Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Dari Redaksi

Refleksi Pemilu (1): Kebijakan Versus Ketololan

Published 07/04/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

politics1Otong Sulaeman

Sejak memasuki zaman reformasi, bangsa Indonesia memiliki ruang yang lebih luas untuk memberikan penilaian secara langsung terhadap kinerja pihak yang sudah mereka pilih dalam even pemilu. Berbagai survei secara berkala digelar untuk memberikan gambaran perkembangan penilaian masyarakat terhadap kinerja parlemen dan pemerintah.

Modus yang muncul hampir selalu sama: tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja kedua lembaga itu selalu mengalami trend penurunan, bahkan penukikan yang sangat tajam. Sebagai yang terpilih, presiden/wapres dan anggota parlemen tentulah secara legal-formal disebut sebagai pihak yang paling dikehendaki rakyat. Kapan itu? Pada saat berlangsungnya pemilu. Pada moment pemilu, merekalah yang memang dipilih atau dikehendaki oleh rakyat. Tapi, lihatlah hasil survei setahun setelah pemilu. Pastilah terjadi degradasi kepuasan dan kepercayaan. Makin lama, tingkat kepuasan dan kepercayaan itu semakin menurun.

Jika survei-survei itu dianggap sebagai “miniatur” dari sebuah pemilu, bisa diambil kesimpulan bahwa model pilihan rakyat itu senantiasa berubah. Model perubahan ini bisa disimulasikan sebagai berikut. Pada pemilu tahun 2009 lalu seseorang memilih caleg A dari partai B, dan ia juga memilih capres/cawapres C. Kebetulan, A dan pasangan C memang menjadi legislator dan presiden/wapres terpilih. Tapi, setahun berikutnya, ia merasa kecewa terhadap semua pilihannya itu.
Ketika disurvei, ia mengatakan tidak percaya lagi kepada caleg A maupun pasangan C.

Berbagai survei juga menunjukkan trend degradasi kepercayaan dan kepuasaan itu terjadi secara massif. Jumlah orang yang tidak puas dengan pilihannya itu sangat banyak. Artinya, pilihan rakyat pada pemilu itu bersifat sangat sementara, yaitu hanya pada moment pemilu. Jika pemilu diadakan setiap tahun, hampir bisa dipastikan bahwa komposisi sebagian besar anggota parlemen akan berubah setiap tahun. Hal yang sama juga terjadi kemungkinan besar berlaku pada jabatan presiden dan wakil presiden.

Tentu saja, dengan pertimbangan efektivitas kinerja pemerintahan dan parlemen, mustahil mengganti presiden/wapres dan juga anggota parlemen setiap tahun, meskipun rakyat menghendaki demikian. Maka, menjadi tugas rakyatlah untuk memiliki kesadaran bahwa pilihan mereka di satu hari pemilu itu secara konstitusional dianggap sebagai pilihan untuk jangka waktu lima tahun. Jika besok-lusa mereka menyesal dengan pilihannya itu, tidak ada ruang untuk menebus kesalahan pilihan. Sekali terperosok ke dalam lubang yang salah, ia akan masuk ke dalam kubangan dan terpenjara di dalamnya. Tunggulah sampai lima tahun lagi, ketika ia diberi izin untuk keluar dari lubang itu dan mencari jalan yang benar.

Kita tentu ingin disebut sebagai bangsa yang bijak. Bangsa yang bijak adalah kumpulan dari orang-orang bijak. Orang yang bijak tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali. Kalau sampai itu yang terjadi, orang itu akan disebut bodoh. Jika terperosoknya sampai berkali-kali, itu namanya ketololan. Pemilu legislatif sudah di depan mata. Ini adalah fase lain dari perjalanan bangsa ini. Titik di tanggal 9 April akan titik krusial dan ujian, apakah kita ini bangsa yang bijak ataukah sebaliknya. Lebih dari segalanya, ini adalah sabda Nabi: “Al-Mu’minu laa yaqa’u fil hufrati marratain –Seorang mukmin tidak boleh terjatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.”(Editorial/LiputanIslam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Editorial

Zionis Israel Sedang Tidak Baik-Baik Saja

By Farid
Editorial

Rujuknya Iran dengan Arab Saudi, Tamparan bagi AS

By Farid
Editorial

Berdamai dengan Zionis Israel Adalah Delusi Konyol

By Farid
Dari Redaksi

Urusan Palestina, Jangan Pernah Berharap kepada Lembaga ‘Banci’ PBB

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account