatas Bandara Sanaa mengisyaratkan kontinyuitas dominasi mereka atasnya, yang berarti bahwa mereka masih dapat menutupnya lagi sewaktu-waktu sebagai alat tekan jika perundingan membentur jalan buntu.

Ketiga, jaminan internasional ternyata tak berharga sama sekali. Izin yang dirilis PBB di Djibouti untuk masuknya kapal ke Pelabuhan Hudaydah sebagian besar tak diindahkan sama sekali oleh kubu Saudi. Dewasa ini ada 14 kapal yang mangkrak di dekat pelabuhan itu. Belasan kapal pengangkut bahan bakar dan bahan pangan itu masih menunggu “belas kasih” Saudi, meskipun sudah mengantongi izin dari PBB.

Keempat, pengaitan masalah kemanusiaan dengan masalah militer, yang menjadi salah satu elemen utama prakarsa damai Saudi tidaklah relevan di mata Ansarullah. Gerakan ini memandang pencabutan blokade atas bandara dan pelabuhan merupakan hak asasi puluhan juta bangsa Yaman yang harus dipenuhi, sehingga tak boleh dikaitkan dengan urusan perang. Pada kenyataannya, di kebanyakan peperangan, bandara dan pelabuhan laut tetap diperkenankan terbuka.

Kelima, kedaulatan Yaman bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan. Pasukan Saudi, UEA, dan lain-lain mau tidak mau harus angkat kaki dari Yaman, termasuk dari kepulauan Yaman yang mereka duduki.

Keenam, Ansarullah telah menunjukkan kecakapannya dalam mengelola negara di tengah situasi perang yang sudah berlangsung enam tahun. Mereka berhasil menjaga prinsip kesabaran strategis jangka panjang, yang membuat banyak pengamat bercegak kagum. Karena itu, kata seorang pengamat militer Barat, yang dikutip secara anonim oleh Ray al-Youm, merekalah yang kini mengendalikan inisiasi dan aturan main.

Ketujuh, Ansarullah meminta ganti rugi invasi militer koalisi yang dipimpin Saudi. Tokoh Ansarullah Sayid Mohammad Al-Houthi pernah mengajukan dua pasal yang satu di antaranya menuntut Saudi membayar ganti rugi dengan memenuhi gaji orang-orang Yaman selama 10 tahun ke depan, dan satu pasal lainnya menuntut Saudi menanggung biaya rekonstruksi Yaman, selain seluruh pasukan asing harus angkat kaki dari Yaman. Dua pasal itu ditolak oleh Saudi.

Kedelapan, prakarsa damai Saudi sama sekali tak menyinggung soal cadangan migas yang melimpah di kawasan Ma’rib. Ansarullah menuntut pengelolaan yang adil agar pendapatan yang akan diperoleh darinya dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa negara ini.

Kesembilan, terjadinya perubahan siginifan dalam perimbangan kekuatan militer di lapangan selama dua tahun terakhir perang Yaman. Perubahan itu menguntungkan pihak Ansarullah dan sekutunya. Kubu Sanaa berhasil menerapkan prinsip “pukulan dibalas pukulan”, rudal dibalas rudal.

Kesepuluh, luka Saudi akibat perang semakin menganga setelah setelah kubu Sanaa semakin tegar dan gencar melesatkan rudal balistik dan drone bermuatan bom ke berbagai sasaran militer dan infrastruktur ekonomi Saudi di Riyadh, Jeddah, Khamis Mushait, Abha, Jizan, Dammam, dan Ras Tanura.

Alhasil, Yaman sekarang bukan lagi sasaran empuk bagi operasi militer bersandi “Badai Mematikan” yang dilancarkan Saudi dan sekutunya sejak enam enam tahun silam.  Yaman sekarang bahkan sudah menjadi bagian yang bahkan mungkin terkuat dari sebuah aliansi yang bernama “Mihwar al-Muqawamah” (Poros Resistensi), yang dirintis Iran untuk melawan hegemoni asing di Timur Tengah, termasuk Zionis Israel. (mm/raialyoum)

 

Baca juga:

Ansarullah Mengaku Tak Menerima Usulan Damai dari Saudi

[Video]: Detik-Detik Penembak Jatuhan Drone MQ-9 Reaper Buatan AS di Yaman

DISKUSI: